
"Nggak ada tapi-tapian, kalau kamu nggak setuju, ya udah aku bakalan telpon orang tuan kamu dan ngabari ke mereka soal kelakuan kamu tadi siang. " Ancam Livia.
###
Mendengar ancaman tersebut Radit hanya bisa terdiam dan pasrah.
Livia kemudian beranjak dan menepis tangan Radit dari kakinya.
"Aku mau tidur duluan, ingat jangan naik ke ranjang aku kalau kamu nggak dalam keadaan bersih. " Ujar Livia meninggalkan Radit sendirian di ruang tu.
Livia masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil bermain ponsel.
Sementara Radit, baru masuk ke dalam kamar 15 menit kemudian, setelah Livia benar-benar sudah tertidur lelap.
###
Pagi harinya, setelah membuatkan nasi goreng untuk Radit dan menyiapkan bekal untuk laki-laki itu, Livia nampak kebingungan memperhatikan dua toples berukuran kecil yang ada di tangannya.
"Tadi aku masukin garam apa gula yah?. " Lirih Livia.
Pada saat memasak nasi goreng tadi, dirinya benar-benar tidak ingat mana yang dirinya campurkan ke dalam nasi goreng buatannya itu.
"Livia.... " Panggil Radit yang sepertinya sudah siap untuk sarapan.
"Eh iya. " Balas Livia segera keluar dari dapur sambil membawa satu piring nasi goreng di tangan kanannya dan kotak bekal berisi roti dan buah.
__ADS_1
"Wah kamu beneran masak buat aku?. " Tanya Radit, takjub.
"Terpaksa!. " Ketus Livia.
Livia meletakkan sepiring nasi goreng ke hadapan Radit yang sudah duduk di kursi meja makan.
"Itu bekal aku?. " Tanya Radit menunjuk kotak bekal di tangan kiri Livia.
"Iya nggak usah banyak tanya, coba di makan. " Ujar Livia.
Radit kemudian menyiapkan satu sendok nasi goreng buatan Livia ke dalam mulutnya, mengunyahnya perlahan dan sedetik kemudian Radit berlari ke dapur.
Livia mengikutinya dari belakang sambil meringis.
"Huekkkk." Radit memuntahkan nasi goreng yang hampir masuk ke dalam tenggorokannya.
"Nasi goreng nya manis banget Livia, kamu sengaja mau bikin aku sakit perut pagi-pagi?. " Pekik Radit berjalan keluar dari dapur.
Benar saja dugaan Livia tadi, yang di campurkan nya ke dalam nasi goreng itu bukanlah garam melainkan gula pasir. Tidak tanggung-tanggung Livia memasukkan empat sendok gula pasti ke dalam nasi gorengnya tersebut.
Livia benar-benar tidak mengerti bagaimana menakar bumbunya.
Radit beranjak ke meja makan untuk mengambil tasnya, ekspresinya nampak kesal.
"Kasih aku uang jajan. " Ujar Radit.
__ADS_1
"Tapi, aku udah bikinin kamu bekal kok, ini pasti nggak bakalan bikin kamu sakit perut soalnya isinya cuman roti sama buah. " Balas Livia.
"Emangnya kamu pikir bisa kenyang cuman makan roti sama buah? Aku ini orang Indonesia Livia, belum makan namanya kalau nggak makan nasi. " Cecar Radit.
Livia kemudian melenggang masuk ke dalam kamarnya, tidak lama kemudian Livia keluar membawa dompetnya, mengeluarkan satu lembar uang 50.000.
"Nih." Livia memberikan uang tersebut kepada Radit.
"Limpul gini mana cukup Livia. " Ujar Radit.
"Ya udah kalau nggak mau, balikin duitnya. " Balas Livia.
"Nggak bisa gitulah mau kamu jadi monyet" Ujar Radit kemudian, mengalah.
"Enak aja, kan kamu yang nolak duitnya. " Balas Livia.
"Ya udah, aku bawa lima puluh aja, dari pada mati kelaparan. " Oceh Radit sambil berlalu pergi.
"Ingat yah duit jajannya mesti di hemat Dit, ngelahirin anak kamu ini butuh biaya tau, jangan boros-boros." Omel Livia sudah seperti ibu-ibi pada umumnya.
Radit tidak menghiraukan Livia, laki-laki itu membawa tasnya dterus melangkah ke arah pintu utama, Radit juga bekal yang di buatkan Livia tadi.
Melihat hal tersebut Livia berdecak kesal.
"Cih! Katanya nggak bikin kenyang tapi di bawa juga. " Omel Livia.
__ADS_1
Bersambung...