Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 69 : Check Up


__ADS_3

"Halo mama, Livia sudah sampai. " Ujar gadis itu.


###


Keesokan paginya.


Terik matahari pagi seketika membuat kulit Livia terasa terbakar, namun untungnya ia mengenakan pakaian lengan panjang.


Dengan mendorong kursi roda Radit, kini mereka menuju ke gedung rumah sakit tempat dimana Radit akan menjalani pengobatannya.


"Maaf ya Livia, aku ngerepotin kamu. " Ujar Radit, saat melihat Livia yang nampak ngos-ngossan tengah duduk di ruang tunggu.


Mereka berdua kini duduk disana menunggu giliran. Sementara orang tua Radit masuk duluan ke dalam ruangan dokter yang akan menangani Radit.


"Nggak apa-apa kok Dit, udah tugas aku sebagai istri kamu, aku mesti bertanggung jawab buat ngurusin kamu. " Balas Livia, memperlihatkan senyum tulusnya.


Baru kali ini gadis itu tersenyum tulus kepada Radit. Biasanya mereka selalu berdebat bahkan tidak berkomunikasi selama seharian.


Keduanya kembali terdiam, tidak ada yang memulai pembicaraan hingga salah satu wanita berseragam serba putih menghampiri Livia dan Radit.


"Maafkan saya, Cik Livia dan Encik Radit, kini giliran anda untuk memasuki bilik rawatan Doktor Roi. " Ujar perawat itu, berbahasa Melayu logatnya terdengar sangat kental namun untungnya Livia bisa mengerti apa yang di katakan nya.

__ADS_1


Apalagi bahasa Melayu tidak terlalu jauh berbeda dengan bahasa Indonesia. Sepertinya perawat itu mengerti jika Livia dan Radit adalah orang Indonesia makanya ia menggunakan bahasa Melayu untuk berkomunikasi dengan keduanya.


"Terimakasih." Balas Livia, sembari kembali mendorong krusi roda Radit mengkuti perawat itu menuju ke ruangan dokter Roi.


Tidak lama kemudian mereka sduah sampai, orang tua Radit langsung mengambil alih sementara Livia di suruh menunggu di luar ruangan. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.


Livia tidak ingin ambil pusing, yang terpenting saat ini Radit sudah dalam perawatan dokter terbaik di rumah sakit tersebut.


"Cik, doktor Roi memanggil awak untuk masuk ke dalam menemani suami awak. " Ujar perawat tadi tiba-tiba saja sudah berada di depan Livia.


Livia yang belum cukup satu menit duduk itupun langsung berdiri kembali masuk ke dalam ruangan dokter Roi.


"Ada apa pa? Ma?. " Tanya Livia bingung mengapa dirinya di suruh kembali masuk.


"Ah iya Pa. " Balas Livia.


Bu Ariana hanya diam saja, entah mengapa hari ini mertuanya tersebut lebih banyak diam, tidak seperti kemarin lebih banyak mengomelinya.


Setelah mertuanya keluar Livia segera menghampiri dokter Roi yang kini tengah memeriksa keadaan Radit.


"Livia, sini dekat aku jang jauh-jauh. " Pinta Radit menujuk kursi di samping bangsal nya.

__ADS_1


"Disini saja, aku akan melihatmu dari sini dokternya bisa terganggu jika aku duduk disana. " Balas Livia.


Dokter Roi membalikkan tubuhnya ke arah Livia lalu seketika tersenyum.


"Tidak apa-apa, duduklah di dekatnya agar dia merasa lebih rileks. " Ujar dokter itu.


Livia yang mendengarnya sontak melongo, tidak menyangka dokter tersebut lancar berbahasa Indonesia. Livia lebih melong lagi karena wajah dokter Roi mengingatkannya pada seseorang.


"Deni?. " Lirih Livia pelan. Entah mengapa dokter Roi nampak sangat mirip dengan Deni, yang membedakan hanyalah wajahnya sudah nampak lebih dewasa dan potongan rambutnya berbeda.


Dokter Roi juga sepertinya lebih tinggi dari pada Deni.


Livia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa-apaan kenapa aku malah memikirkan Deni, di sistiasi seperti ini. " Batin Livia.


"Livia, kesini saja dokternya gak apa-apa kok, iyakan dokter?. " Ujar Radit, membuyarkan lamunan Livia.


Dokter Roi kembali mengangguk.


"Ah iya, aku kesitu. " Balas Livia, berjalan mendekati Radit dan dokter Roi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2