Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 92 : Deni Kecelakaan


__ADS_3

Sebenarnya Deni sendiri sudah meminta resti pada mamanya itu, akan tetapi Deni ingin Livia mulai belajar untuk bertanggung jawab pada kesalah yang di perbuat nya sendiri dengan datang langsung dan bertemu lalu meminta maaf.


###


1 minggu setelah Deni melamar Livia secara resmi, entah mengapa laki-laki itu justru sudah tidak pernah memberi kabar pada Livia lagi.


Bahkan untuk sekedar mengirimkan pesan chat, Deni bagaikan hilang di telan bumi.


"Kemana laki-laki itu pergi?. " Gumam Livia, memandangi layar ponselnya yang menampilkan gambar Deni.


"Liv, kamu ngapain duduk disitu? Kamu nggak kedinginan? . " Tegur bu Silvia saat mendapati anak gadisnya tersebut duduk di teras dengan pakaian yang tipis, sementara hujan sangat deras.


Livia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ngga apa-aoa kok ma, Livia nungguin Deni, kali aja hari ini dia datang. " Balas Livia, nada suaranya terdengar sangat berharap.


Bu Silvia mendekati anak gadis itu dan dengan lembut mengelus kepalanya.


"Sabar dong sayang, mungkin Deni lagi persiapan untuk hari pernikahan kalian. " Ujar bu Silvia menenangkan.


Livia yang mendengar itupun akhirnya mengangguk pasrah dan berharap apa ang di katakan mamanya benar.


Entah mengapa, Livia jadi merasa takut jika Deni akhirnya berubah pikiran dan memutuskan hubungan mereka.


Livia seperti baru menyadari jika dirinya sudah jatuh cinta pada laki-laki itu.


###


Malam harinya.


Dering ponsel Livia terdengar berbunyi nyaring memenuhi ruangan kamarnya, Livia yang sudah dalam keadaan tertidur pulas itupun sontak terbangun dan meraih ponselnya.


"Siapa sih yang nelpon malam-malam gini. " Gumam Livia.


Tidak lama kemudian panggilan terhubung, di ujung Sanan terdengar suara ribut-ribut yang membuat Livia sontak membuka matanya lebar-lebar.

__ADS_1


"Livia, cepat kesini Deni kecelakaan!. " Pekik suara seseorang.


"Hah kecelakaan?. "


Deg


Jantung Livia seakan-akan bergeser dari tempatnya.


"Tidak lagi! Jangan. " Batin Livia, merasa trauma mendengar kata kecelakaan.


Gadis itu pun buru-buru berlari keluar dari rumahnya dan mengambil mobilnya di garasi untuk segera menuju ke rumah sakit.


Livia bahkan tidak ingat untuk meminta izin pada orang tuanya. Pikirannya kacau dan di penuhi rasa gelisah dan takut.


Livia tidak ingin kehilangn orang yang di sayanginya sekali lagi. Sudah cukup.


###


Deni nampak pucat terbaring lemah di atas bangsal rumah sakit, Livia mengendarai mobilnya secara membabi buta. Bahkan tidak sampai 20 menit waktu yang di butuhkan Livia untuk sampai ke rumah sakit tersebut.


"Livia... Kamu datang?. " Balas Deni, nada suaranya terdengar lemah.


"Kenapa bisa gini? . " Pekik Livia histeris.


Bu Widia yang berada di dalam ruangan itupun keluar untuk memberikan waktu pada Livia dan Deji untuk berbicara berdua, seakan-akan itu adalah percakapan terakhir di antara keduanya.


Livia sontak saja merasa semakin gelisah.


"Livia, aku rasanya udah ngak kuat.... " Gumam Deni, Livia yang mendengarnya pun tidak bisa lagi membendung air matanya.


"Den, jangan tinggalin aku, kamu jangan ngomong sembarangan, aku takut.... " Balas Livia, sesenggukan.


"Tapi.. Livia.. Akuhh udahh nggak kuathhh. " Deni nampak terengah-engah.


Livia semakin histeris.

__ADS_1


"Den, maafin aku selama ini nggak perlakuin kami dengan baik, jangan tinggalin aku, aku nggak bisa hidup tanpa kamu, kalau kamu nggak ada, terus aku sama siapa? Aku takut Den.... "


Deni tidak lagi menjawab ucapan Livia, laki-laki itu memejamkan matanya, tubuhnua bahkan sudah idak bergerak lagi.


"Deni.. Den, jangan tinggalin aku plis, aku cinta sama kamu, hikssssss. " Tangisan Livia semakin pecah, gadis itu mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Deni dengan panik.


Livia terjadi ke lantai sambil tertunduk lesu, badannya lemas.


"Aku cinta sama kamu Den, kenapa kamu tega tinggalin aku. " Pekik gadis itu.


Suasana di dalam ruangan tersebut terasa sangat sepi, padahal suara Livia yang nyaring harusnya membuat bu Widia yang berada di luar ruangan masuk untuk memastikan.


Livia jadi merasa ada yang aneh dengan hal itu, hingga beberapa saat kemudian, Livia mendengar suara tawa cekikikan beberapa orang di luar ruangan.


"Ekhem, aku juga cinta sama kamu Livia. "


Deg


Livia mengangkat kepalanya dan mendapati Deni kini tersenyum ke arahnya.


"Hah? Apa-apaan?. "Livia nampak kebinguan sekaligus takut.


Suara tawa dari luar ruangan semakin terdengar. Membuat Livia akhirnya menyadari sesuatu.


" Eh, aku di prank?. " Pekik Livia yang membuat semua orang yang berada di luar ruangan itupun akhirnya ikut masuk.


Pak Zul, Bu Silvia dan Bu Widia tidak dapat menahan tawanya saat melihat ekspresi terjmkenut dari wajah Livia, sementara Deni yang berada di atas tempat tidurnya hanya bisa meringis saat Livia memnatapnya dengan tatapan tajam.


"Hehehe, ini bukan iseku Livia... " Ujar Deni.


Livia kemudian mengalihkan pandangannya pada para orang tua mereka.


"Ini ide mama sama papa, maafin kami yah Liv. " Ujar Bu Silvia dengan ekspresi jahil.


Livia seketika merengut kesal dan menutupi wajahnya, malu.

__ADS_1


__ADS_2