
Episode sebelumnya...
Livia tidak pantas untuk laki-laki sebaik Deni. Biarlah laki-laki itu menganggapnya sebagai gadis yang jahat dan tidak punya perasaan.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
"Apa maksud kalian memutuskan untuk membatalkan pertunangan anak saya Deni secara sepihak?. " Ujar Bu Tania, ia tidak habis pikir dengan perlakuan keluarga Oak Zul kepada keluarganya.
"Maaf mba Tania, kami sebenarnya sudah berencana untuk meminta maaf secara langsung kepada mbak, tapi karena waktu dan keadaan yang belum memungkinkan jadi kami belum sempat. " Jelas Bu Silvia.
"Kalian ini seperti menganggap remeh orang lain saja. " Balas Bu Tania.
"Sekali lagi maafkan kesalahan kami. " Ujar Bu Silvia.
Kebetulan sore ini Pak Zul kembali keluar untuk mengurus sesuatu, di rumah ini hanya ada Silvia dan anak gadisnya, Livia.
"Apanya lagi yang perlu di maafkan, kami juga punya harga diri loh, kalian injak-injka harga diri kami apa susahnya berkomunikasi? Atau ada yang kurang? Kalian memangnga butuh berapa?. " Sindir Bu Tania, kesabarannya benar-benar habis jika bukan karena Deni anak semata wayangnya itu, Bu Tania tidak akan mau melihat keluarga Pak Zul ini lagi.
Bu Silvia yang mendengar ucapan Mama Deni sedikit tertegun, ia tidak tau harus mulai dari mana untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Karena yang Bu Tania ketahui selama ini adalah anaknya Deni lah yang menghamili Livia.
"Lalu bagaiamana dengan cucu saya yang di perut anak kamu itu? Kalau tidak segera di nikahkan perutnya akan semakin membesar juga,kami juga akan ikut malu. " Ujar Bu Tania Lagi.
Livia yang sedari tadi hanya diam saja, kemudian angkat bicara.
"Udah tante, stop semua itu bukan kesalahan orang tua saya, itu adalah kesalahan saya! Saya yang batalin pertunangan secara sepihak bukan mereka. " Ujar Livia membelas kedua orang tuanya.
"Livia, kamu diam saja. " Tegur Bu Silvia.
"Udah ma, gapapa biar Livia yang jelasin semuanya. " Tutur Livia.
"Anak yang ada di dalam perut saya ini bukan anaknya Deni, dan bukan cucu tante asal tante tau aja! Saya hamil sama orang lain bukan sama Deni!. " Tegas Livia.
Mama Livia tertegun mendengar penuturan anknya, Mama Deni lebih tertegun lagi. Kecurigaannya selama ini terbukti, Deni hanya di manfaatkan oleh keluarga Livia.
"Hah? Pantas saja! Saya tau anak saya tidak mungkin akan melakukan hal bodoh dan kotor seperti itu, ternyata keluarga kalian lah yang menjebak anak saya!. " Bentak Bu Tania.
"Ah bukan seperti itu Mbak Tania... " Bu Silvia mencoba menengahi.
"Udah Ma, diem aja. " Tegur Livia.
__ADS_1
"Livia udah nak kamu masuk aja ke kamar kamu. " Balas Bu Silvia.
"Enggak, aku bakalan jelasin semuanya sama Mamanya Deni, iya saya sama keluarga saya ini yang memanfaatkan Deni agar dia mau bertanggung jawab dan menjadi papa untuk anak saya, namun dalam prosesnya ternyata orang yang menghamili saya datang dan mau bertanggung jawab! Jadi saya sudah tidak membutuhkan anak tante lagi. "Jelas Livia, ketus.
" Oh seperti itu yah, saya harusnya dari awal sudah menyadari kelicikan kalian! Deni itu anak yang lolos dan lugu tidak mungkin berbuat hal kotor dan menjijikkan seperti yang kamu lakukan itu. " Balas Bu Tania tidak kalah ketus.
Livia menatap tajam ke arahbBu Tania, merasa perempuan setengah baya itu sudah sangat keterlaluan menjudge nya.
"Karena tante udah tau kelicikan keluarga saya, ya udah ngapain tante masih ada disini?. " Usir Livia secara halus.
Bu Tania kemudian beranjak dari tempat duduknya dan melongos pergi meninggalkan rumah Livia tanpa sepatah katapun. Ekspresinya terlihat sangat marah sekaligus kecewa bercampur menjadi satu.
Livia merebahkan tubuhnya di sofa dengan lemas, tidak menyangka semuanya akan serumit ini.
"Livia harusnya tadi kamu bilang aja yang sebenarnya kalau Deni yang minta kita buat ikutin kata dia. " Ujar Bu Silvia.
"Nggak usah biarin aja, biarin mamanya Deni benci sama aku, biar Deni gak muncul lagi ke rumah kita! Aku capek ma! Capek banget!. " Keluh Livia, gadis itu lalu masuk ke dalam pelukan mamanya tanpa sadar air matanya kembali jatuh.
###
Setelah menghadiri panggilan kepala sekolah dan berbincang-bincang akibat dari perkelahian Deni dan Toni beberapa kemarin Bu Tania langsung keluar dari ruangan kepala sekolah tersebut.
Deni mengikuti mamanya dari belakang.
