Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 17 : Berkelahi


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Livia berpikir mungkin memang akan lebih baik jika dirinya menikah dengan Radit dari pada Deni.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


Setelah mengetahui jika pertunangannya dengan Livia di batalkan secara sepihak Deni tanpa pikir panjang langsung mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Livia.


Deni tidak mengerti mengapa keluarga Livia membatalkan pertunangannya secara sepihak padahal Deni sudah berusaha semaksimal mungkin untuk meyakinkan orang tuanya sendiri.


Orang tua Livia maupun Livia sendiri tidak mengatakan dengan jelas alasan mengapa mereka membatalkan pertunangannya, inilah yang menjadi alasan Deni untuk pergi ke rumah gadis itu.


Padahal waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Deni yang harusnya berangkat ke sekolah lagi-lagi lebih memilih pergi ke rumah Livia.


Hari Deni bagaikan tersayat sembilu, saat Livia mengatakan mereka berdua sudah tidak ada hubungan lagi, dan Deni di larang untuk menemui gadis itu. Namun, bukan Deni namanya jika ia tidak memiliki tekad yang kuat.


"Mau ngapain lagi kamu datang kesini?. " Livia membukakan pintu untuk Deni.


Deni sudah berada di depan pintu rumah gadis itu sejak tadi.


"Maksud kamu apa?Kenapa Pertunangan kita bisa batal Liv?. " Tanya Deni to the Point.


"Ya batal, kamu gak ngerti artinya batal?. " Bentak Livia.


"Hah?. " Deni masih tidak mengerti.


"Aku udah putusin, bakalan nikah sama Radit!. " Tegas Livia.


"Hah? Radit?. " Deni terlonjak kaget.


"Iya, Radit papa dari anak yang aku kandung ini, aku bakalan nikah sama dia, lebih baik dia dari pada kamu! tau. " Bentak Livia.


Deni merasa darahnya panas, menahan emosi.


"Nggak bisa gitu dong, Livia aku juga udah berusaha semaksimal mungkin untuk bertanggung jawab ke kamu? Kenapa sih kamu gak pernah bisa ngehargain usaha aku itu?. " Cecar Deni.

__ADS_1


"Ya karena aku gak ada perasaan sama kamu Deni, kamu yang nggak ngerti-ngerti. " Balas Livia.


"Livia, aku udah usahain semuanya buat kamu, biar kamu mau nerima aku tapi kenapa sedikitpun kamu gak ada rasa kasian sama aku Liv, tega banget kamu. " Ujar Deni, hal itu sedikit membuat hati Livia ikut bergetar.


Livia tidak ada pilihan lain, harga dirinya harus tetap ia pertahankan, Livia tidak ingin reputasinya jadi buruk jika dirinya tidak menikah dengan Radit.


"Aku gak pernah minta kamu usahain semuanya buat aku, kamu sendiri yang mau, kamu sendiri yang inisiatif, mending kamu pulang aja deh aku muak ngeliat muka kamu yang ngerengek kayak anak bayi, najis tau nggak!? " Bentak Livia, kasar. Ia sengaja melakukan itu agar Deni segera pergi dari rumahnya dan berhenti membuat keributan.


Livia sudah sangat lelah dengan hari-harinya sebagai ibu hamil, di tambah lagi dirinya harus berhadapan dengan Deni dan Radit.


Setelah Mendengar bentakan Livia yang terakhir, Deni pergi meninggalkan rumah Livia dengan perasaan yang campur aduk. Deni kembali melakukan mobilnya menuju ke sekolah.


"RADIT SIALAN!. " Teriak Deni di dalam mobilnya, ia tidak pernah merasa semarah dan seputus asa, seperti yang di rasakannya sekarang ini. Hatinya benar-benar hancur.


Sesampainya di sekolah Deni segera menuju ke kelas Radit dan untungnya laki-laki itu ada disana, sedang bercanda dengan salah satu gadis teman sekelasnya.


"KURANG AJAR, Radit sialan mati saja kau. " Teriak Deni yang langsung berlari ke arah Radit dan langsung memberikan bogem mentah ke wajah laki-laki itu, padahal wajah Radit sudah biru akibat di hajar oleh Papa Livia, sekarang lukanya akan bertambah lagi karena pukulan dari Deni.


"APA-APAAN KAMU!. " Balas Radit yang tadi tidak sempat menghindari pukulan Deni.


"Apa? Dasar brengsek lo bangs#*at." Deni kembali menghantam Radit dengan tendang pada perut laki-laki itu.


Deni mengambil ancang-ancang untuk mengajar Radit sekali lagi namun beberapa teman sekelas Radit segera melerai.


"Emang pantes kamu dapatin itu. " Bentak Deni.


