Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 84 : Sinta Menggila


__ADS_3

"Tanyain aja sama istri kamu yang lemah itu, aku yakin dia tau semuanya tapi dia takut ngasih tau ke kamu kejadian yang sebenarnya kayak gimana. " Balas Sinta dengan santainya.


###


Bayi Livia di makamkan di pemakaman yang berada di negara tersebut, bukan tanpa alasan.


Livia sebenarnya bisa saja membawa bayinya pulang ke Indonesia untuk sekedar di berikan pemakaman yang layak, akan tetapi melihat kondisi Radit yang tidak memungkinkan untuk bolak balik naik pesawat.


Sehingga, keduanya memutuskan bayi malang tersebut di makamkan di Singapura saja. Pemakaman tersebut berada tidak jauh dari rumah sakit tempat Alea di rawat dan tempat Radit melakukan checkup setiap minggu.


Livia dan Radit juga sama-sama sudah menghubungi keluarga mereka, awalnya para orang tua itu ingin segera menyusul namun Livia dan Radit bersikukuh tidak ingin menyusahkan mereka.


Keduanya nampak sudah bisa lebih dewasa menghadapi masalahnya masing-masing.


"Livia, ayo kita kembali ke rumah sakit. " Ajak Radit pada Livia yang masih berdiam diri di tempatnya sembari memandangi kuburan mungil anak mereka.


Livia menggelengkan kepalanya.


"Bentar lagi Dit, aku masih mau nemanin anak kita disini, kasian dia pasti ngerasa kesepian di dalam sana. " Ujar Livia, pelan.


Kejadian yang di alaminya terasa begitu cepat. Bahkan Livia sama sekali tidak menyangka dirinya akan kehilangan bayi mungilnya itu dengan cara yang sangat menyakitkan.


"Aku ngerasa bersalah karena pernah ngomong nggak pingin dia lahir ke dunia ini, apa mungkin karna dia denger apa yang aku omongin waktu itu makanya dia ninggalin aku yah Dit. " Tutur Livia, air matanya kembali mengalir deras.

__ADS_1


Hatinya benar-benar hancur, ternyata seperti ini rasanya kehilangan seseorang yang sangat berharga. Sakit.


"Liv, udah dong kalau kamu sedih kayak gini aku juga jadi ikutan sedih. " Ujar Radit menenangkan Livia, laki-laki itu nampak tegar dari luar namun di dalam hatinya ia rapuh.


Hanya saja, Radit tidak ingin menunjukkan kesedihannya di hadapan Livia, takut jika Livia semakin merasa sedih.


"Livia, kita kembali ke rumah sakit yuk, kamu masih butuh istirahat beberapa hari, bentar lagi juga mau ujan loh Livia, ayo. " Ujar Radit lagi mencoba mengajak Livia untuk segera meninggalkan pemakaman tersebut.


"Aku masih mau disini, beberapa menit lagi, aku masih mau nemenin anak kita, kamu duluan aja nanti aku nyusul. " Balas Livia.


Radit kemudian mengikuti ucapan istrinya itu, ia kembali ke rumah sakit yang jaraknya hanya beberapa meter dari pemakaman, Radit kembali seorang diri.


Entah kabar baik atau buruk, setelah melihat Livia terkapar tidak berdaya di apartement nya kemarin, Radit seketika tidak merasakan sakit pada kepalanya saat berjalan lagi.


Sementara Livia masih berada di pemakaman tersebut, mengusap lembut gundukan tanah yang mengubur bayinya, seakan-akan bayinya itu akan merasakan usapannya.


###


Di rumah sakit.


Sinta ternyata sudah menunggu kedatangan Radit dan Livia sejak tadi, namun karena saat ini yang kembali ke ruang perawatan tersebut hanya Radit, Sinamta tidak ingin menyi-nyiakan kesempatan tersebut untuk mengambil hati Radit lagi.


"Radit kamu udah pulang, gimana pemakamannya, lancar?. " Tanya Sinta, Pura-pura perhatian, padahal nampak jelas matanya memancarkan kesenangan.

__ADS_1


Radit menampakkan raut wajah tidak suka, menyadari Sinta berada di ruang perawatan Livia.


"Mau ngapain kamu kesini lagi? Masih untuk aku sama Livia nggak nuntut kamu atas kejadian kemarin yah, pergi dari sini sebelum Livia kembali, aku nggak sudi ngeliat muka kamu yang menjijikkan itu, dasar pembunuh!. " Cecar Radit.


Sinta nampak kecewa dan tidak Terima dengan perkataan Radit barusan.


"Apa kamu bilang? Menjijikkan? Pembunuh? Aku ngelakuin semua itu demi kita Dit, biar kita bisa sama-sama lagi. " Pekik Sinta, mulai histeris mada bicaranya meninggi.


"Berhenti, aku minta kamu tinggalin keluargaku, kalau nggak aku bakal.... "


Belum sempat Radit menghabiskan kata-matanya Sinta segera memotong.


"Bakalan apa? Laporin aku ke polisi? Emang kamu berani? Aku juga bakalan nyebarin video kita pas ngelakuin hubungan suami istri ke internet biar sekalian kita sama-sama mendekam di dalam penjara. " Ancam Sinta, menggila.


Radit benar-benar kehabisan akal menghadapi Sinta yang seperti orang yang kesetanan.


"Stop Sinta, sadar kita udah nggak ada hubungan lagi, aku cuman cinta sama Livia dari awal aku nggak ada niatan mau serius sama kamu, kamu harusnya sadar itu Sinta!. " Balas Radit, prustasi.


"Bohong, kamu bohong. " Bantah Sinta sembari mendekati tubuh Radit untuk memastikan laki-laki itu tidak mengatakan hal yang sebenarnya.


Sinta berharap Radit masih memiliki sedikit saja perasaan cinta yang tersisa untuk dirinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2