
Andra dan Livia kemudian berboncengan menuju ke warung bubur ayam di seberang jalan itu.
###
"Kamu baik-baik aja kan Livia?. " Tanya Andra saat melihat Livia makan dengan sangat lahap bahkan gadis itu langsung memesan dan menghabiskan dua mangkok bubur ayam sekaligus.
"Iya, aku baik-baik aja kok, emangnya kenapa?. " Livia bertanya balik.
"Kamu kayak orang nggak makan berhari-hari aja. " Ujar Andra, mengingat Livia yang dulunya sangat jarang memesan makanan dalam porsi double, bahkan dulu Livia sangat jarang menghabiskan makanannya. Namun, sekarang gadis itu terlihat sedikit berbeda.
Andra sepertinya khawatir, suami Livia saat ini tidak memperlakukannya dengan baik.
"Oh hehehe, aku belum bilang sama kamu yah, aku lagi berbadan dua. " Ujar Livia memamerkan perutnya.
Andra yang baru menyadari hal tersebut sontak menganga.
"Oh, sory Livia aku nggak tau, aku benar-benar nggak ada perhatiin perut kamu. " Ujar Andra.
"Nggak apa-apa kok, aku emang sengaja pake baju yang kebesaran biar perut aku nggak terlalu kentara." Jelas Livia.
"Hmmm, aku boleh nanya sesuatu nggakiv?. " Tanya Andra lagi.
"Tanya aja. " Ujar Livia.
__ADS_1
"Kamu jangan marah yah, jadi, kamu nikah karena lagi hamil Livia?. " Tanya Andra hati-hati.
Livia dengan santai menggukkan kepalanya. Livia merasa, Andra adalah orang yang bisa dirinya percayai untuk menjaga rahasianya, lagi pula Andra sudah tidak bersekolah lagi.
Otomatis laki-laki itu tidak akan pernah berkomunikasi ataupun berhubungan dengan teman-teman Livia di sekolahnya.
"Oh maaf ya Livia, kalau aku lancang nanyain masalah pribadi kamu. " Ujar Andra.
Livia tersenyum mendengarnya.
"Nggak apa-apa kok, aku berani ngomong dan jujur sama kamu karena aku percaya kamu bisa jaga rahasia ini, soalnya habis ngelahirin anak ini aku bakalan balik ke sekolah lagi. " Jelas Livia.
"Maaf ya Livia, aku jadi merasa semakin bersalah sama kamu, harusnya dulu aku nggak ninggalin kamu begitu aja, harusnya aku bisa jagain kamu. " Tutur Andra.
"Sekali lagi maaf yah Livia, aku dulu ninggalin kamu, ninggalin sekolah karena kondisi keluarga aku waktu itu benar-benar nggak baik-baik aja, usaha orang tuaku bangkrut dan utangnya ada di mana-mana, aku nggak nyangka bakalan ketemu lagi dalam ke adaan udah kayak gini. " Tutur Andra.
Livia menggenggam tangan Andra, memberi support dm kepada laki-laki itu.
"Sabar ya Andra, kamu nggak usah terus-terussan minta maaf, yang udah terjadi ya udahlah, sekarang yang bisa di pikirin adalah masa depan jangan sampai kita terjebak di masa lalu. " Tutur Livia, entah dari mana ia bisa memikirkan kata-katanya tersebut.
"Makasih yah Livia, dari dulu cuma kamu yang selalu support dan percaya sama aku, aku nyesal pernah ninggalin kamu. " Balas Andra.
"Iya sama-sama, Ndra. " Ujar Livia sambil tersenyum.
__ADS_1
"Usia kandungan kamu udah berapa bulan Livia?. " Tanya Andra kemudian.
"Ah bayiku ini udah mau masuk minggu kedua bulan ke empat nya. " Jawab Livia.
Andra meatap Livia dengan tatapan nanar.
"Kamu baik-baik aja kan Livia?. " Tanya laki-laki itu lagi.
"Iyalah, apalagi bentar lagi aku bakalan jadi ibu, aku baik-baik aja kok Andra, kamu kenapa sih nanyain itu terus dari tadi?. " Ujar Livia merasa heran dengan pertanyaan Andra.
"Aku cuman mau mastiin kalau suami kamu itu memperlakukan kamu dengan baik. " Balas Andra.
"Baik kok, meskipun rada nyebelin, hehehe. " Ujar Livia.
"Bilang sama aku kalau dia ada macam-macam sama kamu, aku bakalan langsung datang buat kamu. " Ujar Andra menggenggam dengan erat tangan Livia.
Livia awalnya sedikit tersentak dengan perlakuan Andra barusan, namun ia tidak menepis tangan laki-laki itu.
Seandainya waktu bisa di ulang dan kejadian naas yang menimpanga tidak pernah terjadi.
Di banding Radit dan Deni, Livia akan langsung memilih Andra untuk menjadi kekasihnya lagi. Namun, semuanya sudah terlambat.
Nasi sudah menjadi bubur, tidak ada yang dapat mereka berdua lakukan, selain memendam perasaan yang sudah lama tumbuh di hati keduanya.
__ADS_1
Bersambung...