"Kenapa emangnya? Sakit hati karena ternyata Livia lebih milih aku dari pada kamu? Hahaha. " Radit tertawa senang padahal darah segar mengalir dari bibirnya.


"Kurang ajar!. " Teriak Deni ingin menggapai tubuh Radit namun segera di tahan.


"Kamu gak bakalan bisa milikin Livia, Karena pada akhirnya Livia bakalan balik lagi sama aku, Dasar Cupu. " Teriak Radit kepada Deni yang di bawah oleh beberapa orang keluar dari kelas Radit.


Setelah melampiaskan kekesalannya kepada Radit dan di pisahkan oleh beberapa orang, Deni kembali masuk ke dalam mobilnya dan memilih membolos untuk hari ini.


Perasaannya sangat tidak karu-karuan, percuma sajania masuk sekolah jika yang ada di dalam pikirannya hanya Livia, Livia dan Livia.


Deni membawa mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, tanpa sadar dirinya menangis tersedu-sedu. Hatinya sangat sakit.

__ADS_1


###


Deni masih terus berusaha mengejar Livia dengan menjanjikan apapun yangbLivia inginkan agar ia berikan agar Livia memilih dirinya dari pada Radit.


"Livia, di bandingkan Radit, aku lebih bisa jagain kamu Livia, tolong dong Livia. " Pinta Deni memelas.


Sudah ber hari-harinya laki-laki itu bolak bali ke rumah Livia, orang tua Livia juga sudah memberikan pengertian kepada Deni, namun laki-laki itu tetap bersikeras akan tetap melanjutkan pertunangannya dengan Livia.


"Nggak bosan yah kamu datang kesini terus-terussan setiap hari, heran deh aku sama kamu gak ngerti-ngerti kalau aku udah bosan sama kamu. " Bentak Livia.


"Plis Livia, tolong ngertiin aku sekali ini aja, kasih aku kesempatan pliss. " Deni terus memohon-mohon kepada gadis itu bahkan Deni tidak sadar sudah bertekuk lutut di bawah kaki Livia.


Livia yang melihat itu sebenarnya sangat tidak tega, ia sangat tahu bagaimana perasaan Deni padanya sangat tulus bahkan jika dirinya meminta nyawa Deni, laki-laki itu pasti akan dengan sukarela memberikannya untuk Livia.


Livia tidak ingin menerima Deni, baginya ia tidak pantas untuk laki-laki sebaik Deni. Livia sudah kotor dan hanya Radit yang pantas untuk menikah dengannya karena Radit adalah orang yang telah mengotorinya, Livia tidak ingin kelihatan lemah di hadapan Deni apa lagi di hadapan orang lain.


"Mending kamu berhenti deh datang kesini lagi Den, aku benar-benar muak ngeliat kamu ngelakuin hal itu setiap hari. "


"Kenapa ?kenapa harus aku yang mesti ngalah? Kenapa kamu mesti milih dia dari pada aku Livia? Aku bisa kasih kamu semuanya. " Deni sungguh tidak mengerti kenapa Livia memperkakukannya seperti ini.


"Kamu gak bakalan pernah ngerti sama keputusan yang aku ambil Den, aku udah pernah bilang kalau perasaan aku ken kamu itu cuman sementara kalau aku bosan aku bisa ganti kamu kapan aja!."Tegas Livia berjalan masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Deni di taman belakang.


Orang tua Livia yang menyaksikan hal itu dari jendela rumah tidak dapat melakukan banyak hal, keputusan mereka juga sudah bulat, di tambah Livia juga sudah setuju untuk menikah dengan Radit dan memutuskan hubungannya dengan Deni.


###


Livia menatap dirinya di dalam cermin, air matanya menetes membasahi pipi nya. Hatinya juga sakit, bukan hanya Deni saja.


Tidak ada perempuan di dunia ini yang ingin berada di posisi dilema seperti ini. Livia merasakan pergerakan di dalam perutnya semakin hari semakin aktif.


"Kamu denger yah tadi aku habis marah-marah?. " Livia mengelus perutnya sambil berbicara.


"Aku tau kamu juga sedih, Papa Deni baik yah? Tapi mama tetap harus nikah sama Papa Radit, karena dia adalah papa kamu. " Ujar Livia.


Beberapa waktu lalu, Livia masih berpikir untuk melakukan aborsi namun akhir-akhir ini karena tidak memiliki teman untuk berbicara tentang perasaannya, Livia perlahan-lahan sudah bisa menerima keberadaan bayi yang ada di dalam perutnya tersebut.


Livia bahkan sering mangajaknya berkomunikasi. Mencurahkan segala isi hatinya. Seperti saat ini.

__ADS_1


Bersambung...


Note : klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian yah. Terima kasih guys.


__ADS_2