Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 12 : Merasa Bersalah


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Deni kemuian keluar dari kamar Livia dan pulang ke rumahnya sendiri tanpa berpamitan.


###


Happy Reading an Enjoy yah Guys.


"Livia, tunggu aku, dengarin dong kalau orang lain lagi ngomong. " Pinta Deni yang mengejar Livia. Namun, gadis itu terus berjalan meninggalkan Deni.


Hari ini Livia menyuruh Deni untuk menemaninya ke dokter kandungan, namun setelah pemeriksaan Livia justru menanyakan apakah dirinya bisa aborsi di tempat tersebut.


Untungnya dokter itu masih waras dan menganjurkan Livia untuk lebih banyak istirahat dan mengkonsumsi makanan yang sehat.


Hal tersebut memicu kemarahan Livia hingga Denilah yang menjadi tempat pelampiasannya.


"Kita pergi ke dokter kandungan yang lain, yang mau bantu aku aborsi anak ini. " Teriak Livia yang sudah berada di dalam mobil.


"Livia, gak bisa gitu, kenapa sih kamu gak nerima aku aja? Aku yang bakalan tanggung jawab!. " Tegas Deni, ikut merasa prustasi karena Livia yang tidak mau menerima pertanggung jawabannya.


Livia hanya terdiam.


"Ya udah kalau kamu gak mau nemenin aku ke dokter kandungan yang lain, kasih pinjem aku uang kamu aja, biar aku pergi sendiri. " Ujar Livia kemudian.


"Gak, itu gak bakalan pernah terjadi, kemanapun kamu pergi kamu harus sama aku!. " Tegas Deni.


"Ah sialan!. " Umpat Livia.


"Kenapa sih kamu gak bisa nerima aku? Lihat aku Livia? Aku mau tanggung jawab. "


"Bukan kamu yang ngehamilin aku, kenapa kamu yang mau tanggung jawab dasar bego!. " Bentak Livia.


"Karena aku cinta sama kamu. "


"Cinta aja gak cukup, Deni!. "


"Aku bakalan kasih semua apapun kamu minta. "


"Meskipun kayak gitu, itu gak bakalan cukup karena aku gak cinta sama kamu, ini bukan anak kamu, aku gak suka di kasianin. " Tegas Livia.


"Aku mau nikahin kamu bukan karena kasian tapi karena aku cinta sama kamu, Livia. " Jelas Deni.


"Udahlah, gak usah munafik mana ada laki-laki yang mau nikahin perempuan hasil perkosaan yang lagi hamil, kayaknya bukan aku deh yang gila tapi kamu!. "


"Iya kenapa kalau aku emang gila? Apa aku mesti jadi gila beneran biar kamu mau nerima aku buat tanggung jawab?. "


Livia sedikit terkejut mendengar Deni berbicara dengan nada tinggi.


Deni lalu menyalakan mobilnya dan melaju di jalan Raya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, hingga mereka berdua sampai di sebuah tempat yang cukup sepi.


"Kenapa kita berhenti disini?. " Tanya Livia memperhatikan sekitarnya yang sangat sepi, ini juga bukan jalan menuju ke rumahnya.

__ADS_1


"Kamu bilang, kamu bakalan nerima aku kalau aku jadi gila beneran? Oke aku bakalan buktiin ke kamu ke gilaan aku. "


Deni membuka baju kaosnya dan segera mengunci mobilnya agar Livia tidak bisa lari ke mana-mana.


Livia yang melihat itu sontak terkejut dan ingin segera melarikan diri dari Deni.


"Apa-apa sih kamu Deni!. " Bentak Livia.


"Ini kan yang kamu mau aku lakuin. " Balas Deni, ia kemudian membuka taki pingganya dan memutar pengaturan kursi Livia agar posisi gadis itu jadi berbaring.


"Aw ah, Deni, kurang ajar. " Teriak Livia, merasakan Deni yang langsung menindih tubuhnya.


Deni merobek paksa pakaian Livia, membuat gadis itu semakin meronta-ronta.


"Deniiii, plis berhenti aku takut. " Teriak Livia.


Deni terus memaksa Livia untuk menatap wajahnya.


"Kenapa takut? Kamu bilang gak bisa nerima aku karena bukan aku kan yang ngehamilin aku ya udah sekalian aja kita lakuin, biar anak yang ada di dalam perut kamu itu jadi anak aku. " Ujar Deni.


"Deni, awas yah kalau kamu berani macam-macam. "


"Macam-macam gimana? Ini kan yang kamu mau?. " Deni membuka celana levi's nya dan memperlihatkan celana kolor berwarna biru muda. Hanya itu yang tersisa di tubuh Deni saat ini.


"Deni, apa-apaan kamu kayak gitu, minggir nggak, kamu berat tau. " Omel Livia, mencoba mendorong tubuh Deni.


"Buat ngebuktiin kalau aku juga bisa jadi gila beneran Livia, lihat, lihat aku. " Ujar Deni memaksa Livia untuk menatap tubuhnya.


