
Episode sebelumnya...
"Sepertinya aku harus segera nikah dan pergi keluar negeri atau tinggal di kota lain sampai aku selesai ngelahirin bayi ini." Lirih Livia.
###
Happy Reading and Enjoy Guys..
Pagi hari di rumah Pak Zul, semua perempuan di rumah itu terlihat sibuk di dapur.
"Bi, ini gimana mesti di tambahin air lagi? Kok itu udah mneggumola aja sih?. " Tanya Livia, gadis itu sedang mengaduk agar-agar di atas api yang menyala kecil.
"Enggak non, itu di aduk aja sampai mendidih nanti kalau udah langsung di taruh di loyang aja. " Ujar Bibi.
"Tapi kok udah ngegumpal gini sih?. " Tanya Livia lagi.
"Makanya non, di aduk terus aja pokoknya kalau udah mendidih langsung di angkat dan di taruh di cetakan loyang ini. " Balas Bibi.
"Aduh Livia, mama kan udah bilang itu kamu serahin aja ke Bibi, kamu iris-iris jagung itu aja buat perkadel, cepetan. " Perintah Mama Livia, pusing melihat anaknya terus-terussan bertanya.
"Mama ih, nggak mau, aku hari ini mau makan makanan yang terbuat dari tangan aku sendiri. " Balas Rania.
"Ya udah deh terserah kamu aja. " Pasrah Mama Livia.
"Ahhh udah mendidih, dorong sini loyang nya bi. " Ujar Livia.
Bibi dengan sigap mendorong loyang cetakan agar-agar ke dekat kompor agar Livia bisa dengan mudah menuangkan agar-agar yang baru di masaknya itu.
"Ini udah bisa langsung di iris-iris gitu?. " Tanya Livia lagi setelah agar-agar nya sudah memenuhi dia loyang.
"Yah belum lah non, mesti di tungguin sampai agar-agar nya dingin dan agak keras kalau kayak gini kan masih cair. " Jelas Bibi.
"Oh gitu, ya udah aku masukin ke dalam kulkas langsung yah biar nanti kalau udah dingin dan keras bisa langsung Livia potong deh. " Ujar Livia bersemangat.
"Nggak boleh di masukkin ke dalam kulkas juga non kalau masih panas, entar kulkasnya gampang rusak kalau di masukin makanan panas kayak gini. " Jelas Bibi lagi, mendengar itu Livia merasa kecewa karena keinginannya untuk menikmati agar-agar buatannya itu tidak bisa segera terlaksana.
"Yah Bibi..." Keluh Rania.
Bu Silvia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anak semata wayangnya itu. Livia memang tidak pernah sana sekali menyentuh bahan makanan yang ada di dapur karena selama ini kebutuhannya selalu tercukupi.
Jika lapar, bisa langsung makan, jika menginginkan sesuatu bisa langsung di beli dari luar. Melihat Livia yang sudah memiliki inisiatif untuk terjun langsung ke dapur adalah sebuah pencapaian baru untuk gadis manja itu.
__ADS_1
"Sabar dong Livia, di dunia ini itu gak ada yang instan loh nak, mie instan aja yang jelas-jelaa ada tulisan instan nya mesti di buka dulu bungkusnya itupun gak bisa lnagsung di nikmatin mesti di seduh dulu pake air panas. " Ujar Mama Livia.
"Lah kalo orang yang makan mie instan nya gak suka mienya di seduh gimana tuh Ma?. " Livia menyela ucapan Mamanya.
"Yah kan tetap aja gak bisa langsung di makan, bungkusnya tetap mesti di buka dulu, setiap hal dalam hidup ini selalu ada prosesnya Livia, walaupun di bungkusnya udah ada kalimat Instan, gak ada yang instan di dunia ini. " Oceh Mama Livia.
"Hmmm, sama dong kayak bayi ini yang butuh sembilan bulan buat lahir. " Ujar Livia Lirih.
Livia memikirkan nasibnya yang harus tinggal dan mengurung diri di rumahnya hingga berbulan-bulan ke depan. Padahal ia sudah sangat tidak sabar untuk pergi ke sekolah dan melabrak semua orang yang sudah bergosip tentangnya.
Memikirkan itu membuat Livia kembali prustasi, padahal ia rencananya ingin mengalihkan pikirannya dari gosip-gosip itu dengan cara ikut memasak pagi ini.
"Arrrhggghh." Raung Livia, tampa sadar.
"Kenapa nak? Kamu ada yang sakit?." Tanya Mama Silvia.
"Ah, hehehe enggak kok ma, Livia nggak sabar aja mau makan agar-agar ini. " Balas Livia mengalihkan pembahasan.
