Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 35 : Malam Pertama Gagal


__ADS_3

Episode sebelumnya...


"Awas kamu Livia... " Lirih Radit.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


Malam pertama.


Livia keluar dari dalam ruangan ganti setelah satu jam kemudian. Ia merasa muak melihat melihat tingkah Radit yang biasa-biasa saja setelah apa yang di lakukan laki-laki itu kepada dirinya.


"Livia, akhirnya kamu keluar juga. " Ujar Radit. Laki-laki itu sedang berbaring dengan santai di atas kasur Livia.


Livia memutar bola matanya, malas.


"Dorong sana. " Perintah Livia.


"Siap tuan Puteri. " Balas Radit.


Livia mengernyitkan wajahnya merasa risih dengan sikap Radit yang berubah 180 derajat.


Livia naik ke atas ranjangnya dan mengambil guling lalu membuatnya sebagai pembatas.


"Ini pembatas di antara kita, kamu nggak boleh ngelewatin pembatas ini. " Ujar Livia.


"Maksud kamu?. " Tanya Radit.


"Nggak usah banyak tanya, kalau kamu mau tidur di lantai juga terserah aja, pokoknya kamu nggak boleh ngelewatin batas ini. " Tutur Livia.


"Kalau aku ngelewatin oembatas itu emangnya kenapa?. " Tantang Radit.


"Liat aja aku bakalan.... "


Cup


Satu ciumanmendsrat di pipi gadis itu, Livia menatap Radit dengan tatapan tidak suka.


"Kurang ajar!. " Pekik Livia.


Cup


Satu kecupan mendarat lagi, namun kali ini di bibir gadis itu.


"Apa-apaan." Bentak Livia.

__ADS_1


Radit tersenyum senang karena merasa menang.


"Apanya Livia? Kamu kan istri aku sudah semestinya kamu ngelayanin aku. " Ujar Radit.


Livia segera turun dari tas ranjangnya dan masuk kembali ke dalam ruang ganti. Ia tidak sudi tidur bersama laki-laki itu malam ini.


"Dasar brengsek. " Pekik Livia sebelum benar-benar menuju pintunya dengan kasar.


Brak


Radit hanya bisa menelan air liurnya, malam ini laki-laki itu sepertinya akan tidur sendirian. Begituoun dengan Livia.


Untungnya Livia memiliki beberapa selimut tebal di dalam lemarinya, sehingga Livia bisa menumpuknya di atas lantai untuk di jadikan tempat tidur.


###


Pagi hari.


"Hoammmmm." Livia menguap membuka mulutnya untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Tubuhnya terasa pegal karena tidak terbiasa tidur beralaskan selimut, meskipun tiga selimut sudah di tumpuk menjadi satu, tetak sajanLivia tidak terbiasa dan akibatnya badanya menjadi pegal pagi ini.


Livia kemuadian berjalan ke arah pintu dan saat membukanya ia sontak terkejut melihat Radit yang sudah berdiri di depan pintu sambil mengangkat salah tmaatu tangannya.


Radit meringis.


"Tadinya aku mau ngetik, taki keburu kamu buka pintunya. " Jawab Radit.


"Oh gitu. " Ujar Livia.


"Livia aku lapar. " Unar Radit kemudian mengikut Livia yang masuk ke kamar mandi.


"Ya udah pergi makan sana, aku mau sikat gigi sama cuci muka dulu. " Balas Livia membanting pintu kamar mandi.


Radit dengan sabar menunggu gadis itu selesai.


Lima menit kemudian.


"Livia." Panggil Radit saat pintu kamar mandi terbuka.


"Astoget! Kamu ngagetin aku aj? Kamu mau ngintip yah? Awas yah, aku bakalan teriak kalau kamu macam-macam. " Ancam Livia.


Kerrkk... krekk..


Suara perut Radit.

__ADS_1


"Aku lapar Liv. " Ujar Radit. sambil memegangi perutnya.


"Ya udah ayuk makan. " Ajak Livia, tidak tega melihat laki-laki itu kelaparan, Livia juga merasa bayinya sudah harus minum susu pagi ini.


"Ta-taliib, aku mau makan disini aja, aku malu mesti makan sama orang tua kamu... " Ujar Radit sedikit gugup.


"Maksud kamu? Aku yang mesti ngambilin kamu makanan gitu?. " Sinis Livia.


"Iyalah, kamu kan istri aku Liv, kamu mestinya emang ngelayanin aku. " Balas Radit.


"Dih enak aja, emangnya kamu raja!. " Pekik Livia.


Gadis itu segera keluar dari kamarnya meninggalkan Radit. Namun, gadis itu berhenti sejenak.


"Mau ikut nggak? Kalau nggak aku tinggal nih?. " Tanya Livia.


"Iya deh, aku ikut. " Balas Radit pasrah. Dari pada kelaparan lebih baik ia simpan saja rasa canggungnya makan bersama orang tua Livia.


"Pagi sayang, pagi Radit, kalian udah bangun. " Sapa mama Livia yang terlihat sibuk menata makanan di atas meja.


"Iya ma, papa kemana?. " Tanya Livia mendapati mamanya seorang diri.


"Papa ada tugas keluar kota, subuh tadi langsung berangkat, katanya bggak enak gangguin malam pertama kalian berdua. " Ujar Mama Livia menggoda.


"Mama ih apaan sih gak jelas banget." balas Livia.


Mamanya hanya tersenyum.


Radit kemudian ikut duduk di samping Livia. Namun laki-laki itu hanya diam tidak seperti Livia yang langsung menyantap makanan yang sudah disediakan di atas meja makan.


Livia melirik ke arah Radit.


"Kenapa kamu nggak makan? Katanya lapar?. " Tanya Livia.


Mama Livia yang melihat itu kemudian memberikan kode untuk menabgmilkan makanan untuk Radit.


"Ekhem Livia, itu nasinya ada di depan kamu, bantuin Radit dong buat ambil nasinya. " Ujar Mama Livia.


"Oh nih, ambil aja sendiri, kan kamu juga punya tangan. " Livia memberikan sendok nasi kepada Radit dan menggeser tempat nasi ke hadapan Radit.


"Livia, ambisil nasinya buat Radit nak. " Terus Mama Livia.


Livia menghela nafas, namun tetap pasrah melakukan perintah mamanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2