
Episode sebelumnya...
Hingga sedetik kemudian.
"LIVIA?. "...
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
Livia sontak tertegun dan langsung terdiam sesaat setelah mendengar namanya di panggil seseorang.
Livia menengok keluar pagar dan melihat seorang laki-laki dengan pakaian rapih serta sebuah mobil yang terparkir di depan rumahnya.
"Oh Tuhan, terimakasih telah membantuku. " Lirih Livia merasa bersyukur ada seseorang yang datang ke rumahnya siang ini. Meskipun orang itu seharusnya tidak datang ke rumah Livia lagi.
"Livia kamu ngapain duduk disitu?. " Tanya laki-laki itu lagi sambil berjalan mendekati pagar rumah Livia. .
"LIVIA!. " Pekik Radit yang kini juga sudah berada di hadapan Livia.
Radit kemudian berjongkok ingin membantu Livia berdiri.
"Deni TOLONG!. " Teriak Livia.
Laki-laki di luar pagar yang ternyata adalah Deni itu segera berlari masuk ke dalam pagar rumah Livia dan mendorong Radit menjauhi gadis itu.
"Apa-apaan?. " Radit yang melihat kejadian tersebut merasa kesal dengan kedatangan Deni.
"Kamu yang apa-apaan?." Balas Radit.
"Ngapain kamu kesini?. " Tanya Radit, ketus.
"Aku kesini mau ketemu Livia, memangnya kenapa?. " Deni bertanya balik.
"Livia sudah jadi istri aku, kamu nggak berhak temuin istri orang!. " Balas Radit, bengis.
"Udah-udah, bukannya bantuin, kakiku yang sakit kalain berdua malah berdebat. " Ujar Livia menengahi perdebatan dua laki-laki itu.
__ADS_1
"Radit, kamu nggak berhak yah ngelarang orang lain buat ketemu sama aku, Deni tolong bantuin aku masuk ke dalam rumah. " Lanjut Livia.
Deni berinisiatif menggendong Livia masuk ke dalam rumahnya, sementara Radit hanya melongo, seperti orang bodoh.
Sesampainya di dalam kamar, Deni segera meletakkan Livia di sudut kasurnya lalu dudik di sudut kasur yang lain sambil memeriksa kaki Livia yang berdarah.
"Kita ke rumah sakit aja deh Liv, takutnya kaki kamu kenapa-napa. " Ujar Deni, melihat darah yang terus-terussan mengalir..
"Enggak, aku nggak mau!. " Balas Livia, terakhir kali ia pergi periksa kandungan bau rumah sakit yang menusuk indera penciuman nya membuativia mual. Livia trauma dengan perasaan mual yang memuakkan itu.
"Kotak p3knya dimana?. " Tanya Deni lagi.
"Nih." Ujar Radit yang tiba-tiba saja muncul mengulurkan kotak p3k.
Deni segera membuka kotak tersebut dan memberikan pertolongan pertama kepada kaki Livia.
"Aw sakit, jangan di pencetin Den. " Pekik Livia merasakan perih pada telapak kakinya saat Deni mencoba membersihkan sisa darahnya.
"Iya maaf. " Balas Deni.
Radit yang melihat itu hanya melipat tangan di dadanya sambil pasrah menonton istrinya sedang di sentuh oleh laki-laki lain.
"Nah selesai, udah nggak sakit lagi kan?. " Ujar Deni setelah selesai merekatkan perban pada luka Livia.
Livia menangguk sambil tersenyum.
"Thanks Den. " Balas Livia.
"Sama-sama Liv. " Ujar Deni sambil tersenyum menatap wajah Livia.
Radit yang melihat itu seketika merasa tidak terima dan langsung duduk di samping Livia.
"Kamu udah nggak apa-apaan kan beb?. " Tanya Radit sambil memegang pinggang Livia.
"Apaan sih Dit gara-gara kamu nih!. "Livia menghempaskan tangan Radit.
Radit seperti sengaja ingin membuat Deni cemburu.
__ADS_1
" Maaf sayang, abisnya kamu sih pakek lari-larian segala yah aku kejar lah." Balas Radit.
"Liat perbuatan kamu, kalau orang tuaku pulang, bakalan langsung aku laporin!. " Ancam Livia. .
"Maafin dong sayang, suami kamu ini, lagian Kamu udah nggak apa-apakan sayang abis di obatin Deni? Kan tadi udah aku bilang kalau mau main jangan di luar ruangan mesti pake alas kaki, tuh kan kakinya jadi berdarah. " Ujar Radit lagi, kali ini ia memegang tangan Livia.
Livia merasa tidak nyaman, sementara Deni nampak canggung berada dalam posisi itu.
"Ya udah kalau gitu aku pamit yah Livia. " Ujar Deni kemudian.
"Oh iya Deni, silahkan pintu terbuka lebar untuk kamu. " Sinis Radit.
Deni menatap sinis ke arahraditi, namun sedetik kemudian Deni beranjak dari tempatnya duduk.
Livia menahan Deni.
"Eh tunggu, kamu datang kesini pasti karena sengaja kan Den?ada apa emangnya? . " Tanya Livia.
"Ah, aku.... "
"Ya iyalah, kamu datang kesini pasti mau ngemis-ngemis cintanya Livia lagi kan, Livia udah cerita semuanya dan kami udah bahagia Den, mending kamu sadar diri karena Livia sama aku udah nikah. " Radit memotong ucapan Deni.
"Apaan sih . " Timpal Livia.
"Nggak usah sungkan-sungkan sayang, bilang aja ke Deni, biar dia nggak usah datang kesini lagi. " Balas Radit.
Livia memutar bola matanya malas mendengar ocehan Radit yang terdengar sengaja ingin memanas-manasi Deni.
"Ya udah kalau gitu aku permisi ya Livia. " Ujar Radit, kali ini laki-laki itu langsung keluar dari kamar Livia.
Tujuannya datang ke rumah Livia memang hanya ingin memastikan gadis itu dalam keadaan baik-baik saja. Namun, melihat Radit yang terus menyentuh tubuh Livia membuat hatinya sakit.
"Eh Den, tunggu. " Ujar Livia mencoba menahan Deni, namun ia merasa tidak sanggup untuk berdiri.
"Udah kamu di kamar aja, biar aku yang anterin Deni sampai kedepan pagar. " Ujar Radit berinisiatif dan langsung berlari lalu menghilang dari balik pintu.
Livia hanya bisa pasrah, berharap kedua laki-laki itu tidak berdebat dan membuat keributam di luar rumahnya.
__ADS_1
Bersambung...