Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 19 : Emosi


__ADS_3

Episode sebelumnya...


"Kalau itu Deni, pasti laki-laki itu bakalan langsung datang. " Lirih Livia.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


Deni yang baru saja selesai memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, karena beberapa saat yang lalu lonceng tanda pulang sekolah telah berbunyi.


Laki-laki itu melangkahkan kakinya menuju keluar pintu kelas, namun beberapa langkah lagi ia mencapai pintu itu, telinganya yang sensitif mendengar teman-teman sekelasnya sedang bergunjing tentang Livia


"Wah kayaknya bakalan heboh nih. " Turur Widia.


"Hahaha, iyayah gak nyangka kalau bakalan seheboh ini. " Balas Dina.


"Widih, ini beneran si Livia hamil? Enak banget tuh yang ngenalin pasti pink tuh si Livia. " Ujar Toni.


"Hahahaha." Tawa Widia diikuti oleh beberapa teman kelasnya yang lain.


Mendengar hal itu membuat darah Deni terasa sangat panas mengalir di dalam tubuhnya. Tanpa ba bi bu ia langsung menerjang ke Toni danemnerikan bogem mentah ke wajahnya sebagai balasan narena sudah mengatakan hal yang tidak enak di dengar tentang Livia.


"Apa-apaan kamu Den?. " Ujar Toni, termakan emosi.


"Kamu yang apa-apaan, kalau ngebacitikir dulu pake otak. " Balas Deni tidak mau kalah.


"Kamu marah karena Livia beneran hamil?kamu udah liat pinknya belom? Atau mungkin dia ada main sama si Radit di belakang kamu, hahaha kalah cepat kamu Den. " Ujar Toni dengan nada mengejek.


"Anj, sialan emang kamu. " Pekik Deni memberikan satu kali bogem mentah lagi ke arah perut Toni.


Buk...


"Aw ah, sakit. " Toni memekik kesakitan memegangi perutnya.


"Ihhhh ini kalian kenapa malah jadi pada berantem sih. " Teriak Dina, hal tersebut semakin memicu teman sekelas Deni yang berada di luar ruangan segera memasuki kelas.


Deni yang menyadari hal tersebut dan tidak ingin memperpanjang masalah dan bahan tontonan, ia segera berlari keluar dari kelas meninggalkan teman-temannya.


"Mau kemana kamu? Heee kita belum selesai. " Teriak Toni, tidak Terima Deni pergi begitu saja setelah memukulnya.

__ADS_1


Gosip-gosip semakin santer terdengar, di tambah video Deni yang memukul Toni juga ikut viral di grup whatsapp sekolah mereka.


"Sialan, sialan, sialan!. " Umpat Deni emosi, laki-laki itu baru saja mengecek ponselnya. Ia saat ini sudah berada di dalam mobilnya.


"Aergghhhh, kenapa jadi macam kayak gini sih. " Pekik Deni, prustasi.


Deni kemudian menyalakan mesin mobilnya dan dengan kecepatan tinggi ia mengendarai mobil tersebut keluar dari gerbang sekolah tanpa memperhatikan murid-murid yang ada di sekitarnya.


Hidupnya hancur berantakan dalam sekejap karena gosip-gosip itu, padahal niat Deni yang awalnya baik kepada Livia justru malah berakhir seperti ini. Sebentar lagi pasti mamanya akan di panggil oleh kepala sekolah.


Akibat yang lebih datanya adalah Deni bisa saja mendapatkan skorsing. Memikirkannya saja membuat Deni semakin prustasi karena mamanya akan sangat sedih setelah mendengar cobaan yang bertubi-tubi menghampiri Deni.


###


Di tempat lain, Radit sudah berada di halaman depan rumah Livia. Tidak ada orang lain di rumah tersebut selain Livia dan Bibi yang berada di dalam rumah.


Orang tuanya sedang berada di salah satu toko kain mereka.


Plak


Satu tamparan langsung mendarat di pipi pemuda itu.


"Aw sakit bego. " Pekik Radit memegang pipinya.


Tangan Livia terangkat lagi dan segera akan mendarat di pipi Radit yang satunya, namun dengan sihao Radit menangkap tangan Livia.


"Aw, lepasin!. " Teriak Livia.


"Enggak bakal. " Balas Radit.


"Lepasin nggak, kurang ajar!. " Bentak Livia, ia kemudian berhasil menghempaskan tangan Radit dengan kasar. Emosi Livia seketika meluap-luap saat melihat tampang Radit.


"Kasar banget sih, orang baru datang juga udah di caci maki. " Keluh Radit.


"Heh, itu aja gak cukup yah buat kelakuan menjijikkan kamu ke aku, bajingan!. " Ketus Livia.


