
Padahal bisa saja gadis itu memanggil orang tua Radit untuk membantunya, akan tetapi ada perasaan segan dan tidak enak di dalam benak Livia untuk menyusahkan mereka.
###
"Liv, maafin aku tadi aku udah hampir berhasil bikin susunya, aku malah tambah bikin kamu kerepotan, maafin aku yah Livia, lain kali aku nggak bakalan kayak tadi lagi, tangan aku gemetaran Liv.... " Radit histeris, nampak jelas raut wajah laki-laki itu memperlihatkan rasa bersalah sekaligus kecewa dengan dirinya sendiri.
"Udah nggak apa-apa kok, aku paham dan ngerti, lain kali kamu pasti bisa, aku percaya kok sama kamu. " Ujar Livia mencoba menenangkan suaminya itu.
Livia kemudian menggenggam tangan Radit, untuk meyakinkan laki-laki itu bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Tapi Liv, aku bikin kamu tambah kerepotan, kacanya belum di bersihin biar aku bantuin kamu yah. " Ujar Radit, memelas.
Livia menggeleng.
"Nggak, nggak boleh! Kali ini biar aku yang bersihin semuanya lain kali kalau kamu udah sembuh dan sehat baru kamu yang ngerjain semuanya, oke. " Tutur Livia, ia tidak ingin menyinggung perasaan Radit.
"Tapi... "
"Udah, nggak ada tapi-tapian, katanya mau nurut sama aku, nurut yah biar nanti aku suapin lagi kalau makan, tapi kalau nggak nurut kamu aku biarin makan sendiri. " Ancam Livia dengan nada suara bercanda.
__ADS_1
Radit sontak menggeleng membangunkan bibirnya, seperti anak kecil yang sedang ngambek tidak di beri susu oleh ibunya.
"Aku maunya di suapin. " Ujar Radit, manja.
"Ya udah kalau gitu kamu mesti nurut sama aku, ok. " Balas Livia menjulurkan dua jempol tangannya.
Radit ikut melakukan hal yang sama pertanda keduanya telah bersepakat.
Beberapa waktu kemudian, setelah memberikan air putih kepada Radit dan menaruh teko berisi air di dekat ranjang tidur, Livia beranjak keluar dari dalam kamar untuk membersihkan pecahan gelas kaca tadi.
Setelah semua pekerjaan tambahannya selesai, Livia kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa rusng tamu yang berhadapan langsung dengan Televisi.
Karena perasaan itu tidak kunjung hilang, Livia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar, gadis itu keluar dari Apartementnya setelah memastikan suaminya kembali tertidur.
Livia melewati Apartement orang tua Radit, pintunya tertutup rapat, sepertinya tidak ada orang di dalam sana. Wajar saja, mereka pasti pergi keluar untuk membeli obat dan mengurus berkas-berkas di rumah sakit.
Livia tidak ingin ambil pusing, dirinya dan bayinya juga butuh sedikit refreshing.
Sesampainya di luar gedung Apartement, Livia merasakan hembusan angin langsung meneroa wajahnya, membelai lembut rambutnya yang sengaja tidak di ikat.
__ADS_1
"Ah segarnya. " Desah Livia tanpa sadar.
Pemandangan yang tersaji di hadapannya membuat pikiran Livia jauh lebih fresh dari pada sebelumnya. Ia kemudian duduk di salah satu bangku sembari memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya.
Hingga beberapa saat kemudiankemudian beberapa remaja dengan seram sekolahnya lewat di jalan depan gedung Apartement tempat Livia saat ini.
Pandangan Livia terfokus pada beberapa gadis-gadis remaja yang sepertinya baru saja pulang dari sekolah itu, mereka nampak sangat ceria. Saling nersenda gurau melempar tawa satu sama lain.
Livia membayangkan dirinya berada di posisi gadis-gadis remaja itu, cantik, ceria dan yang paling penting tidak memiliki beban layaknya orang dewasa, seperti yang Livia rasakan saat ini.
"Mereka pasti seumuran denganku. " Gumam Livia.
Perasaan sedih kembali menggelayut di dalam relung hati Livia, hampir saja air matanya menetes, beruntung ia dengan cepat menyadari dan langsung menghapus air mata yang belum sempat menetes itu.
Masa-masa sekolah yang harusnya menyenangkan untuk remaja seusia Livia, namun nasib berkata lain. Dalam hati Livia berjanji akan menjadi orang yang lebih baik di masa depan. Agar anaknya kelak tidak merasakan apa yang Livia rasakan saat ini.
"Ah apa-apaan, kenapa aku malah duduk bersantai disini? Suamiku sedang sakit, harusnya aku nerada di dalam Apartement menemaninya. " Ujar Livia kepada dirinya sendiri.
Livia beranjak dari tempat duduknya lalu menaiki lift untuk kembali ke lantai Apartementnya.
__ADS_1
Bersambung...