
Episode sebelumnya...
Livia hanya bisa pasrah, berharap kedua laki-laki itu tidak berdebat dan membuat keributam di luar rumahnya
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
"Heh, lain kali kamu nggak usah datang kesini lagi, lagian percuma Livia nggak bakalan terima cinta kamu, dia udah sah jadi istriku. " Sinis Radit saat mengantarkan Deni sampai di depan pintu rumah.
"Livia aja ngijinin, kenapa kamu yang repot!. " Balas Deni.
"Dasar nggak tau diri, nggak malu loh datang ke rumah pengantin baru. " Ujar Radit.
"Heh, ini tuh rumah orang tuanya Livia, kamu disini cuman numpang dan cuman jadi pelengkap untuk bayi yang ada di dalam perutnya Livia, aku bakalan terus perjuangin Livia sampai dia sadar kamu tuh nggak lebih baik dari aku. " Tegas Deni.
"Eh kurang ajar. " Radit mengambil ancang-ancang untuk memukul Deni. Namun untungnya bibi yang baru saja tiba langsung menegur kedua anak laki-laki itu.
"Eh, kalian lagi pada mau ngapain?. " Tegur bibi.
Radit menurunkan tangannya sementara Deni langsung pergi tanpa berkata-kata.
"Nggak apa-apa kok bisa, kenapa pulangnya cepat?. " Tanya Radit mengalihkan pembicaraan.
"Tadinya bibi mau ngonoh di rumah saudara bibi, tapi tadi Nyonya nelpon, kasian non Livia kalau mesti masak. " Jelas bibi
"Oh ya udah kalau gitu masuk aja bi. " Radit mempersilahkan bibi masuk ke dalam rumah sementara Radit memandang sinis ke arah Deni yang kini sudah melangkah keluar dari pagar.
"Sialan pecundang itu. " Umpat Radit.
__ADS_1
Perasaannya masih belum bisa menerima ucapan Deni tadi yang mengatasinya hanya menumpang di rumah orang tua Livia.
Meskipun keadaannya saat ini memang seperti itu, namun tidak sepenuhnya benar juga.
Orang tua Radit, sudah menyediakan tempat tinggal untuk Radit dan Livia, namun orang tua Livia belum mengizinkan pasangan muda itu untuk tinggal berdua, mengingat kondisi Livia yang sedang hamil muda. Tidaklah mudah bagi Radit untuk mengurusnya seorang diri.
Apalagi Livia adalah gadis yang manja, beberapa kali Radit menyuruhnya untuk sekedar membuatkannya makanan ringan atau sekedar mengambilkannya air minum, gadis itu selalu menolak dengan berbagai alasan.
Di tambah sudah satu minggu mereka menikah, Livia sama sekali tidak ingin di sentuh oleh Radit, jangankan di sentuh tidur di atas ranjang yang samapun setiap malam harus di beri pembatas.
Radit merasa sedikit prustasi, karena keinginannya yang satu itu belum juga terpenuhi.
###
Keesokan harinya.
Radit sudah bangun sejak pagi untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah, sedangkan Livia masih tertidur lelap.
Livia sontak terbangun dari ranjangnya untuk menghindari Radit, takut jika laki-laki itu mengulangi tindakannya yang kemarin.
"Apa-apaan kamu. " Pekik Livia terkejut.
"Aku mau berangkat ke sekolah, siapin makanan kek buat sarapan, aku lapar tau. " Ujar Radit, laki-laki itu terlihat sudah rapih dengan seragamnya.
Livia sontak memantulkan bibirnya, mimpi indahnya harus berhenti karena Radit.
"Sialan." Batin Livia. Namun gadis itu tetap beranjak keluar dari kamarnya, menuju ke dapur, lalu menyuruh bibi untuk membuat sarapan pagi.
Tidak lama kemudian Livia kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Udah tuh, kamu ke dapur aja makan sendiri. " Ujar Livia kembalierebahlan tubuhnya di atas kasur.
"Cepat banget?. " Ujar Radit heran melihat Livia yang belum sampai lima menit yang lalu gadis itu keluar untuk menyiapkan sarapan untuknya.
"Aku udah suruh bibi nyiapin makanan buat kamu, badan aku lagi kurang enak, kakiku yang kemaren masih sakit tau." keluh Livia.
"Manja banget. " Ejek Radit
"Kamu tuh ribet banget sih Dit! Kalau nggak mau makan ya udah terserah, udah sana pergi. " Usir Livia. Gadis itu kembali menutup matanya, melanjutkan tidur paginya.
Cup
Cup
Cup
Sedetik kemudian Livia membelalakkan matanya karena kaget mendapatkan ciuman bertubi-tubi dari Radit.
"RADIT! . " Teriak Livia.
"Morning Kiss. " Ujar Radit sambil meringis berlalu pergi.
Radit yang sepertinya sedang malas berdebat langsung berlari keluar dari kamar karena sebentar lagi pasti Livia akan mulai mengomel pada laki-laki itu dengan kata-kata kasar.
"Brengsek, sialan! Kurang ajar kamu Radit. " Umpat Livia merasa jijik.
Rasa ngantuknya sudah hilang, Livia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Terutama pada area kening dan pipi Livia yang tadi di cium oleh Radit.
__ADS_1
Bersambung...