"Ya udah deh maaf, maafin aku Livia, akukan udah bilang mau bertanggung jawab, bisa gak sih kita akur-akur aja sampai acara pernikahan kita di laksanakan. " Tutur Radit, mengalah.


"Orang tua kamu aja nggak jelas mau datang atau enggak uda bahas pernikahan. " Sinis Livia.

__ADS_1


"Ya aku juga lagi usaha buat nyuruh mereka datang lebih cepat, mana perut kamu udah makin gede lagi. " Radit mencoba memegang perut Livia.


"Eh enak aja, main pegang-pegang. " Tepis Livia.


"Ya elah Livia, itukan di dalam perut kamu anak aku juga, masak cuman mau megang anak sendiri gak boleh. " Balas Radit.


"Ini tuh perut aku, anak kamu ada di dalamnya yang mau kamu pegang itu perut, dasar!. " Ujar Rania, ketus.


"Iya deh iya, maaf aku salah lagi, jadi kamu manggil aku kesini cuman mau buat ngomel dan lampiasin marah kamu? Kirain mau bahas soal yang di sekolah itu. " Ujar Radit.


"Nah itu juga yang mau aku bahas sama kamu, maksud kamu apa nyebar-nyebarin soal aku yang hamil? Kamu mau bikin aku malu? Enggak mempan dan nggak bakalan ada yang percaya setelah aku udah lahiran nanti, bakalan aku bungkam semua mukut-mulut para penggoaio yang kamu kasih informasi tentang aku itu. " Omel Livia.


"Aku nggak ada nyebarin Livia, justru berita itu aku dengar dari teman-teman geng kamu dan dari teman kelas Deni dan kayaknya temannkekas Deni juga dapat info tentang kamu hamil ini dari teman kamu juga, mereka jadi perhatian di sekolah seharian ini karena poto kertas pengumuman di mading yang di kirim ke grup whatsapp itu . " Ujar Radit.


"Teman-teman aku?. " Tanya Liivia, sedikit tidak percaya.


Radit kemudian menceritakan awal mula kenapa gosip-gosip itu bisa muncul, di awali dengan kecurigaan teman-teman geng Livia yang bergosip dan gosipnya itu di dengar oleh orang lain, siklusnya terus berulang dari mulut satu ke mulut yang lainnya hingga gosip tersebut menyebar ke seluruh penjuru sekolah.


"Di tambah lagi kemarin Deni masuk ke kelas aku dan langsung ngasih bogem, nih lihat mukaku lebam tau gak, karena emosi akhirnya aku juga jadi balas ejekin dia aja, eh gak taunya ucapan aku itu jadi buah bibir lagi di sekolah. " Jelas radit sambil memperlihatkan wajahnya.


"Rasain, kamu emang pantes dapetin itu. " Sinis Livia, membenarkan tindakan Deni.


"Tapi karena ucapan aku itu gosip tentang kamu makin jadi Liv, terus mereka juga ngomongin tentang homeschooling kamu yang tiba-tiba,sebenarnya aku tau kamu hamil juga karena denger merka ngmngin kamu mual pas di kelas. " Ujar Radit.


"Kurang ajar!. " Livia benar-benar merasa geram tidak menyangka jika teman-teman gengnya akan melakukan hal kotor seperti itu hanya karena Livia sudah tidak bisa lagi ikut berkumpul dan membayarkan makanan geman-temannya tersebut menggunakan uang-uang yang di dapatkan Livia dari para pacar nya.


"Maaf Liv yah, aku kemarin kelepasan ngomong juga tanpa mikirin..... "


Rania segera memotong ucapan Radit.


"Ah, udahlah kamu sama Deni sama aja, Sama-sama brengsek, udah sana pulang ke rumah kamu dan hubungin tuh orang tua kamu! Kalau enggak, siap-siap aja papa aku bakalan nyari cara buat nangkep kamu dan ngilangin kamu dari muka bumi ini untuk selamanya. " Ancam Rania.


Radit yang mendengar ancaman itu sedikit terkejut, ia kemudian segera beranjak lalu berpamitan dan langsung pergi dari rumah Livia.


"Berani-beraninya cewek-cewek udik itu hianatin aku!. " Pekik Livia memikirkan teman-teman gengnya yang baru di tinggalkan beberapa hari saja sudah membuat reputasi Livia jadi kian memburuk di sekolah.


Mau di taruh dimana wajah Livia jika seluruh sekolah benar-benar mengetahui tentang kehamilannya.


"Sepertinya aku harus segera nikah dan pergi keluar negeri atau tinggal di kota lain sampai aku selesai ngelahirin bayi ini." Lirih Livia.

__ADS_1


Bersambung...


Note : klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian.


__ADS_2