
"Siapa orang itu Radit?. " Tanya Livia tiba-tiba saja sudah berada di depan pintu. Membuat Radit seketika panik.
###
"Ah ah anu eh... Itu.. " Jawab Radit gelagapan.
Livia mengernyitkan wajahnya, melihat perilaku aneh Radit.
"Anu? Itu apaan?. " Tanya Livia menatap penuh curiga.
"Ah orang salah alamat, hahaha tadi dia kira ini alamat tantenya, pas ku cek ternyata dia salah alamat. " Jelas Radit, gugup.
Livia nampak belum puas dengan jawaban Radit.
"Hmm kenapa lama?. " Tanya Livia lagi.
"Itu kan dia salah alamat sekalian aja aku bantuin arahin dia ke alamat yang benar pake gugel maps, aku jelasin dikit biar dia paham makanya lama, hehehe. " Balas Radit berjalan ke arah Livia lalu menggenggam tangan istrinya itu untuk membuatnya yakin.
Livia kemudian mengangguk.
"Oh gitu ya udah yuk masuk, kita makan. " Ajak Libia menarik tangan suaminya itu masuk ke dalam rumah untuk menikmati masakan mereka yang sudah jadi.
Radit kembali mengigit bibir bawahnya, tidak tahan mencium aroma tubuh Livia yang berkeringat. Membuat gairah Radit semakin naik. Namun, Radit menahan dirinya untuk menyentuh Livia.
__ADS_1
Radit tidak ingin usaha yang di bangunnya untuk membuat hubungannya dengan Livia menjadi lebih baik, hancur berantakan hanya karena dirinya memaksa untuk melakukan hubungan suami istri.
"Dit, duduk disini, samping aku biar kita makannya satu piring berdua aja yah, biar hemat piring, capek nyuri piring banyak-banyak. " Ujar Livia mengarahkan Radit untuk duduk persis di samping gadis itu.
Radit dengan patuh duduk di samping Livia, tubuh mereka berdua saat ini tidak ada jarak sama sekali, bau shampo dari rambut Livia membuat hasrat Radit semakin bergejolak
"Arghhh sialan, aku udah nggak tahan. " Batin Radit.
"Nih, aku suapin yah, aku yakin pasti masakan kita kali ini enak, aku udah nyobain satu sendok tadi. " Ujar Livia antusias menyiapkan satu sendok nasi goreng ke mulut Radit.
"Aaaa." Radit membuka mulutnya dan menerima suapan Livia.
"Gimana enakkan?. " Tanya Livia, wajah mereka berdua saat ini sangat dekat, bau keringat bercampur parfum dari tubuh Livia juga semakinmemenuhindera penciuman Radit.
Mereka berdua bergantian saling suap, Livia bahkan tidak menyadari tubuhnya saat ini sedang berada di dalam pelukan Radit.
"Enaknya? . " Tanya Livia lagi.
"Enak banget, Livi. " Balas Radit tersenyum puas.
"Iyalah, siapa dulu chefnya, hahaha. " Ujar Livia membanggakan dirinya.
Radit semakin berani kini laki-laki itu, menciumi rambut Livia.
__ADS_1
"Iya kamu emang chef terbaik. " Puji Radit mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Hehehe." Livia cengengesan.
"Liv, nanti kita tidur bareng yah. " Ujar Radit setelah mereka berdua menghabiskan makan malam mereka.
Sejak kejadian beberapa malam yang lalu, saat Radit mencoba memaksa Livia untuk melakukan hubungan suami istri, Livia tidak mau lagi tidur sekamar dengan Radit dan lebih memilih tidur di kamar orang tuanya.
"Nggak, aku nggak mau, nanti kamu *****-***** aku lagi. " Balas Livia, melepaskan pelukan tangan Radit dari pinggangnya.
Radit tidak kehabisan akal.
"Ya udah kamu bersihin tempat tidur aku, ganti seprai nya dong Liv, seprai yang sekarang udah gatal kalau di tempatin buat tidur. " Ujar RaditRadit membuat alasan agar Livia mau masuk ke dalam kamar tidur mereka.
"Ganti aja sendiri, kan yang tidur di ranjang itu kamu, masak aku yang di suruh gantiin, itukan berat Dit, kamu nggak liat perut aku udah makin gede? Udah nggak bisa ngangkat yang berat-berat. " Balas Livia mengingat seprai kasurnya itu memang tebal dan berat jika harus di angkat seorang diri.
Sebenarnya Livia bisa saja mengangkatnya seorang diri, namun karena perutnya sudah semakin besar, Livia takut bayinya bisa tiba-tiba saja keluar jika terus-terussan mengangkat beban yang berat.
"Ya udah kalau gitu aku bantuin kamu aja gantiin seprai sama selimutnya, yah? gimana?." Tawar Radit, segala macam cara di gunakannya untuk membuat Livia mau masuk ke dalam kamar bersamanya malam ini.
"Yaudah kalau gitu kamu yang cuci piring malam ini, abis itu baru kita ganti seprai kasurnya. " Ujar Livia.
Radit yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu pun langsung berdiri dan bergegas membawa piring kotor tersebut untuk di cuci. Sebuah rencana nakal kembali menguasai pikirannya.
__ADS_1
Bersambung...