Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 11 : Pinjam Uang


__ADS_3

Episode sebelumnya...


"Ah soal biaya, aku akan meminta Deni untuk membayarnya. " Lirih Livia, tersenyum kecil memikirkan sebentar lagi ia akan bebas kembali.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


Malamnya, Deni terburu-buru pergi ke rumah Livia, kemarin seharusnya orang tuanya sudah datang untuk melamar gadis itu, namun karena Livia belum menyetujui niat baik Deni, mau tidak mau Deni harus memberi pengertian kepada keluarganya untuk mengundur acara lamaran.


Deni yang baru sampai di depan pintu rumah Livia mengatur nafasnya terlebih dahulu, sejak pagi tadi sebenarnya Livia sudah menelponnya dan menyuruhnya untuk datang, namun karena sepulang sekolah Deni harus mengikuti les di tempat lain terlebih dahulu sehingga malam hari ini baru laki-laki itu punya kesempatan.


Baru saja Deni akan mengetuk pintu rumah gadis itu, pintunya sudah terbuka sendiri. Membuat Deni sedikit terkejut.


"DENIIII." Teriak Livia ekspresi wajahnya terlihat berseri-seri.


"Livia?. " Deni sedikit heran, karena biasanya Livia akan mencak-mencak dan mengomelinya karena datang terlambat.


"Ayo masuk. . " Ajak Livia.


"Aku masuk yah. " Ujar Deni sopan.


Ivia kemudian mengarahkan Deni untuk duduk di sofa sementara gadis itu menghilang masuk ke dalam dapur.


Deni memperhatikan rumah Livia yang sepi, hal yang wajar karena orang tua Livia sebenarnya punya usaha yang tidak bisa terlalu lama di tinggalkan.


Orang tua Livia mempunyai usaha kain di kota lain dan sekali-kali mereka akan pergi untuk mengecek pegawainya.


"Nih minum dulu, Deni. " Ujar Livia membawa segelaa teh hangat.


Deni mengernyitkan wajahnya, merasa heran dengan perubahan sikap Livia.


"Kenapa kamu gak suruh bibi aja? Kamu udah gak sakit? Jangan capek-capek Livia. " Cecar Deni penuh perhatian kepada Livia.


"Gapapa, Bibi lagi istirahat seharian udah capek ngurusin aku. " Balas Livia. Deni semakin merasa ada yang aneh dengan gadis yang basaianya sangat pemarah itu.


"Liviaaa." Panggil Deni, menatap lurus ke arah wajah Livia.


"Kenapa Deni? Minum dong tehnya aku udah capek-capek tau bikinin kamu teh itu. " Tutur Livia.


Deni segera menyeruput teh tersebut. Rasanya hambar, namun karena tidak ingin membuat Livia kecewa, Deni memperlihatkan senyim terbaiknya.


"Gimana rasanya?. " Tanya Livia antusias sekaligus penasaran, ini pertama kalinya ia membuat minuman untuk orang lain selama 17 tahun hidupnya.


"Hehehe enak Livia. " Balas Deni, sedikit meringis. "


"Iya dong, manis dan mana coba sama aku?. "Tanya Livia dengan nada manja.

__ADS_1


" Manisan kamu dong. " Jawab Deni.


"Ah bisa aja kamu, . " Livia duduk di samping Deni.


"Livia, kamu kenapa?. " Tanya Deni, melihat tingkah Livia yang berubah menjadi sangat ramah kepadanya, membuat Deni berpikir sepertinya Livia sedang kesambet sesuatu.


"Aku kenapa? Aku gak kenapa-napa kok biasa aja. " Balas Livia.


"Hmm bagus deh, jadi kamu nelpon seharian mau ngomong apa Livia?. " Tanya Deni lagi.


Livia menggigit bibir bawahnya.


"Hmmm." Gumam Livia, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk di sampaikan kepada Deni.


"Hmmm apa?. " Tanya Deni sekali lagi.


"Kamu mau makan sesuatu? Atau mau di beliin sesuatu?. "


Livia menggelengkan kepalanya.


"Terus?. "


"Aku mau pinjam duit kamu boleh gak?. "Ukar Livia kemudian.


Deni yang mendengar itu sontak menatap wajah Livia, menerka-nerka ekspresi wajah Livia.


" Kamu bercanda?. "


"Berapa emangnya?. "


"10 juta. "


"Hah?. " Deni sedikit terkejut mendengar nominalnya.


"Kenapa? Itu dikit doang kok buat kamu! Masak kamu gak ada sih duit segitu. " Livia merasa sedikit kesal melihat tanggapan Deni.


"10 juta buat apa Livia? Aku emang ada tapi itu buat simpanan sampai 2 bulan ke depan. " Ujar Deni.


"Pelit banget sih, aku kan bilang minjem, bukan mau minta!. " Tutur Livia.


"Iya, kalaupun kamu minta juga gak apa-apa Livia, tapi buat apa?. " Deni merasa curiga dengan gelagat Livia yang tiba-tiba saja meminta uang dengan jumlah yang lumayan banyak.


