Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 56 : Tidak Ada Kesempatan?


__ADS_3

Namun, karena saat ini situasinya sudah berbeda. Deni kembali ingin mencuri hari gadis itu. Bagaimanapun caranya.


###


"Ngapain kamu datang kesini? Orang tua aku belum bisa berfikir jernih mending kamu pulang aja. " Usir Livia.


Tampilan Radit saat ini sudah nampak sangat kacau, beruntung laki-laki itu belum sempat bertemu dengan orang tua Livia.


Sebelum orang tua Livia sampai, Radit sudah lebih dahulu meninggalkan rumah tersebut. Tentu saja karena laki-laki pecundang itu takut.


"Livia, plis kasih aku kesempatan. " Pinta Radit, memelas sambil berlutut di hadapan Livia.


Tidak lama kemudian Mama Livia, Bu Silvia ikut keluar dari dalam rumah.


"Ada apa nak?. " Tanya Mama Livia sebelum menyadari ada Radit di depan pintu rumahnya.


"Tuh si Radit, untung aja papaku nggak ada di rumah kalau ada, udah habis kamu!. "Pekik Livia.


Bu Silvia menghela nafasnya dengan berat


" Ma, aku minta maaf, waktu itu aku khilaf dan tidak menyangka gadis itu akan akan menjebak ku, aku di jebak ma. " Ujar Radit.


"Livia kamu mending masuk ke dalam kamarmu, biar mama yang bicara sama orang ini. " Tutur Bu Silvia, nampak kesal namun masih bisa di tahan.


Livia masuk ke dalam kamarnya, sementara Radit kini bersimpu memohon ampunan di kaki mama Livia.


"Ma, tolong kasih aku kesempatan satu kali lagi, aku akan berusaha menjadi orang yang lebih baik dan bertanggung jawab ke Livia. " Pinta Radit.

__ADS_1


Bu Silvia menyingkirkan tangan Radit dari kakinya.


"Saya tidak habis fikir yah sama kamu! Kamu sudah mencelakai anak saya dan kami masih berbesar hati untuk menerima kamu bahkan sebenarnya kamu itu beruntung karena tidak kami laporkan ke kantor polisi, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu menghianati anak saya, menghianati kepercayaan keluarga saya! Masih pantas kamu meminta kesempatan kepada keluarga ini?. " Cecar Bu Silvia, emosinya sudah tidak bisa terbendung lagi.


"Maafkan saya Ma, tolong saya, saya khilaf. " Radit terus ke mohon pengampunan. Namun, sepertinya tidak ada pintu maaf dari orang tua Livia untuk laki-laki itu.


"Jangan panggil saya mama, saya bukan orang tua kamu, pergi dari sini. " Usir Bu Silvia.


Brak


Pintu rumah Livia di tutup dengan cukup keras. Nampaknya tidak akan ada kesempatan kedua untuk Radit.


Radit sepertinya tidak memiliki pilihan lain, selain meninggalkan rumah tersebut dengan gontai laki-laki itu keluar dari halaman rumahivia dan kembali masuk ke dalam mobilnya.


###


Deni yang sedari tadi terus memperhatikan keadaan rumah Livia dari dalam mobilnya melihat Radit yang keluar dari halaman rumah tersebut dengan wajah kuyu dan lebih berantakan dari pada sebelum laki-laki itu masuk.


Deni tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Setelah mengumpulkan keberaniannya, ia kemudian turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke halaman rumah orang tua Livia.


"Semoga berhasil. " Ujar Deni, berdoa usahanya kali ini membuahkan hasil yang baik.


###


Ptakk


Ptakk

__ADS_1


Ptakk


Suara dari jendela kaca Livia mengalihkan perhatian gadis itu dari ponselnya namun Livia mengabaikannya.


Setelah Radit pergi laki-laki itu terus mencoba menelponnya untuk meminta maaf. Padahal percuma saja, Livia sama sekali tidak peduli lagi dengan Radit.


Ptakk


Ptakk


Suara dari jendela kamar Livia kembali terdengar, tadinya Livia pikir itu adalah binatang sejenis cicak ataupun belalang yang terbang dan tidak sengaja menabrak jendela kamarnya.


Ptakk


Sekali lagi suara itu terdengar, karena merasa penasaran akhirnya Livia beranjak dari tempat tidurnya untuk memeriksa jendelanya tersebut.


"Apaan sih itu. " Ujar Livia, melangkah ke arah jendelanya.


Ptakk


Satu lemparan kerikil berukuran kecil kembali menghantam kaca jendela kamarnya. Livia mengernyitkan wajahnya.


"Kayaknya ada orang deh yang sengaja lemparin kaca jendela ku, Jangan-jangan..."


Livia dengan cepat membuka jendelanya untuk memastikan dugaannya barusan.


"Livia... " Panggil seseorang dari luar.

__ADS_1


Livia menengok ke arah sumber suara dan benar saja ada seseorang yang dengan sengaja melempari jendela kamarnya.


Bersambung...


__ADS_2