Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 45 : Deni, Mencoba Kabur?


__ADS_3

Deni turun sebentar dari mobilnya dan menggantungkan buah-buahan segar yang di belinya tadi di pagar besi rumah Livia, lalu dirinya segera beranjak kembali mengendarai mobilnya.


###


Sesampainya di rumah, Deni langsung mendapatkan omelan bertubi-tubi dari Bu Widia.


"Kamu ngapain pake pergi ke rumahnya segala? Kamu ngarepin apa dari gadis itu? Sadar Deni, dia udah nikah, udah jadi istrinya orang, kamu mau mereka ngelaporin kamu ke polisi di tuduh jadi penguntit. " Cecar Bu Widia sesaat setelah Deni masuk ke dalam rumah.


"Aku capek ma, akmu mau istirahat dulu. " Ular Deni tidak memelrdukikan omelan mamanya.


"Ya ampun Deni, kamu benar-benar berubah yah sejak kenal gadis itu, kamu udah jadi anak pembangkang kayak gini. " Omel Bu Widia.


Brak


Suara pintu kamar Deni yang di tutup secara kasar.


"Huh! Dasar anak muda. " Gerutu Bu Widia.


###


Keesokan harinya.


Pagi yang cerah untuk menikmati akhir pekan.

__ADS_1


Deni baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya, sambil bersiul-siul.


Rencananya hari ini, Deni akan berusaha menemui Livia lagi karena sudah tiga hari sejak mereka bertemu. Kemarin Deni hanya melihat gadis pujaannya itu sebentar.


Deni merasa belum puas, jika dirinya tidak bertemu dengan Livia secara langsung. Dengan cepat Deni mengenakan pakaian yang sudah ia persiapkan sebelum mandi tadi.


Deni mengendap-endao keluar dari dalam kamarnya, takut jika mamanya memergokinya saat ingin keluar. Mengingat hari ini adalah hari minggu. Mamanya itu pasti sedang berada di di rumah.


Benar saja, tidak lama kemudian saat Deni baru akan membuka pintu utama, selangkah lagi usahanya akan berhasil, Bu Widia memergoki Deni.


"Deni, mau kemana kamu?. " Tegur Bu Widia.


"Ah hehehe, Deni mau cuci mobil ma, kemarin kotor. " Deni membuat alasan.


"Ah alasan aja kamu, nanti mama suruh pak Mamang aja, biasanya juga pak Mamang yang cuci mobil kamu, awas yah Deni kalau kamu mencoba ketemu sama Livia lagi, mama nggak main-main sama omongan mama yang kemarin. " Ancam Bu Widia.


Dengan lesu Deni kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Aku sudah bukan anak kecil, kenapa harus di kekang terus-terussan aku juga ingin bebas mengekspresikan diriku, berhenti mengatur hidupku, mama!. " Batin Deni. Ia hanya bisa menggerutu di dalam pikirannya tanpa benar-benar berani mengatakan hal tersebut kepada mamanya.


Biar bagaimanapun, hanya Bu Widia yang Deni miliki selama ini. Deni tidak pernah berani membangkang mama yang sangat di kasihinya itu.


Sesaat kemudian sebuah ide gila terlintas dalam pikiran Deni, namun sebelum itu ia harus meyakinkan mamanya terlebih dahulu.

__ADS_1


Tok.. Tok.. Tok..


"Deni, ini mama bawain makanan kamu. " Ujar Bu Widia dari balik pintu kamar Deni.


"Masuk aja ma, nggak di kunci kok. " Balas Deni.


Bu Widia kemudian muncul sambil membawa nampan makanan.


"Makan dulu, Den! Jangan yang ada di otak kamu perempuan mulu, sadar Livia udah jadi istri orang dan lagi ngandung anak orang, kayak nggak ada cewek lain aja. " Omel Bu Widia.


"Emang nggak ada ma, cuman Livia yang ada di hati Deni. " Balas Deni.


"Halah itu cuman cinta-cinta monyet, beberapa bulan lagi juga kamu bakalan lupa, mama cuma mau ngingetin berhenti bikin ulah yang bakalan ngerugiin diri kamu sendiri, mama hampir aja di panggil sama kepala sekolah kamu lagi, gara-gara kamu bolos. " Omel Bu Widia.


"Udah dong ma, ngomelnya! Ini Deni nggak bisa makan kalau mama ngomelin Deni terus. " Ujar Deni.


"Yaudah kamu mama tinggal arisan bentar, makanan itu cukup sampai nanti siang, awas jangan kabur dari rumah, mama bakalan kunci pintu kamar kamu, biar kamu nggak bisa ke rumah gadis itu lagi. " Tegas Bu Widia beranjak keluar dari kamar Deni.


Klik


Pintu kamar Deni di kunci dari luar. Tidak lama kemudian terdengar mesin mobil Bu Widia menyala, menandakan sebentar lagi perempuan itu akan meninggalkan rumah.


Deni mengintip dari balik kaca kamarnya yang tembus langsung ke halaman depan. Mobil mamanya sudah pergi.

__ADS_1


"Yes, akhirnya aku bisa kabur. " Pekik Deni.


Bersambung...


__ADS_2