Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 49 : Gadis Lain?


__ADS_3

"Hmm ya udah, aku percaya. " Balas Livia meraih kembali gelas susu tersebut dari tangan Radit dan meninggalnya sampai habis.


###


Hari-hari berlalu, hubungan antara Livia dan Radit sudah semakin membaik komunikasi di antara mereka berdua juga sudah tidak seperti dulu lagi.


Bahkan urusan dapur pun, mereka mengerjakannya berdua, sepertinya usaha orang tua Livia untuk pergi keluar kota selama berminggu-minggu akan berhasil membuat pasangan suami istri baru itu akhirnya saling menerima satu sama lain.


Radit juga tidak pernah memaksa Livia lagi untuk melakukan hubungan layaknya suami istri, karena dirinya berniat mengambil hati Livia secara perlahan.


Livia juga perlahan-lahan merasa nyaman, meskipun hanya tinggal berdua di rumah dan harus menyiapkan makanannya sendiri setidaknya ada Radit yang menemaninya mengobrol dan membantunya di dapur.


Pembantu rumah tangga di rumah Livia juga belum kembali, sepertinya orang tuanya memang sengaja membuat gadis itu tinggal berduaan dengan Radit.


Tok... Tok.. Tok...


Terdengar suara ketukan dari pintu utama berkali-kali, Livia yang saat ini sedang sibuk memotong-motong tomat untuk toping nasi gorengnya, nampak kewalahan karena tidak terbiasa memegang pisau dapur.


"Aduhhh, Dit, Radit ada orang tuh di depan. " Ujar Livia kepada Radit yang tengah mengaduk nasi di atas wajan.


"Siapa?. " Tanya Radit.


"Yah mana aku tau, kitakan sama-sama lagi ada di dapur, kamu liat gih aku malas jalan kesana. " Ujar Livia.


"Ya udah kamu aduk nasinya sampe rata sama bumbunya aku ke depan dulu. " Balas Radit.


Livia mengambil alih sodet untuk mengaduk nasi goreng gorengnya yang belum benar-benar menyatu dengan bumbu yang Radit masukkan.


Meskipun sama-sama tidak memiliki skil untuk memasak, namun dengan bantuan gugel Livia dan Radit setidaknya bisa membuat masakan yang gampang seperti nasi goreng ini.


Radit berjalan dengan malas ke arah pintu.

__ADS_1


"Siapa sih malam-malam gini ganggu suami istri lagi berduaan aja. " Omel Radit.


"Awas aja kalau si Deni itu yang datang, langsung ku pukul kepalanya!. " Radit terus mengoceh sampai di depan pintu.


Tok.. Tok.. Tok..


Ketukan pintu kembali terdengar.


"Iya sabar!. " Ujar Radit.


Ceklek


Suara kunci pintu terbuka.


"Siapa.... "


Radit kemudian membuka pintu utama tersebut dan seketika terkejut melihat seorang gadis yang berdiri di depannya saat ini.


Radit tersadar dari rasa terkejutnya dan segera menarik gadis itu menjauh dari pintu rumah.


"Kamu ngapain kesini?. " Pekik Radit.


Gadis berambut panjang yang sengaja di biarkan tergerai dengan make up tipis namun warna lipstiknya terlihat sangat cerah, mampu menggoda setiap laki-laki yang melihatnya.


Gadis itu hanya mengenakan tanktop dan rok mini di atas lutut, menampilkan kulit kakinya yang putih dan bening.


"Aku kangen sama kamu. " Balas gadis itu, manja sambil membusungkan dadanya.


Ingin rasanya Radit segera menjamah dada gadis itu namun, kondisinya sekarang sangat tidak tepat.


"Kamu nggak boleh datang kesini, kamu mau aku dapat masalah, lebih baik sekarang kamu cepat pergi dari sini. " Usir Radit.

__ADS_1


"Aku mau liat kamu bentar aja Dit, mau meluk kamu, emangnya kamu nggak kangen sama aku, aku kangen banget tau. " Ujar gadis itu memeluk tubuh Radit dengan manja.


Radit melepaskan tubuh gadis itu dari tubuhnya dengan sedikit kasar. Namun, gadis itu tidak menyerah tanpa aba-aba langsung mengecup bibir Radit dengan ganas.


Bukannya menghindari kecupan tersebut, Radit justru membalasnya dengan lebih panas. Bibir dan lidah mereka beradu untuk saling memuaskan satu sama lain.


Radit meraih pinggang gadis itu untuk mendekat ke arah tubuhnya. Gadis itu membuka resleting celana Radit, menbebaskan sesuatu yang sudah sangat tegang dari dalam sana.


Radit segera tersadar dan mendorong gadis itu, menjauhinya.


"Sory Sinta, kita nggak bisa ngelakuin ini, ini di rumah istriku, kalau dia sampai mergokin kita bisa mati konyol aku di amuk tetangga, kalau sampai istriku teriak, mending kamu pergi aja!. " Usir Radit lagi, kembali memasukkan barangnya ke dalam celana dan menutup resletingnya.


Gadis bernama Sinta itu nampak kecewa.


"Tapi dit, aku mau kamu sekarang juga, tega banget sih kamu dit bikin aku nanggung gini. " Gosa Sinta lagi.


"Stop, jangan sekarang aku bakalan temuin kamu di tempat lain, kondisinya disni nggak aman, tolong ngertiin aku. " Pinta Radit.


"Ya udah kalau gitu aku tunggu kamu di rumah aku malam ini, nggak adansiaoa-siapa di rumah, kamu temanin aku bobo yah. " Ujar Sinta dengan nada manja dan menggoda.


"Iya aku bakalan kesana, ya udah pergi sana, jangan sampai istri aku ngeliat kamu. " Usir Radit mendorong tubuh gadis itu ke arah pagar.


"Dadah sayang, aku tunggu kamu di rumahku yah, awas kalau nggak datang malam ini, aku bakalan datang kesini lagi besok, sekalian aja kita main di depan istri kamu. " Ujar Sinta dengan nada mengancam.


Radit tidak membalas ucapan gadis itu, ia hanya menggigit bibir bawahnya dan mengedipkan sebelah matanya untuk menenangkan Sinta.


"Tunggu aku di rumahmu. " Ujar Radit kemudian.


"Muuuahh." Sinta melemparkan ciuman jarak jauh sebelum gadis itu benar-benar pergi meninggalkan rumah Livia.


"Siapa orang itu Radit?. " Tanya Livia tiba-tiba saja sudah berada di depan pintu. Membuat Radit seketika panik.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2