"Ada-ada aja kamu Liv. " Ujar Mama Livia sambil menel hidung anak gadisnya itu.
Livia hanya menanggapinya dengan meringis.
"Eh Pala udah pulang. " Sapa Mama Livia kepada suaminya.
"Iya ma, gimana keadaan kamu nak?. " Ujar Pak Zul berjalan ke arah anaknya.
"Baik kok pa. " Balas Livia.
"Baguslah kamu lagi ngapain itu? ." Tanya Pak Zul sambil tersenyum.
"Agar-agar ehehe." Balas Livia.
"Tau tuh, pagi-pagi banget dia udah bangun katanya mau makan agar-agar, ya udah aku suruh Bibi buat bikinin eh gak mau di makan, ternyata dia mau makan agar-agar buatannya sendiri. " Jelas Mama Livia.
Pak Zul terkekeh pelan mendengar penjelasan Mama Livia.
Drrrttt.. Drrttt.
Ponsel Pak Zul bergetar mengalihkan suasana hangat yang baru saja terjadi.
Pak Zul kemudian berjalan keluar dapur meninggalkan anak dan istrinya untuk mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.
__ADS_1
"Kurang ajar! Jadi kapan orang tua anak itu datang kesini ?. " Suara Pak Herman terdengar sampai ke dalam dapur.
Bu Silvia dan Livia saling bertatapan. Seperti ada kontak batin di antara mereka berdua. Mereka tahu betul siapa orang yang sedang Pak Zul bahas dengan seseorang yang berada di ujung telepon.
"Brengsek, awas aja kalau anak itu berani kabur ke tempat orang tuanya di luar negeri, aku kejar dia dan bakalan kubuat dia mampus. " Umpat Pak Zul.
Livia yang mendengar itu merasakan pergerakan Bayi yang ada di dalam perutnya. Seakan-akan bayi itu merespon ucapan orang-orang yang ada di sekitar Livia.
Livia mengelus-elus perutnya dengan penuh kasih sayang.
"Sabar ya nak, bentar lagi papa kamu bakalan datang kok, kamu gak usah takut itu tadi suara kakek yang lagi marah-marah. " Batin Livia, seolah-olah gadis itu sedang menenangkan bayinya yang masih berada di dalam perut.
"Livia, ini kayaknya udah bisa kamu makan agar-agar nya, udah keras tuh, kamu masuk ke dalam kamar aja ya nak. " Ujar Bu Silvia, takut jika anaknya merasa down jika terus-terussan mendengar pak Zul mengucapkan kalimat-kalimat kasar.
"Iya ma. " Balas Livia, menuruti ucapan mamanya.
Gadis itupun mengambil satu loyang agar-agar nya dan berlari kecil keluar dari dapur menuju ke kamarnya. Pak Zul menghentikan pembicaraannya sebentar karena Livia sedang berjalan melewatinya.
Livia mengerti, hal tersebut adalah salah satu bentuk kasih sayang orang tuanya kepada dirinya.
Setelah memasuki kamarnya, Livia samar-samar masih mendnegar percakapan Papanya yang memerintahkan orang yang ada di ujung telepon itu untuk selalu mengawasi gerak gerik Radit.
Jangan sampai laki-laki itu melakukan sesuatu yang akan merugikan dirinya sendiri, misalnya melarikan diri dari negara ini.
"Huuuuhhh." Livia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Cobaan demi cobaan menghampiri hidupnya.
Livia menyimpan masalahnya seorang diri, tidak ada lagi orang yang bisa ia ajak untuk mengobrol. Biasanya Deni yang akan datang ke rumahnya untuk sekedar menemaninya jalan-jalan namun sekarang laki-laki itu sudah tidak pernah muncul lagi.
"Apa Deni beneran udah nyerah?. " Lirih Livia.
Gadis itu tahu betul, memilih Radit untuk menjadi suaminya adalah pilihan yang salah namun, bayi yang ada di dalam kandungannya itu adalah anak daribRadit, jadi laki-laki itulah yang harus bertanggung jawab.
Lagi pula Livia tidak setega itu membebankan semua tanggung jawab kepada Deni yang dalam hal ini tidak ada sangkut pautnya sama sekali, laki-laki itu hanya di butkana oleh cintanya sendiri.
Livia sadar betul, Deni benar-benar mencintainya, namun Livia juga tahu betul bagaimana perasaannya sendiri kepada laki-laki itu.
Livia tidak pantas untuk laki-laki sebaik Deni. Biarlah laki-laki itu menganggapnya sebagai gadis yang jahat dan tidak punya perasaan.
Bersambung...
Note : klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian untuk membantu perkembangan author. Terima kasih.
__ADS_1