Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 33 : Hadiah Deni


__ADS_3

Episode sebelumnya....


Beruntung Livia selalu membawa uang cash ke mana-mana jika tidak, gadis itu bisa mati jika harus berjalan kaki sepanjang lima kilo menuju ke rumahnya.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


Malamnya, senyum di bibir Livia terus mengembang setelah mendapat pesan dari Andra. Meskipun sore tadi ia sempat merasa kesal karena di turunkan di pinggir jalan oleh Radit.


Perasaan kesal itu seketika sirna setelah membaca pesan di ponselnya.


Pesan singkat yang berisi ucapan selamat malam dan selamat beristirahat saja sudah membuat Livia mabuk kepayang.


"Sayang, kenapa senyum-senyum gitu? Kamu lagi chatingan sama Radit?. " Goda mama Livia.


"Enak aja, ngapain aku chat-chat dia. " Balas Livia, ketus.


"Yah namanya juga diakan calon suami kamu, ya wajarlah. " Ujar Mama Livia.


"Ih, enggak lah ngapain aku senyam-senyum chatingan sama dia. " Balas Livia.


"Terus kamu senyum-senyum gitu kenapa?. "


"Nggak apa-aoaan ma, tadi cuman liat status lucu orang aja. " Balas Livia.


"Hmmm, kamu kalau udah nikah nanti mesti bersikap baik sama Radit dan orang tuanya, meskipun awalnya kalian di nilahkan karena sebuah kejadian itu.... " Ucapan Bu Silvia berhenti, mengingat saat ia menemukan anaknya dalam kondisi mengenaskan di dalam mobil.


Ada perasaan tidak ikhlas sebenarnya bagi Bu Silvia untuk membiarkan anak gadisnya menikah dengan Radit. Namun, Laki-laki itu tetap harus bertanggung jawab.


Bu Silvia tidak ingin anak satu-satunya melahirkan bayi yang tidak memiliki orang tua yang lengkap.


"Mama... " Livia memang tangan mamanya.

__ADS_1


"Iya sayang, mama harap kamu akan di perlakukan dengan baik oleh Radit, jika tidak segera beritahu mama dan papa, kami akan langsung menghajar anak laki-laki kurang ajar itu. " Pekik Bu Silvia.


"Mama, aku bisa menjaga diriku sendiri, mama dan papa tidak perlu khawatir lagi, apalagi sekarang orang tua Radit juga sudah berjanji akan selalu memberikan suport dan bantuan kepada Livia, jadi kalau Radit macam-macam, Livia tinggal laporkan saja ke orang tuanya tanpa perlu mengorori tangan mama dan papa. " Oceh Livia.


Mama Livia sontak memeluk anak gadisnya itu, anak gadis yang sudah ia besarkan dengan baik beberapa hari lagi akan menjadi seorang istri dan beberapa bulan lagi akan menjadi seorang ibu.


Malam ini mereka akan tidur bersama di kamar Livia.


###


Keesokan harinya, Livia yang baru saja terbangun dariimpi indahnya terkejut melihat sinar matahari yang menembus kaca jendelanya yang terbuka.


"Jam berapa sekarang?. " Ujarnya.


Livia melirik jam dinding yang tertempel di dinding kamarnya.


"Jam sembilan? . " Gumam Livia.


Livia kemudian memaksa tubuhnya u tuk bangun, untungnya akhir-akhir ini perutnya sudah tidak mual lagi, jadi Livia sedikit banyak bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa.


Pintu kamar Livia terbuka menampilkan mamanya yang sedang membawa sebuah kotak.


"Iya Mama? . " Jawab Livia.


"Ini ada kado dari Deni. " Tutur Mama Livia.


Livia mengernyitkan wajahnya.


"Kado? Dari Deni?. " Tanya Livia.


Mama Livia mengangguk.


"Kado apaan sih, nggak jelas banget itu orang. " Ujar Livia, merasa aneh setelah berhari-hari laki-laki itu tidak ada kabarnya dan sekarang mengiriminya kado? Livia merasa heran.

__ADS_1


"Tadi ada kurir pake yang datang bawain ini, katanya dari Deni, mama baca asal pengirimnya emang ada nama Deni sih. " Jelas Mama Livia sambil menyodorkan kado tersebut ke anaknya.


Livia yang merasa penasaran dengan isinya segera meraih kado tersebut dan membukanya.


"Ya udah mama mau ke dapur lagi bantuin bibi. " Ujar Mama Livia lalu pergi dan menghilang dari bik pintu kamar Livia.


"Oke ma. "


Livia yang sudah tidak sabar, segera mengeluarkan isi kotak yang di dalamnya ada kotak kado lagi.


"Jangan-jangan ini prank kotak lagi ah, males banget, ada-ada aja tuh anak. " Keluh Livia sambil menggoyang-goyangkan kotak tersebut dan mendengar seperti ada sesuatu yang bergerak di dalam sana.


Livia dengan tidak sabar mengambil gua ting dan mulai merobek kotak tersebut yang di dalamnya ternyata berisi sebuah sepatu dan sebuah korset.


"Sepatu? Korset?. " Livia terheran-heran melihat isi kotak tersebut.


Livia kemudian mencoba sepatu tersebut dan merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dalam kakinya. Livia memeriksanya dan mendapatkan sebuah kertas.


"Ini sepatu untuk ibu hamil, aku liat kamu nggak nyaman pakai sepatu kamu yang biasanya, apalagi kamu suka jalan, sepatu ini bakalan cocok dan nyaman untuk kamu pakai ke mana-mana. By Deni. Semoga kamu selalu sehat Livia. " Isi surat tersebut


Livia kemudian mengerti, namun ia kembali bingung melihat hadiah yang satunya.


"Korset? Tuh anak cabul apa gimana?. " Lirihnya. Namun setelah mengutak atik korset tersebut dan mengenakannya Livia kembali mengerti jika korset tersebut u tuk ibu hamil.


Livia tersenyum simpul karena kedua barang itu akan sangat berguna untuk kehamilannya.


"Kenapa sih kamu baik banget sama aku, padahal aku udah jahat banget sama kamu, dasar bego. " Gumam Livia, mengingat kebaikan Deni yang selalu memberikan perhatian kepadanya.


Padahal Livia sudah berkali-kali menyakiti laki-laki tersebut. Hal itu pula yang membuat Livia menjadi semakin tidak pantas untuk Deni.


"Aku emang pantasnya sama Radit, karena kami sama-sama orang jahat. " Batin Livia.


Gadis itu kembali meyakinkan dirinya, bahwa pilihannya untuk menikah dengan Radit adalah yang terbaik.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2