Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 73 : Berpelukan?


__ADS_3

Livia beranjak dari tempat duduknya lalu menggunakan lift untuk kembali ke lantai Apartementnya.


###


Beberapa hari kemudian, setelah melakukan check up yang ketiga kalinya, orang tua Radit memtusukan untuk kembali ke rutinitasnya, mempercayakan Radit untuk di urus sendirian oleh Livia.


Bu Ariana juga sudah tidak terlalu marah kepada Livia, hal itu di buktikan dengan banyaknya makanan ringan yang di beli sebagai bekal untuk Livia selama menemani Radit di Singapore ini.


"Mama beliin kamu banyak cemilan, biar kamu nggak usah capek-capek pergi keluar, mama juga udah nitip ke resepsionis kalau kamu ada perlu apa-aoa tinggal bilang aja yah sama mereka, papa Max udah bayar semua tagihannya. " Ujar Bu Ariana saat membawakan beberapa kantung camilan untuk Livia.


"Makasih ma, aku jadi nggak enak ngerepotin mama sama papa terus-terussan kayak gini. " Balas Livia.


"Mama yang terimakasih karena kamu sudah mau ngurus Radit, maafin maaf yang terlalu keras sama kamu beberapa hari kemarin, mama mulai ngerti perasaan kamu, karena mama juga udah pernah berada di posisi kamu sayangnya, kami lebih memilih untuk berdamai dengan cara yang baik. " Tutur Bu Ariana, mengenang masa lalunya bersama mantan suaminya.


Pak Max sudah pulang terlebih dahulu sejak kemarin karena anak dari istri barunya sudah masuk ke sekolah dasar dan laki-laki paruh baya itu harus segera pulang untuk mengurus pekerjaannya.


Hari ini giliran Bu Ariana yang berpamitan.


"Aku yang minta maaf sama mama karena gara-gara aku kondisi Radit jadi kayak gini... "


Bu Ariana memotong ucapan Livia.


"Udah-udah nggak usah minta maaf terus, mama udah maafin yang paling penting sekarang kamu mau kembali sama Radit dan ngurusin dia disini, mama udah bersyukur banget Liv. " Ujar Bu Ariana.

__ADS_1


Livia akhirnya bisa tersenyum lega, karena mertuanya itu sudah kembali menyayangi dan memperhatikannya.


"Mama hati-hati nanti di jalan, titip salam sama keluarga mama. " Ujar Livia.


Bu Ariana mengangguk lalu memberikan pelukan kepada menantunya itu.


"Mama pulang dulu yah, nanti kalau ada apa-aoa atau kamu butuh sesuatu telpon mama dan papa Max, bulan depan baru mama akan balik lagi kesini nengokin kalian yah. " Tutur Bu Ariana.


Livia balas memeluk mertuanya itu, meskipun tidak terlalu dekat namun, Livia merasa aman dan nyaman berada di dekat Bu Ariana. Apalagi sudah hampir satu minggu Livia jauh dari orang tuanya.


"Kamu baik-baik yah disini, mama permisi dulu soalnya jemputan mama kayaknya udah ada di bawah. " Pamit Bu Ariana.


"Mama gak pamitan sama Radit dulu?. " Balas Livia.


"Nggak Livia, kasian dia udah tidur mama takut gangguin tidurnya, biarin aja dia istirahat yah Livia, mama titip pesan aja biar kamu sampaikan kalau mama dan papa Max sudah pulang. " Ujar Bu Ariana.


"Iya, nanti Livia sampikan. "


Livia melambaikan tangannya untuk yang terakhir kali, mengantar kepergian mertuanya.


Livia kembali masuk ke dalam Apartementnya dan merasakan kesunyian sekana-akan sudah siap melahap tubuh gadis itu.


"Sepi sekali... " Gumam Livia.

__ADS_1


"Livia.... "


"Livia, sini dong... "


Suara Radit mengalihkan perhatian Livia, ia langsng beranjak masuk ke dalam kamar, tidak ingin membuat suaminya menunggu terlalu lama.


"Sudah bangun?. " Gumam Livia.


"Ada apa Dit? Kamu butuh sesuatu? Mau makan? Minum? Nyemil?. " Cecar Livia.


Radit menggeleng sembari tersenyum.


"Nggak mau, aku maunya kamu kesini, disini, di samping aku. " Radit menepuk-nepuk kasur di sebelahnya.


Livia mengikuti keinginan Radit, dirinya naik ke ranjang dan berbaring di samping suaminya itu.


Radit membentangkan kedua tangannya, memberikan intruksi kepada Livia, agar gadis itu segera memeluknya.


Kali ini, Livia tidak menolaknya. Tubuh hangat Radit menyambut tubuh Livia, mereka saling berpelukan.


Deg


Ada perasaan dan debaran aneh di dalam jantung Livia, ini adalah pertama kalinya mereka berpelukan selama menjadi suami istri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2