
Pupus sudah harapan Radit untuk membangun rumah tangganya bersama Livia menjadi lebih baik.
###
Livia merasakan hembusan angin menerpa kulit wajahnya, sejuk. Namun, tetap saja hatinya merasa hampa.
Sudah seharian ini gadis itu mengurung diri di dalam kamarnya, memandangi langit dari balik jendela. Hujan rintik-rintik yang turun dari langit sekan mengerti bagaimana perihnya hati Livia saat ini.
Langit mendung, sejauh mana mata memandang. Tatapan mata Livia kosong.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara pintu kamarnya yang di ketuk dari luar, siapa lagi kalau bukan Radit. Hanya ada mereka berdua di rumah ini.
"Liv, tolong buka pintunya kita perlu bicara. " Pinta Radit dari balik pintu.
Livia tidak menghiraukannya.
Sedari tadi Radit berusaha mengajaknya berkomunikasi.
Orang tua Livia juga sudah berada dalam perjalanan pulang setelah mendengar Livia menangis histeris.
Pagi tadi, Livia langsung menghubungi orang tuanya setelah menonton video mesum Radit dengan seorang gadis yang juga Livia kenal.
"Sialan, kenapa juga harus aku yang terouruk hanya karena video mesum laki-laki brengsek itu. " Ujar Livia bangkit dari tempat duduknya.
"Pantas saja akhir-akhir ini dia berlagak baik, ternyata untuk menutupi kebusukannya itu, dasar brengsek!. " Umpat Livia, merasa telah ditipu dengan kebaikan-kebaikan yang telah Radit lakukan beberapa hati terakhir.
__ADS_1
Hampir saja Livia mempercayai laki-laki itu, beruntung gadis bernama Sinta itu membuka mata Livia lebar-lebar bahwa Radit bukanlah laki-laki yang bisa bertanggung jawab untuk dirinya dan bayinya.
"Berubah menjadi lebih baik apanya? Bulshit, dasar pezinah!. " Umpat Livia untuk tuk yang kesekian kalinya.
Suara ketukan pada pintu kamar Livia terus terdenga di barengi dengan suara rintihan Radit.
"Livia, tolong buka pintunya satu kali aja, kasih aku waktu satu menit buat ngomong sama kamu Liv, plis maafin aku kali ini aja! Aku janji bakalan ngelakuin apapun yang kamu suruh asal kamu nggak minta cerai, plis Liv buka pintunya kita harus ngomong. " Pekik Radit histeris, sedari tadi laki-laki itu sudah sangat panik, apalagi saat mengetahui orang tua Livia sudah berada dalam perjalanan pulang.
Pasti laki-laki itu takut akan di pukuli lagi oleh orang tua Livia.
"Jangan berisik, nanti kalau orang tuaku sampai disini, baru aku buka pintunya, udah deh mending kamu diem! Aku pusing dengerin kamu ngomong mulu, aku butuh istirahat tau. " Balas Livia.
Suara ketukan pada pintu pun akhirnya berhenti.
###
Di tempat lain.
Deni yang saat ini sudah kembali aktif bersekolah dan mengikuti ekstrakurikuler pecinta alam di sekolahnya nampak sedang sibuk memeriksa bibit-bibit pohon yang akan di tanamnya besok di salah satu lahan penghijauan.
Sejak terakhir kali bertemu Livia beberapa hari yang lalu, Deni sudah tidak pernah lagi mencoba mencari tahu tentang gadis itu.
Dirinya sedang mencoba untuk move on dan menerima kenyataan, jika Livia memang sudah tidak bisa dirinya miliki lagi.
Maka dari itu, Deni memutuskan untuk aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya, agar dirinya bisa dengan cepat melupakan Livia.
"Gimana bibitnya, udah oke belom buat di tanam besok?. " Tanya Tama, salah satu teman Deni yang mengikuti ekstrakurikuler yang sama dengannya.
__ADS_1
"Aman ini mah. " Jawab Deni memberikan dua jempolnya.
"Bagus deh kalau gitu, besok jangan sampai lupa yah kita ketemu di titik kumpul jam 2 siang, abis pulang sekolah langsung kesana aja. " Ujar Tama lagi.
"Iya oke. " Jawab Deni.
"Eh dengar-dengar si Radit yang suaminya cewek paling populer di sekolah kita itu nggak masuk sekolah lagi loh hari ini, udah di cariin sama kepala sekolah. " Timpal Roi yang tiba-tiba saja sudah berada di antara Deni dan Tama.
"Bukannya si cewek itu hamil yah? Lagi sibuk kali ngurus istrinya itu. " balas Tama.
"Eh jangan ngomong gitu mantannya ada disini tau. " Ujar Roi melirik ke arah Deni yang nampak acuh tak acuh pada pembahasan Roi barusan.
"Eh maaf Den, aku lupa hehehe, lagian kenapa emangnya kalau dia nggak masuk sekolah, bukan urusan kita lagi. " Balas Tama.
Roi kemudian memajukan tubuhnya ke arah Tama dan berbisik.
"Dengar-dengar mereka bakalan cerai, Radit ketahuan selingkuh. " Bisik Roi.
Tama sedikit terkejut mendengar informasi tersebut, sementara Deni justru merasa kesal.
"Heh? Dengar dari mana kamu, jangan ngada-ada deh udah kayak cewek aja kamu suka bikin gosip nggak jelas. " Timpal Deni, merasa kesal dengan gosip-gosip aneh yang terus-terussan membicarakan Livia dan Radit di sekolahnya beberapa bulan terakhir ini.
"Aku beneran loh Den, aku dengar ini dari gosip-gosip teman gengnya Livia, katanya kakak kelas mantannya si Radit itu yang nyebarin beritanya. " Balas Roi tidak ingin Deni asal menuduhnya sebagi tukang penyebar gosip.
"Emangnya mantannya si Radit siapa. " Tanya Tama, ikut penasaran.
"Itu si kak Sinta, mereka berdua katanya ketemu diam-diam dan ketahuan sama Livia, dengar-dengar ada videonya. " Ujar Roi terus membagikan informasi yang di dapatkannya.
__ADS_1
Bersambung...