Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 34 : Hari Pernikahan


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Gadis itu kembali meyakinkan dirinya, bahwa pilihannya untuk menikah dengan Radit adalah yang terbaik.


###


Hari pernikahan akhirnya tiba.


Setelah sumpah dan jani pernikahan dilaksanakan Livia dan Radit berjalan ke arah panggung yang sudah di dekorasi sedemikian rupa dengan buanga-bunga berwarna merah dan putih.


Livia mengenakan dress berwarna putih dengan panjang yang menutupi seluruh kakinya,eskipun perutnya terasa sesak karena bajunya yang ketat, Livia berusaha membuat dirinya senyaman mungkin.


Sementara para orang tua mengenakan pakaian berwarna merah yang senada.


Seperti perjanjian antara dua keluarga yang sudah di sepakati. Pernikahan Livia dan Radit hanya di hadiri oleh beberapa orang saja.


"Kamu kalau capek duduk aja sana. " Tegur Radit melihat Livia yang sedari tadi krasak krusik di dekatnya.


"Aku mau pipis. " Jawab Livia.


"Ya udah sana pipis. " Ujar Radit lagi.


"Susah, kamu nggak liat gaun ini bikin kaki aku nggak keliatan, aku susah jalan sendiri mana lagi kamar aku jauh banget lagi" Keluh Livia.


"Ya udah sini aku pegangin. " Ujar Radit menawarkan bantuan.


"Ya udah kamu bantu aku pegangin baju ini di belakang, biar aku jalan di depan. " Atur Livia.


Livia dan Radit kemudian beranjak dari tempat mereka saat ini, orang tua Livia terlihat asik berbincang-bincang dengan beberapa orang saksi pernikahan yang datang.


Sementara orang tua Radit sedang menikmati makanan mereka.


"Kalian mau kemana?. " Tanya Bu Ariana.


"Eh, ini aku mau ke kamar aja, capek banget. " Jawab Livia.

__ADS_1


"Oh, ya udah hati-hati Dit, megangin gaunnya Livia. " Ujar Bu Iriana.


"Ini masih siang loh Dit, jangan asal di gas aja. " Goda Pak Zul, Pala Livia yang tiba-tiba saja muncul.


"Ahahahah, aku cuman bakal antarin Livia ke kamar nanti balik lagi kok. " Balas Radit, tertawa malu-malu.


"Nggak usah kalian istirahat aja di dalam kamar. " Lanjut Pak Zul.


"Ah papa sembarangan aja, Ya udah yuk, capek! Livia permisi dulu yah mau istirahat. " Ujar Livia kepada para orang tuanya.


Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya di ikuti Radit yang berjalan di belakangnya.


Acara pernikahan mereka berlangsung tenang, lancar dan yang paling penting adalah pernikahan tersebut tidak di ketahui oleh siapapun utamanya teman-teman sekolah Livia.


###


Beberapa waktu kemudian.


Livia yang baru saja selesai membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi, seketika terkejut saat mendapati Radit masih berada di dalam kamarnya.


"Ngapain kamu masih ada disini? "Pekik Livia kembali masuk ke dalam kamar mandinya karena tubuhnya juga hanya di balut selembar handuk.


Livia merasa jijik melihat tubuh Radit. Bayangan malam itu masih sering melitas di dalam pikirannya.


Radit yang sempat melihat subuh Livia yang setenga telanjang sontak menyeringai.


" Kan aku suami kamu, kamar kamu berarti kamar aku juga dong, lagian inikan kamar pengantin kita. " Balas Radit santai.


"Kurang ajar, keluar nggak!. " Bentak Livia.


Namun Radit tidak menghiraukan nya, laki-laki itu justru berjalan ke arah kamar mandi.


"Livia, keluar dong ngapain kamu ada di dalam sana terus-terussan bukannya kamu udah selesai?. " Tanya Radit yang kini sudah berada di depan kamar mandi.


Livia sedikit panik dan mengambil alat penggaris punggungnya dan membuka pintu kamar mandi secara perlahan.

__ADS_1


"Apaan sih Liv. " Ujar Radit menepis alat oenggosok punggung Mivia yang di sorokan Livia ke wajah laki-laki itu.


"Kamu mau ngapain kesini? . " Pekik Livia terus mengacungkan alat penggosok tersebut.


"Ya mau mandilah, keluar dong, aku juga mau mandi tau. " Balas Radit.


"Ya udah minggir dulu sana. " Penrintah Livia.


Radit segera mundur beberapa langkah. Lalu, Livia segera keluar dari dalam kamar mandi namun tangannya segera di tarik oleh Radit.


"Kamu nggak mau temanin aku mandi?. " Goda Radit.


"Sialan, aku nggak mau, lepasin! ." pekik Livia merasakan sakit pada lengannya.


"Ayolah, kamu pasti bakalan suka kalau kita mandi bareng. " Ujar Radit memaksa Livia kembali masuk ke kamar mandi bersamanya.


Livia mengambil ancang-ancang untuk memukul kepala Radit jika laki-laki itu tidak ingin melepaskan tangannya.


"Lepasin, aku nggak mau!. " Pekik Livia berusaha melepaskan tangannya lagi.


Bug.. Bug..


Dua pikiran menghantam punggung Radit, Rania tanpa segan memukulnua menggunakan penggosok punggungnya.


"Aw ah, sakit Livia. " Pekik Radit sontak melepaskan pegangan tangannya.


Radit merintih kesakitan sambil memegangi punggungnya.


"Tau rasa kamu. " Ujar Livia.


Livia kemudian segera berlari masuk ke ruang ganti dan mengunci pintunya dari dalam.


Untungnya kamarnya memiliki beberapa ruangan ekstra khusus sepatu dan khusus ruang ganti yang berisi pakaian-lakaian Livia.


"Awas kamu Livia... " Lirih Radit.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2