Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 24 : 50 Ribu


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Benar saja Livia masih berada di depan gerbang sekolah, sepertinya sedang menunggu seseorang untuk menjemputnya.


###


HAPPY READING AND ENJOY.


"Kemana pacar gadis itu?. " Lirih Deni. Ia merasa bingung karena tadi Livia dan Andra berjalan bersama-sama, namun sekarang gadis itu duduk sendirian di Halte depan gerbang sekolah.


Deni kemudian berjalan menghampiri gadis itu lalu ikut duduk di halte tersebut padahal sebenarnya Deni membawa kendaraan pribadi.


Deni melakukan itu untuk menemani Livia menunggu jemputan nya, meskipun tanpa gadis itu sadari.


"Lama banget sih. " Keluh Livia, sudah berkali-kali gadis itu melihat ke arah jam tangannya.


5 menit berlalu. Jemputan gadis itu belum datang juga.


Deni melirik sebentar ke arah Livia. Gadis itu sudah sibuk menggeledah tasnya mencari-cari sesuatu.


"Aduh mampus deh aku, dompetku kayaknya ketinggalan di tasnya Andra deh tadi. " Lirih Livia.


Deni yang mendengar itu tersenyum kecil. Tidak lama kemudian sebuah mobil berhenti tepat di depan halte.


Livia terlihat sedikit panik melihat ke arah kira dan kanan. Kemudian pengendara mobil itu memanggil ke arah Livia.


"Mbak Livia yah?. " Teriak pengendara mobil tersebut, sepertinya mobil itu di pesan secara online.


"Ah eh i-iya pak tu-tunggu bentar yah. " Ujar Livia gugup, gadis itu kemudian menekan-nekan ponselnya menelpon seseorang namun semenit kemudian orang yang di telponnya tidak kunjung mengangkat panggilan gadis itu.


"aduh gimana nih. " lirih Livia.


"Hei, eh Hai aku boleh minta tolong nggak?. " Ujar Livia berbicara kepada Deni.


Deni yang mendengar itu sedikit terkejut, karena Livia mengajaknya berbicara.


"Ah, Hai? Boleh. " Balas Deni.


"Aku boleh pinjam uangmu 50 ribu gak, soalnya dompet aku ketinggalan di tasnya cowokku, besok pasti bakalan aku ganti kok. " Ujar Livia.


Deni mengernyitkan dahinya, di antara beberapa orang yang duduk di Halte tersebut, Livia memilih dirinya untuk dimintai bantuan.


"Eh kalau nggak boleh ya udah aku minta tolong sama orang lain aja. " Ujar Livia kemudian setelah melihat ekspresi Deni.


"Boleh kok. " Ujar Deni.


"Beneran? Terima kasih banget, kalau gitu mana uangnya?. " Livia menyodorkan tangannya.

__ADS_1


Pip.. Pip...


Klakson mobil taksi online yang Livia pesan kembali berbunyi memberikan kode.


"TUNGGU YAH PAK, BENTAR. " Teriak Livia ke arah supir mobil.


Deni segera mengambil dompetnya dan mengambil pecaham 50 ribu.


"Nih." Deni memberikan satu lembar uang pecahan 50 ribu tersebut kepada Livia.


"Makasih yah, besok pasti bakalan aku ganti, ok. " Tutur Livia.


"Gak usah, ambil aja. " Balas Deni.


"Hah?. " Livia sedikit terkejut namun karena taksi pesanannya sudah memberikan kode berkali-kali Livia tidak terlalu menghiraukan ucapan Deni.


Gadis itu berlalu pergi dengan cepat masuk ke dalam mobil taksi pesanannya nya tersebut.


Deni tersenyum kecil, memperhatikan Livia yang berada di atas mobil, ia menunggu sampai mobil itu benar-benar hilang dari pandangannya, lalu bergegas kembali masuk ke dalam sekolah untuk mengambil kendaraannya sendiri.


Keesokan harinya.


Setelah pembelajaran sekaligus perkenalan pertama di kelas Deni, Laki-laki itu terlihat mencoba berbaur dengan teman-teman sekelasnya.


