Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 89 : Menghukun Diri Sendiri


__ADS_3

Saat ini Livia hanya bisa membawa pulang jenazah Radit, sementara jenazah outir mereka akan di urus belakangan.


###


Satu bulan berlalu.


Setelah pemakaman Radit satu bulan yang lalu, untungnya tidak ada permusuhan di antara kedua keluarga besar yang sempat menjadi satu keluarga itu.


Keluarga Radit dan Livia memutuskan untuk tidak saling berkomunikasi lagi, taki persaudaraan yang pernah terjalin itupun sudah terputus, setelah kematian Radit.


Wajar saja, orang tua Radit saat ini pasti masih memiliki amarah yang terpendam. Karena anak laki-laki mereka meninggal akibat ulah Livia, gadis yang anak mereka cintai.


Orang-orang yang tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi oasti akan mengira kematian Radit sungguh ironis. Laki-laki itu mati di tangan istrinya yang sangat ia cintai.


Tapi bagi Livia, gadis itu terlihat tidak bai-baik saja. Hati-hati nya di isi dengan banyak melamun memandang keluar jendela kamarnya.


"Liv... " Panggil bu Silvia yang sedari tadi sudah berada di belakang anak semata wayangnya itu.


"Livia... " Panggilnya lagi, kali ini panggilan tersebut berhasil membuat perhatian Livia teralihkan.


"Eh mama, maaf tadi Livia melamun. " Balas Livia berbalik menatap mamanya.


Bu Silvia bisa memaklumi perasaan anak nm gadisnya itu.


"Makanan kamu belum di sentuh sama sekali loh Lib, kamu makan dulu yah. " Ujar Bu Silvia sembari mengambil bubur yang berada di atas meja di dekatnya.

__ADS_1


Livia menggelengkan kepalanya.


"Livia nggak nafsu makan ma. " Ujarnya lirih.


Gadis itu seperti sedang menghukum dirinya sendiri atas kematian Radit.


"Livia, kalau kamu nggak makan mama sama papa juga bakalan ikut sedih loh, kamu tega ngeliat mama sama papa nanti ikut jatuh sakit karena sengsaranngeliat kamu nggak mau makan kayak gini?. " Tanya bu Silvia berharap cara itu akan membuat perasaan Livia sedikit tersentuh.


Benar saja gadis itupun membuka mulutnya, mengisyaratkan agar bu Silvia menyuapinya.


Bu Silvia akhirnya bisa bernafas sedikit lega,m sembari menyuapi Livia, sekali-kali perempuan itu mengusap lembut kepala anaknya.


"Itu semua bukan salah kamu kok sayang, kamu harus inga mama sama papa bakalan selalu ada di sisi kamu dan membantu kamu. " Gumam bu Silvia.


Livia tidak membalas ucapan mamanya itu, pikirannya saat ini benar-benar kosong.


###


Perasaan Livia hari ini jauh lebih tenang bahkan gadis itu sudah keluar dari dalam kamarnya setelah satu bukan mengurung dirinya sendiri.


Mama dan papanya juga ikut senang melihat perkembangan anak gadis semata wayangnya itu.


Mereka bertiga kini sedang menikmati sarapan pagi di meja makan.


Bu Silvia dan suaminya sesekali melirik dan melemparkan kode.

__ADS_1


Livia yang menyadari hal itupun mengernyitkan kedua alisnya.


"Mama sama papa kenapa?. " Tanya Livia.


Kedua orang tuanya itulun sontak gekagaoan, membuat Livia semakin heran.


"Ah eh anu itu.... "


"Anu, gimana yah ngomongnya, papa aja deh yang ngomong... " Ujar bu Silvia.


"Mama aja, papa nggak berani sebenarnya. " Balas papa Livia.


"Ada apa sih?. " Tanya Livia sekali lagi.


Bu Silvia kemudian mulai mengatur nafasnya dan mengutarakan sesuatu.


"Liv, hmmm mama sama papa sebenarnya ada urusan mendadak di Sulawesi, bisnis baru oala kamu disana udah dapat investor, rencananya kami berdua mau... "


Belum sempat bu Silvia menyelesaikan ucapannya Livia segera memotong.


"Oh pergi aja... " Ujar gadis itu, nampak santai.


Bu Silvia dan suaminya kembali bertataoan untuk sesaat.


"Hmm kamu nggak apa-ala kami tinggal sendirian dirumah beberapa hari?. " Tanya papa Livia.

__ADS_1


"Iya nggak masalah, Livia udah jauh lebih baik kok lagian Livia nggak sendirian karena ada bibi di rumah, kalian pergi aja. " Balas Livia.


Bersambung...


__ADS_2