Deni dan Mamanya sekarang sudah berada di dalam mobil. Setelah memukul Toni kemarin dan videonya tersebar Deni benar-benar mendapatkan surat panggilan dari kepala sekolah.
"Maafin Deni ma. " Ujar Deni merasa sangat bersalah.
"Nih surat skorsing kamu, pokoknya selama masa skorsing itu kamu gak boleh ke mana-mana, kecuali keluar sama Mama!. " Tegas Bu Tania.
"Tapi ma.... "
"Nggak ada tapi-tapian, Mama juga udah pergi ke rumah orang tua si Livia sombong itu. " Uajr Bu Tania, kesal mengingat perlakuan Livia kepadanya.
"Maksud Mama?. " Deni bingung.
"Sebelum ke sekolah tadi, Mama singgah di rumahnya pak Zul dan Livia itu udah ceritain semuanya, ternyata benar dugaan Mama selama ini kamu cuman di manfaatin, u tung aja mereka segera membatalkan pertunangan kamu! Kalau enggak, kita tetap bakalan di tipu sama mereka, kamu udah gak usah bohong lagi sama Mama. "
"Mama ke rumahnya Livia?. "
"Anak yang ada di perut ya itu bukan anak kamu kan?. " Cecar Bu Tania.
Deni hanya terdiam.
__ADS_1
"Kamu bilang bisa selesaiin masalah kamu sendiri? Mama gak bakalan biarin kamu bertanggung jawab sama masalah yang harusnya nggak usah kamu urusin ini! Livia itu bukan tanggung jawab kamu, sadar Deni! Berhenti berhubungan sama keluarga itu lagi!. " Tegas Mama Deni, memberikan ultimatum kepada anaknya.
Deni hanya diam saja mendengarkan omelan mamanya sepanjang perjalanan pulang menuju ke rumah mereka.
Percuma juga jika Deni menyela ucapan mamanya yang ada ia akan tambah di omeli. Di tambah lagi Deni baru saja membuat ulah di sekolah, hal yang selama hidupnya tidak pernah ia lakukan. Pasti mamanya saat ini sangat terkejut dengan kelakuannya.
Entah apa yang sudah gadis itu katakan kepada mamanya sehingga membuat, perempuan setengah baya itu sangat kesal.
Setelah mengantsr mamanya Deni berencana akan pergi ke rumah Livia untuk melihat keadaan gadis itu.
Meskipun sudah di larang untuk keluar rumah selama masa skorsing nya berlangsung namun Deni sudah membuat sebuah alasan yang masuk akal di dalam pikirannya dan yang pastinya mamanya akan memberinya izin untuk keluar rumah.
Tidak lama kemudian mobil Deni memasuki halaman rumahnya, setalah memarkirkan berada di parkiran dengan sigap Deni turun duluan dari dalam mobil dan segera berlari membukakan pintu mobil untuk mamanya.
"Sini ma biar aku bantuin bawa tas Mama. " Ukar Deni, biasanya cara ini bisa membuat kemarahan mamanya sedikit mereda.
"Udah gak usah, Mama bawa sendiri aja. " Balas Mama Deni.
"Mama jangan marahin Deni terus dong. " Ujar Deni, dengan nada merayu.
"Pokoknya Mama gak mau tau kamu gak boleh ke mana-mana selama kamu di skorsing, jangan pernah ninggalin rumah ini satu langkah pun, kecuali kalau kamu keluarnya sama Mama baru boleh. " Omel Bu Tania.
"Tapi, boleh gak Ma, Deni keluar bentar buat ngerjain tugas kelompok Deni hari ini soalnya udah terlanjur janji sama teman-tekan Deni tadi, gak enak kalau batalin nya dadakan. " Ujar Deni membuat alasan agar mamanya mau memberinya kesempatan terakhir untuk keluar rumah.
"Halah alasan aja kamu. " Balas Bu Tania, ia kemudian turun dari mobil dan berjalan menuju ke pintu utama rumahnya.
"Aku beneran Ma, nih kalau gak liat chatingan teman-teman aku di grup. " Deni mengejar mamanya dan berusaha memperlihatkan grup chat yang berisi teman kelompoknya.
"Deni, jangan buat alasan biar Mama mau ngasih kamu izin, Mama tau pikiran kamu pasti mau kan nemuin gadis itu. " Cecera Bu Tania.
"Mama, aku beneran loh ini, bakalan aku potoin deh kalau aku udah ada di tempat teman aku nanti. " Ujar Deni terus mencoba meyakinkan mamanya.
Bu Tania menghela nafasnya. Merasa tidak tega melihat anaknya harus memelas seperti ini.
"Ya udah, awas yah kalau kamu pergi ke rumah keluarga itu, jangan anggap Mama ini sebagai Mama kamu lagi!. " Ancam Bu Tania.
"Iya Mama, ya udah yuk masuk ke dalam rumah nanti aku pijitin deh kaki Mama. " Ujar Deni.
Bu Tania memutar bola matanya, malas. Ia sudah dapat memastikan dan tau betul anaknya itu hanya membuat alasan agar bisa bertemu dengan Livia.
"Ini yang terakhir kalinya ya Deni, mama izinin kamu keluar rumah!. " Tegas Bu Tania.
Bersambung...
__ADS_1