
Livia menggigit bibir bawahnya dengan gugup, menimbang-nimbang keputusan apa yang harus dirinya ambil.
###
Melihat keraguan pada diri Livia, Deni segera meraih bahu gadis itu, lalu di tatap nya mata orang yang sangat dicintainya itu dalam-dalam.
"Ayo Liv, kamu harus bisa, kalau kamu nggak ngabarin keluarga Radit, semuanya bakalan lebih rumit lagi. " Tegas Deni.
Livia hanya diam saja, namun di tangannya ada ponsel Radit.
Deni segera meraih ponsel itu dari tangan Radit, namun karena ponsel tersebut memiliki kata sandi dengan cepat Deni memutar otaknya.
Deni membuka tempat kartu ponsel Radit lalu mengeluarkan SIM cardnya lalu kemudian SIM card tersebut di pasangkan pada ponselnya.
Beruntung, di dalam SIM card itu benar-benar ada kontak orang tua Radit, Deni segera menghibunginya dan mengabarkan jika Radit saat ini sedang berada di rumah sakit dalam kondisi yang sangat kritis.
Setelah menghubungi keluarga Radit dan memastikan akan ada orang tua Radit yang akan segera datang, Deni memutuskan sambungan teleponnya dan kembali menghampiri Livia.
Gadis itu nampak sangat shock.
"Aku sudah kasih kabar ke orang tua Radit, sebentar lagi mamanya bakalan datang. " Tutur Deni.
__ADS_1
Livia hanya mengangguk lemah.
"Livia, kamu nggak apa-apakan? Atau kamu pulang aja, istirahat di rumah biar aku yang nungguin Radit disini. " Lanjut Deni.
"Pulang? Istirahat? Nggak aku tetap bakalan disini nungguin Radit, setelah apa yang aku lakuin kamu pikir aku bisa istirahat dengan tenang? Yang ada aku bisa gila. " Pekik Livia histeris.
Deni segera meraih tangan Libia untuk menenangkan gadis itu.
"Liv, ini bukan sepenuhnya salah kamu, kamu jangan salahin diri kamu terus-terussan, Radit bakalan baik-baik aja, percaya sama aku. " Tutur Deni.
"Nggak Den, aku pendosa, aku orang jahat, aku pembunuh. " Ujar Livia, tidak dapat membendung tangisnya.
Livia menangis sesenggukan di dalam pelukan Deni, Deni dengan sabar dan penuh perhatian menepuk-neluk punggung Livia untuk menenangkannya.
"Ya udah kalau itu mau kamu, kita bakalan tetap ada disini sama-sama, kamu rileks dulu dan tenangin pikiran kamu. " Balas Deni.
Livia kembali mengangguk pasrah, lalu merebahkan kepalanya di bahu Deni. Tubuhnya terasa sangat lemas namun ini sepertinya belum seberapa.
"Setelah orang tua Radit datang, hidupku kedepannya mungkin nggak bakalan baik-baik aja. " Batin Livia, menerka-nerka isi pikiran orang tua Radit yang saat ini masih sah sebagai mertuanya itu.
Livia sudah agak tenang, hingga setengah jam kemudian orang tua Radit, atau lebih tepatnya Bu Ariana, mama Radit datang dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
Raut wajahnya nya nampak sangat cemas, mengetahui anak laki-lakinya mengalami kecelakaan, sesuai yang dikatakan Deni kepadanya.
Ekspresi wajah Bu Ariana langsung berubah saat melihat Livia dan Deni, ekspresi bertanya-tanya, kebingungan sekaligus marah tercampur menjadi satu.
"Kamu... " Tunjuk Bu Ariana kepada Livia.
Livia yang tadinya sudah agak tenang kini langsung berdiri.
"Mama, aku... "
Ucapan Livia langsung di potong oleh Deni.
"Maaf tante aku bisa jelasin semuanya karena faktor ketidak sengajaan, kecelakaan itu... "
Belum sempat Deni menghabiskan kata-katanya.
"Heh, kamu siapa memangnya!. " Pekik Bu Ariana dengan lantang.
"Semuanya bisa di bicarakan baik-naik, tante. " Balas Deni, memegang erat bahu Livia untuk menenangkan dan menguatkan gadis itu.
"Bicara baik-naik apanya? Kenapa anak saya bisa sampai seperti itu, kalian selingkuh?. " Tuduh Bu Ariana, tatapannya seakan-akan ingin ******* habis Deni dan Livia yang kini sudah berada di hadapannya.
__ADS_1
"Selingkuh? Bukan saya yang selingkuh tapi anak mama, kecelakaan itu terjadi karena Radit yang memaksa Livia untuk bertemu ma, tapi Livia tidak mau. " Jelas gadis itu, suaranya menahan tangis.
Bersambung...