Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 61 : Kejadian Naas


__ADS_3

"Mending kamu pulang aja, aku udah telpon orang tuaku mereka dalam perjalanan pulang. " Ancam Livia berbohong, agar Radit mau segera pergi dari rumahnya.


###


"Livia, kamu sama sekali nggak mikirin anak kita?. " Tanya Radit lagi, meskipun harimua sedikit berteriak karena jarak antara keduanya cukup jauh.


Radit berada di depan pintu utama lantai bawah sementara Livia berada di teras lantai dua.


Livia sama sekali tidak terkecoh dengan ucapan Radit, menurutnya ia bisa membesarkan anaknya seorang diri di bandingkan harus memiliki ayah seperti Radit.


"Aku bisa jadi ayah sekaligus ibu buat anak aku, kamu nggak usah bawa-bawa anak ini semua yang kamu lakuin itu atas dadar kemauan kamu sendiri jadi aku harap kamu bisa sadar dan bersikap lebih dewasa Dit. " Ujar Livia. Namun, bukannya menghiraukan ucapan Livia Radit malah mencari cara untuk naik ke atas teras tempat Livia saat ini berada.


"Aku nggak bakalan nyerah sampai kamu mau nerima aku lagi, Livia! Anak itu bakan kita besarin sama-sama. " Pekiknya sembari mencari-cari sesuatu, sedetik kemudian laki-laki itu menghilang.


Bukannya lega, Livia justru merasa panik karena Radit sudah pernah tinggal ggal di rumahnya otomatis laki-laki itu tahu titik-titik tertentu di rumah tersebut.


"Duh sialan! Tuh orang nekat banget lagi, mana sih Deni nggak nyampe-nyamoe juga. " Lirih Livia, panik sembari mencoba menghubungi Deni lagi.

__ADS_1


Tak


Buk


Sebuah suara keras yang berbenturan dengan tembok teras terdengar, Livia melongok kan kepalanya untuk mencari tahu apa itu, namun sedetik kemudian mata Livia terbelalak kaget.


Gadis itu sontak menganga, ponselnya terjatuh ke lantai.


Radit nekat mengambil tangga yang tersimpan di gudang belakang rumahnya untuk naik ke tempat Livia saat ini berada.


"Livia.... Tunggu aku di atas. " Ujar Radit, meskipun samar-samar akan tetapi suaranya masih bisa terdengar oleh Livia.


"Ah itu, semoga itu bisa menggagalkan rencana Radit. " Pekik Livia saat melihat tongkat golf milik papanya yang sudah sangat jarang di gunakan.


Livia meraih tongkat golf berbahan besi itu lalu kembali berlari keluar teras rumahnya lalu dengan pasti Livia memukuli tangga besi itu untuk memberikan peringatan kepada Radit agar laki-laki itu mau berhenti dari aksi nekatnya yang sudah seperti pencuri.


Radit yang posisinya sudah berada di tengah-tengah anak tangga itu dengan percaya diri terus melangkah naik.

__ADS_1


"Heh, kalau kamu nggak mau turun aku bakalan pukul kamu pakai tongkat golf ini." Ancam Livia.


Radit yang mendengar ancaman Livia sontak menatap ke atas.


"Livia, jangan dong! Aku cuman pengen ngomong baik-baik sma kamu. " Pinta Radit, laki-laki itu menghentikan aksinya sebentar.


"Aku udah bicara baik-baik dari tadi sama kamu, tapi kamunya bebal jadi rasain nih. " Ujar Livia sembari mengoyangkan tangga besi tersebut lalu mendorong nya, berharap Radit akan langsung meloncat saat tangga besi itu tumbang.


Namun, naas bukannya langsung melompat saat menyadari tangganya akan jatuh karena dorongan keras Livia, Radit justru memeluk tangga itu sehingga tubuhnya jatuh dan tangga besi itu sontak menghantam tubuh Radit.


"Aaarrghh Radit! Loncat!........ " Pekik Livia histeris.


Sayangnya, tubuh Radit sudah terkulai lemas dan langsung tidak sadarkan diri saat itu juga. Kepalanya yang lebih dahulu menghantam cor di halamar rumah Livia nampak mengeluarkan darah.


"RADIT?. " Panggil Livia berharap lami-laki itu akan menjawabnya.


"RADIT, JANGAN PURA-PURA PINGSAN!. " Teriak Livia lagi, namun tidak ada jawaban dari laki-laki itu.

__ADS_1


Livia langsung berlari ke lantai bawah untuk memberikan pertolongan kepada Radit, bersamaan dengan itu mobil Deni juga sudah tiba di depan rumah Livia.


Bersambung...


__ADS_2