Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 6 : Aku Mau bertanggung Jawab


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Livia tidak tahan dengan bau obat yang menusuk indera penciumannya.


###


Happy Reading and enjoy guys..


Dua minggu berlalu, orang tua Livia merasa was-was takut jika terjadi sesuatu kepada anaknya.


"Papa, mama takut, gimana kalau anak kita beneran hamil, kasian Livia. " Silvia merasa sangat iba kepada anak semata wayangnya itu.


"Kita minta peretanggung jawaban anak itu. " Ujar Papa Livia.


"Gimana? Papa udah ketemu sama keluarganya?. "


"Belum, tapi papa udah cari tau keluarga anak itu ada di luar negeri dan orang tuanya udah cerai, anak itu tinggal sendiri disini, awas aja kalau sampai dia gak mau tanggung jawab. " Ujar Papa Livia lagi, sudah dua minggu ini ia berusaha mencari informasi keluarga Radit.


Tidak lama kemudian seorang dokter keluar dari dalam ruangan tempat Livia baru saja selesai di periksa.


"Gimana dokter keadaan anak saya?. " Tanya Mama Livia, khawatir antara siap dan tidak siap mendengarkan penuturan dokter kandungan yang di temui nya hari ini.


"Ini hasilnya, kalian bisa lihat di layar monitor ini. " Dokter itu memperlihatkan hasil pemeriksaannya.


"Apa itu dok? Saya gak ngerti. "


"Anak ibu hamil. " Turut dokter itu.


Mama dan Papa Livia sontak terkejut apa yang mereka khawatirkan benar-benar terjadi.


"Hah? Oh Tuhan, Papa apa yang harus kita lakukan pa hiksssss. " Mama Livia bagaikan tersambar petir di siang hari langsung menangis hiteris memeluk suaminya.


Livia yang berada di dalam ruangan pemeriksaan dan melihat mamanya menangis langsung mengerti apa yang sedang terjadi dengan dirinya.


"Apakah aku benar-benar hamil?. " Lirih Livia sambil memegangi perutnya.


Livia berjalan keluar dari ruang perawatan dokter kandungan itu bersama kedua orang tuanya, Livia nampak sempoyongan untungnya papanya dengan sigap menahan tubuh anaknya itu agar tidak terjatuh.


"Sabar yah nak, mama sama papa pasti akan memastikan orang itu bertanggung jawab. " Tegas Mama Livia.


Livia tidak menjawab ucapan mamanya, ia sendiri tidak tau apa yang harus ia lakukan.


"Ma, aku mau aborsi aja. " Ujar Livia setelah mereka sampai di dalam mobil.


"Aborsi?. " Papa Livia terkejut mendengar ucapan anaknya barusan.

__ADS_1


"Enggak, nggak boleh kamu tau akibat dari aborsi? Kamu bisa kehilangan nyawa kamu sendiri dan juga anak yang ada di dalam kandungan kamu, kita akan sangat berdosa Livia, mama tidak ingin kamu menyesalinya di kemudian hari. " Ujar Mama Livia, tidak setuju dengan pemikiran anaknya barusan.


"Iya Livia, mama sama Papa masih bisa kok bantuin kamu ngurusin bayi itu, bayi itu gak salah apa-apa nak. " Timpal papaLivia yang merasa tidak tega jika bayi yang ada di dalam perut anaknya atau cucunya sendiri itu harus mati sebelum di lahirkan hanya karena keegoisan mereka.


"Tapi, pa, ma, Livia takut..... " Ujar Livia matanya kembali berkaca-kacs memikirkan bayi yang ada di dalam kandungannya.


"Udah sayang gak usah takut, ada mama sama papa di samping kamu. " Mama Livia kembali memeluk anaknya, ia harus nampak kuat agar anak gadisnya itu juga kuat menjalani takdirnya.


###


Livia memandangi dirinya sendiri di dalam cermin. Wajahnya terlihat sangat pucat. Saat ini gadis itu sudah berada di dalam kamarnya.


"Mama harus ngapain?." Livia tanpa sadar mengusap-usap perutnya, berbicara kepada bayi yang ada di dalam kandungannya.


Tok.. Tok.. Tok..


Terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya.


"Livia, mama masuk yah. " Ujar mama Livia sambil mendorong pintu tersebut.


"Mama? Ada apa?. "


"Ada Deni, dia katanya mau ngomong sesuatu sama kamu. " Ucap Mama Livia sambil tersenyum.


"Ngapain dia datang kesini. " Ujar Livia ketus, ia tidak siap untuk bertemu dengan laki-laki itu.