Hingga suara seseorang mengalihkan perhatian orang-orang yang ada di kelas Deni.


"Permisi...." Teriak seseorang itu dari balik pintu kelas.


Disana berdiri seorang gadis cantik berambut Blonde sambil memperlihatkan senyum manisnya.


Teman sekelas Deni tamoak teroukau melihat gadis itu.


"Wuah Livia... " Teriah salah satu teman kelas Deni.


"Widih, ngapain nih cewek bule ke kelas kita. " Timpal yang lain.


Para cowok-cowok di kelas tersebut jadi heboh, kecuali Deni.


"Hai.. Aku boleh masuk gak?. " Tanya Livia yang masih berdiri di depan pintu.


"Boleh lah, masuk aja. " Ujar teman sekelas Deni.


"Boleh masuk aja, cewek cantik kayak kamu mah gak perlu minta izin lagi. " Timpal yang lain.


Livia tersenyum manis mendengar pujian itu, gadis itupun masuk ke dalam kelas Deni sambil celingak celinguk mencari-cari seseorang.


Semua mata tertuju kepada gadis itu. Kecuali Deni yang memalingkan wajahnya ke arah lain, karena gugup. Pirasatnya mengatakan jika gadis itu datang untuk mencarinya.

__ADS_1


Dan benar saja.


"Hei, yang disana. " Teriak Livia ke arah Deni.


Gadis itu kemudian berjalan ke arah kursi tempat belajar Deni.


"Hai.. " Sapa Livia.


Deni mengangkat kepalanya mentap wajah Livia.


"Cantik sekali. " Batin Deni.


"Hai, aku Livia yang kemarin pinjam uangmu. " Ujar Livia lagi.


Deni tertegun untuk sesaat.


"Eh? Uang, oh yang kemarin? Gak usah di balikin juga gapapa kok. " Ujar Deni.


Livia tersenyum mendengar jawaban Deni, gadis itu kemudian mengeluarkan ponselnya.


"Mana Hpmu?. " Tanya Livia.


Deni yang mendengar itu sedikit bingung namun dengan segera ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memberikannya kepada Livia.


"Buka passwordnya dong, eh btw nama kamu siapa? . " Livia menunjukkan layar ponsel Deni yang terkunci.


"Deni." balas Deni.


Meskipun sedikit kebingungan, Deni tetap mengikuti ucapan Livia u tuk membuka kunci ponselnya.


Livia kemudian mengetikkan sesuatu ke dalam ponsel Deni, sedetik kemudian menggunakan ponsel tersebut untuk berselfie.


Deni yang melihat itu semakin kebingungan, tidak mengerti dengan tingkah gadis yang berada di hadapannya.


"Oke Deni, ini nomor whatsapp aku dan udah aku atur poto kontaknya pake poto aku sendiri, anggap aja ini sebagai gantinya uang kamu kemarin plus kamu bonus poto dari aku, gak usah berterima kasih. " Ujar Livia sambil mengembalikan ponsel Deni dan kembali berlalu pergi dari hadapan Deni.


Gadis itu berjalan cepat keluar dari kelas Deni. Sementara Deni masih melongo melihat kontak yang tertera di layar ponselnya.


"Livia Cantik? . " Lirih Deni.


Semua teman kelas Deni sontak riuh dan menggoda Deni.


"Wuidih, Deni kamu pake pelet apa bisa di kasih kontaknya Livia? Di kasih langsung lagi tanpa perantara? Kenalin aku juga dong sama dikunci. " Ujar Tomas teman sebangku Deni.


Teman-teman sekelasnya Deni yang mayoritas laki-laki kemudian langsung mengerumuni tempat duduk Deni, ada yang menggoda laki-laki itu, ada juga yang iseng ingin meminta nomor Livia juga.


(Flash back Off)

__ADS_1


Dari situlah awal Deni dan Livia saling mengenal meskipun butuh hampir dua tahun untuk Deni benar-benar berani mengajak gadis itu berkencan.


Bersambung...


__ADS_2