Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 39 : Belanja


__ADS_3

Terutama pada area kening dan pipi Livia yang tadi di cium oleh Radit.


###


Happy Reading and enjoy guys


Livia yang badmood sejak tadi pagi, kini sudah berada di Mall untuk melampiaskan rasa kesalnya, ia berencana akan menghabiskan isi ATM Radit yang di berikan orang tua laki-laki itu kepada Livia.


"Biarin aja, biar tau rasa. " Pekik Livia, mengingat perlakuan tidak senonoh Radit kepadanya.


Meskipun kakinya masih terasa sakit, namun karena perasaan kesalnya kepada Radit jauh lebih besar Livia tidak menghiraukan rasa sakit yang sakit tersebut.


"Aku mau yang itu, itu dan itu. " Tunjuk Livia ke beberapa baju terusan, yang nantinya akan sangat berguna untuk kehamilannya.


"Mbak mau bayar cash, kredit? Atau menggunakan kartu ATM?. " Tanya kasir di toko baju yang di masuki Livia.


"Kartu ATM. " Balas Livia, setelah menghabiskan hampir lima juta isi ATM Radit, Livia merasa sangat puas.


###


Sementara di tempat lain, Radit yang baru saja pulang heran mendapati rumah orang tua Livia yang kosong melompong.


Radit mencoba menghubungi gadis itu namun, ponselnya tidak aktif.


"Bibi?. " Panggil Radit menuju ke araha dapur.


"Bi?. " Oanggilnya sekali lagi namun tidak ada jawaban.


"Kemana nih orang rumah?. " Lirih Radit.


Krekkk..

__ADS_1


Bunyi perut Radit yang sudah keroncongan, membuat laki-laki itu berinisiatif membuka tudung saja diatas meja, namun tidak ada apa-apa di dalam sana.


Ping.. Ping.. Ping..


Terdengar bunyi pesan yang masuk ke dalam ponsel Radit. Radit yang awalnya menyangka pesan tersebut dari Livia sontak terperanjat kaget saat membaca isi pesan yang ternyata berasal dari pemberitahuan kartu ATMnya


"Saldo anda telah berkurang lima juta rupiah?. "Pekik Radit.


" Kurang ajar, bukannya nyiapin makanan buat suaminya malah keluyuran ngabisin duit. " Oceh Radit namun percuma saja tidak ada orang yang akan mendengarkannya di rumah tersebut hanya ada dirinya seorang diri.


Meskipun merasa kesal kepada Livia, namun rasa lapar Radit jauh lebih besar. Ia kemudian membuka satu persatu isi kulkas berharap ada sesuatu yang bisa mengganjal perutnya siang ini.


Beruntung masih ada beberapa buah-buahan segar yang bisa Radit makan.


Radit kembali ke kamarnya dengan kesakitan menutuo pintu dengan sedikit keras, dirinya akan memakan buah-buahan tersebut sembari menunggu Livia pulang.


Radit berjanji akan mengomeli gadis itu habis-habissan.


###


"Siap Bu. " Jawab supir taxi tersebut.


Livia kemudian mengaktifkan ponselnya dan sedikit terkejut mendapati panggilan dan pesan Radit.


"Hmm rasain, biarin aja dia kelaparan. " Lirih Livia. Setelah melihat jam pada ponselnya dan pesan dari Radit yang menanyakan keberadaannya.


Livia sadar betul laki-laki itu pasti sudah pulang dan saat ini sedang menunggunya di rumah.


Beberapa waktu kemudian, taxi online yang mengantarkan Livia berhenti tepat di depan pagar rumah gadis itu.


"Makasih yah pak. " Ujar Livia ramah.

__ADS_1


"Kasih bintang lima yah bu. " Balas Si supir taxi.


"Oke sip tenang aja. " Ujar Livia, setelah menyelesaikan pembayarannya.


Saat baru saja memasuki pintu rumahnya, Livia di kagetkan oleh Radit yang sudah berdiri di hadapannya sambil memperlihatkan ekpresi wajah masam.


"Dari mana aja kamu?. " Tanya Radit sembari memperhatikan barang bawaan Livia.


"Hehehe, dari belanja. " Balas Livia sambil cengengesan.


"Pake uang siapa?. " Tanya Radit lagi.


"Pake uang kamulah, kan uang kamu uang aku juga. " Balas Rania berjalan masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan Radit.


"Livia, dengarin orang kalau lagi ngomong. " Ujar Radit, kesal di abaikan oleh Livia.


"Mau dengarin omelan kamu? Ah udahlah aku capek tau butuh refreshing, aku mumet dan capek abis belanja. " Balas Livia.


"Aku kelaparan tau Livia, nggak ada makanan di rumah ini dan kamu dengan santainya pergi belanja pakai ATM aku?. " Cecar Radit ikut masuk ke dalam kamar Livia.


"Ya udah tinggal pesan aja sih. " Balas Livia santai sambil mengeluarkan is belanjaannya.


"Pesan gimana coba, ATM aku kamu yang pegang, aku nggak ada pegang uang seoeserpun gara-gara nikahin kamu tau nggak. " Ketus Radit.


Livia yang mendengar itu sontak ikut tersilit emosinya.


"Emangnya aku minta ku nikahin aku? Kamu sendiri loh yang maksa dan datang ke rumah ini? Lupa kamu? Masalah ATM? Itukan permintaan orang tua kamu, mereka yang ngasih aku kartu ATM ini buat kebutuhan aku, masih untung kamu bisa makan dan tinggal dengan nyaman di rumah ini. " Balas Livia tidak mau kalah.


"Kamu...!. " Radit mengangkat satu tangannya ingin memukul Livia.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2