"Aku kan gak minta dia datang kesini, ma. " Ujar Livia lagi.


"Iya, tapikan seenggaknya dia udah datang berkaki-kali loh masak kamu gak nyamperin dia lagi, gak boleh gitu Livia sama orang lain. " Nasihat Mama Livia.


"Ya udah, bentar lagi Livia keluar. " Livia akhirnya mengalah dan mau menemui Deni.


Mama Livia keluar dari kamar Livia di ikuti oleh gadis itu.


Deni terlihat sedang berbincang-bincang dengan papa Livia di ruang tamu. Sederik kemudian ponsel papa Livia berbunyi, mendlandakan ada panggilan yang masuk.


"Papa angkat telepon, dulu yah. " Ujar Papa Livia, pergi ke ruangan lain, sementara Mama Livia membantu mendudukkan gadis itu di sofa ruang tamu, takut anaknya tersandung.


"Mama tinggalin kalian berdua buat ngobrol yah. " Ujar mama Livia meninggalkan dua remaja itu.


Hening.


"Mau ngapain lagi kamu datang kesini? Gak capek yah. " Sinis Livia.


"Livia, aku kesini karena khawatir sama kamu, kok kamu gak mikirin itu sih padahal aku tulus loh ke kamu. " Ucap Deni pelan dan lembut.

__ADS_1


"Gak usah sok khawatir, kamu kesini cuman mau kasih anin aku kan? Gak usah aku gak butuh rasa kasihan dari kamu? Tulus? Tulus apanya orang kamu pasti datang kesini karena ada maunya kan?. " Cecar Livia.


Deni menggelengkan kepalanya.


"Kenapa sih aku selalu salah di mata kamu? Padahal aku kesini karena beneran tulus, aku cinta sama kamu, aku mau bertanggung jawab sama hidup kamu, Livia. " Kini Deni mengutarakan seluruh isi hatinya.


"Bertanggung jawab apanya? Aku gak kenapa-kenapa kok. " Ucap Livia tegas ridak ingin kelihatan lemah di hadapan Deni.


"Aku udah tau, Liv, papa kamu udah ngomong sama aku kalau kamu.. "


"Oh jadi sekarang tugas baru kamu ngepoin aku gitu? Karena kamu udah tau aku hamil kamu mau ngancem aku? Iya?. " Bentak Livia memotong ucapan Deni.


"Bukan gitu Livia. "


"Bukan gitu apanya? Kamu gak Terima aku hamil sama orang lain? Hati kamu sakit kan? Enak rasanya? Hah? Jadi karena kamu sakit hati, sekarang kamu mau ngancem aku gitu?. " Livia terus-terussan mengomeli Deni.


"Livia aku mau bertanggung jawab dan nikahin kamu. " Ujar Deni serius.


"Hah?. " Livia sontak terkejut melihat Deni berbicara serius seperti itu.


"Aku serius Livia. "


"Emangnya kamu punya apa? Uang kamu ada berapa banyak? Berani banget kamu mau bertanggung jawab atas hidup aku. " Livia merasa Deni merendahkan harga dirinya.


Deni prustasi mendengar ucapan Livia yang terus-terussan berfikir negatif kepadanya.


Deni menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ia kehabisan kata-kata di hadapan gadis itu.


"Kenapa? Kamu gak punya kan?. " Livia merendahkan Deni.


"Aku punya!. " Ujar Deni percaya diri.


"Halah, sok-sokan udahlah gak usah datang kesini lagi, aku gak mau ketemu kamu lagi!. "Tegas Livia yang terlihat akan beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Deni.


" Tunggu Livia, aku serius, aku punya aku bakalan bawa orang tua aku kesini, aku bakalan buktiin ke kamu kalau aku benar-benar serius pengen bertanggung jawab, aku benar-benar serius Livia. " Ucap Deni bersungguh-sungguh.


"Terserah, intinya aku nggak mau lihat kamu lagi, aku mau kita putus kamu gak pantas buat aku. " Bentak Livia, kemudian berjalan dengan cepat masuk ke dalam kamarnnya kembali.


Deni menjambak rambutnya sekali lagi, benar-benar merasa prustasi.


Dalam hati Deni juga tidak menyangka dirinya punya keberanian dari mana untuk mengatakan akan bertanggung jawab dan menikahi Livia.


Pe-er Deni kali ini adalah berbicara dan membujuk orang tuanya sendiri agar mau melamar kan Livia untuknya.


Bersambung...

__ADS_1


Klik like vote subscribe dan komentar yah guys.


__ADS_2