
"Kamu juga, jangan aneh-aneh tungguin aku disini dan jagain Radit baik-baik. " Lanjutnya, sembari menunjuk wajah Sinta.
###
"Dasar gadis terkutuk berhati iblis, mencari kesempatan dalam kesempitan! Gadis gatal. " Livia terus mengumpat sepanjang perjalanan keluar dari gedung rumah sakit.
Setelah mengambil obat tadi, Livia sudah tidak menemukan Radit dan Sinta di mana-mana, saat bertanya kepada resepsionis yang berada tidak jauh dari tempat Livia meninggalkan dua orang itu.
Ternyata, Sinta sudah membawa Radit pulang duluan.
"Kurang ajar! Sialan! Awas saja nanti kalau aku mendapati gadis itu, akan ku jambak rambutnya. " Pekik Livia
Dirinya terpaksa memesan taxi lain, karena taxi sebelumnya sudah membawa Radit dan Sinta pulang lebih dulu.
"Arrrghhhh sialan?. " Livia merasa sangat kesal dengan kekakuan Sinta yang sangat di luar nalar.
Gadis pengganggu itu sama sekali tidak memikirkan kesehatan Radit, bisa saja Sinta memberikan makanan yang tidak seharusnya di berikan kepada Radit. Mengingat sebentar lagi jam makan siang, Livia segera naik ke taxi pesanannya.
###
__ADS_1
Sesampainya di Apartement. Livia sedikit terperanjat saat melihat berbagai hidangan telah tersedia di atas meja makan.
Pintu Apartementnya terbuka lebar, Livia kemudian masuk ke dalam dan memperhatikan sekelilingnya.
Nampak Sinta sedang sibuk menyusun piring du atas meja makan, sementara Radit duduk di ruang tamu.
"Apa-apaan ini. " Sentak Livia, merasa dirinya tidak di hargai sebagai tuan rumah di Apartement tersebut. Meskipun orang tua Radit yang membayar biaya sewanya tetap saja, ia adalah bagian dari Radit karena statusnya saat ini sebagai seorang istri.
"Eh, Livia kamu udah sampai, duh maaf yah tadi aku nggak tega liat Radit mesti nungguin kamu lama-lama disana, jadi aku bawa dia pulang duluan deh, maaf yah Liv, kamu pasti khawatir nyari kami ke mana-mana. " Tutur Sinta dengan nada suara memelas. Seakan-akan merasa bersalah.
Padahal nampak jelas di wajah gadis itu, ia sama sekali tidak tulus meminta maaf kepada Livia.
"Kalian nggak mau ngerepotin atau emang sengaja mau pulang duluan? Kayaknya disini aku deh yang jadi orang keriganya. " Sinis Livia.
Radit nampak gelisah melihat perubahan raut wajah Livia.
"Aduh Liv, niat aku datang kesini itu baik loh buat bantuin kami, kenapa sih kamu nggak bisa liat sisi positif aku ini lagian kamu kan butuh orang buat ngelakuin hal-hal yang nggak bisa kamu lakuin. " Oceh Sinta.
Livia mengernyitkan wajahnya.
__ADS_1
"Maksud kamu apa?. " Pekik Livia, menatap tajam ke arah Sinta.
"Udahlah Liv, nggak usah di debatin benar kata Sinta, dai datang kesini buat bantuin kita biar kamu juga nggak terlalu kerepotan ngurusin aku seorang diri. " Radit membela Sinta.
Livia tidak habis pikir, entah apa yang sudah gadis jahat itu katakan pada Rasit yang saat ini sedang mengalami lupa ingatan, sehingga Radit tidak bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk untuk rumah tangganya.
"Benar tuh kata Rasit, kalau ada aku disini kamu nggak bakalan repot-repot, lagian Radit sama aku udah kenal sejak lama jadi aku lebih tau apa yang lebih baik untuk Radit saat ini. " Ujar Sinta, percaya diri.
"Sinta... " Tegur Radit, merasa aneh dengan ucapan Sinta barusan. Radit yang tidak ingat apa-apa kecuali bahwa Sinta adalah mantan kekasihnya di sekolah mencoba untuk membuat gadis itu terdiam.
"Hehehe, maaf Dit aku cuman nggak pengen kita terus-terussan berdebat. " Balas Sinta.
Livia memutar bola matanya, dirinya merasa sangat muak dan malas berada di tengah-tengah dua orang itu.
"Tidak sehat, tidak sakit! Ternyata sama saja, Laki-laki itu tetap brengsek. " Batin Livia.
LIvia kemudian meletakkan obat Radit di atas meja lalu melenggang masuk ke dalam kamar, tidak peduli dengan panggilan Radit yang seakan terus memaksanya untuk mengerti.
Bersambung...
__ADS_1