"Kenapa nyuruh berhenti? Kamu belum ngeliat punyaku udah mau berhenti aja. "


"Deni, huuueeekkkk. " Livia kembali mual.


Deni yang melihat itu langsung mengangkat tubuhnya dan duduk kembali ke kursi kemudi.


"Huekkkkk." Livia memuntahkan seluruh isi makanan yang ada di dalam perutnya.


"Ya ampun kamu muntah-mintah lagi. " Deni khawatir melihat melihat Livia seperti itu. Deni kemudian berinisiatif untuk menjadikan baju kaosnya untuk menampung muntahan Livia.


"Aduh sa ki t, huekkkkkkk. " Livia kembali muntah.


Deni segera membuka semua kaca mobilnya secara otomatis agar Livia bisa menghirup udara segar.


Livia berlari keluar dari dalam mobil, Deni segera memakai celananya dan memakai switer yang selalu ia bawa di dalam mobilnya.


Livia kembali memuntahkan isi perutnya di pinggir jalan, gadis itu terduduk lemas.


Deni segera memijat bahu gadis itu.


15 menit kemudian setelah merasa agak enakan, Livia berdiri di bantu oleh Deni, tubuhnya jadi sangat lemas. Untuk berdiri saja Livia sudah tidak sanggup.


Deni segera mengangkat gadis itu dan membawanya kembali masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Untungnya Deni sudah menyiapkan tissu basah di dalam mobilnya. Deni membersihkan tubuh Livia yang terkena muntahannya sendiri, dengan lembut dan penuh kasih sayang. Baju Livia sedikit robek pada bagian dadanya.


Deni jadi merasa sangat bersalah. Ia memastikan posisi duduk Livia nyaman sehingga gadis itu bisa tidur dengan nyaman. Livia yang lemas sudah tidak dapat dapat melakukan apa-apa gadis itu hanya pasrah.


Deni kemudian menyalakan mobilnya kembali dan membawa Livia pulang ke rumah.


###


Deni menggendong Livia masuk ke dalam rumah yang ternyata orang tua Livia juga sudah ada disana.


Dengan sigap Deni membawa Livia masuk ke dalam kamar gadis itu dan membaringkan nya ke tempat tidur.


"Ada apa Deni?. " Tanya Mama Livia sedikit terkejut sekaligus panik.


"Maaf om, tante. " Ujar Deni ekpresi wajahnya penuh penyesalan.


"Ya ampun ini Livia kenapa? Kok bajunya robek gini Deni? Kalian di jambret?. " Tanya Papa Livia kepada Deni.


Deni kemudian bertekuk lutut kepada orang tua Livia.


"Maaf, om, tante, saya gak benar-benar khilaf dan gelap mata. "


"Maksud kamu?. " Pak Zul tidak mengerti.


"Sa-saya tadi berniat membuat Livia mau menerima pertanggung jawaban saya dengan cara melakukan hal itu namun karena Livia menolak saya... "


Papa Livia segera memotong ucapan Deni.


"Apa?. " Bentak Pak Zul.


"Maafin saya om, saya benar-benar gelap mata. "


Mama dan Papa Livia benar-benar tidak habis pikir, kenapa Deni harus melakukan hal sekitar itu.


"Udah gak ada pilihan lain, kamu memang sudah harus menikahi Livia besok langsung bawa orang tua kamu datang kesini biar kalian langsung tunangan!. " Tegas Pak Zul.


Livia yang kesadarannya sudah pulih karena mendengar Papanya berbicara dengan Deni, langsung ikut berteriak.


"Aku gak mau, aku gak mau Deni jadi suamiku. " Ujar Livia.


"Gak ada istilah gak mau, gak mau lagi! Pokoknya kalian berdua harus menikah, secepat mungkin, perut kamu udah semakin besar Livia!. "Bentak Papa Livia, emosinya jadi tidak stabil mendengar anaknya hampir di perkosa lagi.


"Sabar dong oa, jangan bentak-bentak Livia. " Mama Livia mencoba menengahi agar suasana di ruangan itu bisa sedikit tenang.


"Sabar? Nggak, Deni udah mepalang tanggung mau nikahin kamu! Kamu mau nunggu apalagi? Nunggu Radit datang buat bertanggung jawab?. "


"Deni, saya sangat kecewa sama kamu harusnya kamu bisa ngejaga Livia bukannya malah mau berbuat hal yang nggak senonoh hanya karena Livia belum mau nerima kamu! Livia pokoknya Papa gak mau tau kalian berdua harus segera di nikahkan. " Tegas Pak Zul, keluar dari dalam kamar Livia. Ini adalah solusi terbaik untuk membantu Deni dan membantu anaknya sendiri.


Livia menangis tersedu-sedu dalam pelukan Mamanya, sementara Deni diam terpaku di tempatnya.


Bersambung...

__ADS_1


Klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian.


__ADS_2