"Buat gugurin bayi ini. " Jelas Livia.


"Hah?. " Deni kembali terkejut mendengar Livia akan menggugurkan kandungannya.


"Aku bakalan balikin kok, bulan depan langsung aku bayar lunas sama kamu, aku minjem nya cuman buat bulan ini aja Deni, kenapa sih ribet banget!. " Omel Livia.

__ADS_1


Ternyata gadis itu bersikap manis kepada Deni karena ingin meminjam uang untuk melakukan aborsi.


"Gila ya kamu!. " Ujar Deni.


"Gila kenapa?. "


"Itu anak kamu sendiri loh, kamu tega mau bunuh anak kamu sendiri?. " Cecar Deni.


"Loh emang kenapa? Ini anak, anak aku juga, bukannya kamu harusnya senang kalau aku ngegugurin anak ini, kamu nggak mesti tanggung jawab dan aku bisa bebas ngelanjutin hari-hari aku, Deni. "


"Itu emang bukan anak aku Livia tapi aku tulus mau tanggung jawab, karena aku cinta sama kamu! Ngegugurin kandungannya gak bakalan bikin kamu bebas Liv, yangada kami bakalan nyesal seumur hidup!. " Balas Deni, tidak setuju dengan pendapat Livia.


"Arrggghhh sialan kamu Deni, udahlah pulang aja sana, kalau gak mau ngasih bilang aja, dasar pelit, sialan!. " Umpat Livia, sifat aslinya keluar lagi.


"Livia, sadar dong apa yang bakalan kamu lakuin itu salah, bukan tentang uangnya tapi anak yang ada di dalam perut kamu itu juga manusia Livia, sama kayak kamu, sama kayak aku, kayak kita! Dia juga pasti mau hidup!. " Cecar Deni ia tidak mengerti dengan pemikiran sempit Livia.


"Kamu pikir aku mau dia ada di dalam perut aku? Aku gak mau dia ada di dunia ini! Aku benci, benci sama keadaan aku sekarang?. " Bentak Livia menjambak rambutnya sendiri. Gadis itu merasa prustasi.


"Livia, sadar Liv! Banyak orang di luar sana yang pengen punya anak tapi gak di kasih sama Tuhan, lihat sisi positifnya Livia kamu gak boleh stres sampai bayi itu lahir, kita bakalan besarin dia sama-sama, aku bakalan selalu ada buat support kamu dan besarin bayi itu kayak anak aku sendiri. " Deni terus-terussan mencoba meyakinkan Livia.


Gadis itu merasa sedikit tersentuh mendengar ucapan Deni. Livia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis tersedu-sedu.


"Dunia ini kenapa sih gak adil banget buat aku. " Lirih Livia.


Livia merasa hidupnya tidak berarti, umur 17 tahun yang harusnya ia saat ini sedang menikmati waktunya bersama teman-teman sebayanya, melakukan shoping, Jalan-jalan dan liburan serta perawatan menggunakan uang dari pacar-pacarnya. Namun ia justru harus mengurung diri di dalam rumah menyembunyikan aibnya. Menyembunyikan perutnya yang semakin hari akan semakin membesar.


"Radit SIALAN!. "Batin Livia.


Deni segera memeluk Livia, menenangkan gadis itu.


"Sabar ya Liv, aku janji gak bakalan ninggalin kamu, aku bakalan selalu ada buat jagain kamu. " Ujar Deni, lembut menepuk-nepuk pundak Livia dengan kasih sayang.


Deni tidak pernah berubah, sejak awal saat mengetahui Livia di timpa nasib buruk, Deni langsung datang untuk melihat keadaan Livia dan berjanji akan bertanggung jawab kepada gadis itu apapun yang terjadi, Deni sangat mencintai Livia, namun gadis itu sepertinya belum bisa menerima Deni bahkan hingga hari ini.


Deni tahu betul selama berpacaran dengan Livia, gadis itu hanya menginginkan uangnya namun Deni tidak peduli. Livia adalah segalanya untuknya, ia sudah jatuh cinta pada gadis itu sejak pertama kali bertemu.


Livia yang tadinya menangis seseunggukan hingga tubuhnya ikut bergetar, kini sudah berhenti.


Gadis itu hanya diam, Deni melepaskan pelukannya dan mendapati mata Livia yang sedang terpejam. Gadis itu tertidur.


"Livia?. " Panggil Deni, pelan.


Deni menggoyangkan tubuhnya sedikit namun Livia tetap tertidur. Deni kemudian berinisiatif mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya masuk ke dalam kamar tidurnya.


Setelah memastikan Livia benar-benar dalam posisi yang nyaman, Deni mengecup dahi gadis itu dan menatap wajah polos Livia yang sedang tertidur lelap.


Deni kemuian keluar dari kamar Livia dan pulang ke rumahnya sendiri tanpa berpamitan.

__ADS_1


Bersambung...


Klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian untuk membantu perkembangan author. Terima kasih.


__ADS_2