Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 66 : Ikut Ke Luar Negeri


__ADS_3

"Iya sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu. " Ujar dokter Alvaro berlalu pergi meninggalkan Bu Ariana melewati Livia dan Deni yang ikut merasa lega setelah mendengar Radit masih hidup.


###


Bu Ariana masuk ke dalam ruang operasi untuk melihat anaknya, sementara Livia dan Deni kembali duduk di kursi tunggu tidak berani masuk bersama Bu Ariana.


"Den, aku mau masuk boleh nggak yah? Tapi aku takut mamanya Radit bakalan marahin aku lagi. " Ujar Livia, gadis itu nampak gelisah.


"Mita tunggu aja ya Liv, sampai Radit di pindahin ke ruangan perawatan, kalau disini kayaknya nggak memungkinkan. " Balas Deni.


Livia mengangguk pasrah, mengikuti ucapan Deni.


"Kamu yang sabar yah, yang terpenting saat ini Radit udah ngelewatin masa kritisnya. " Tutur Deni menenangkan Livia dengan mengelus lembut kepala gadis itu.


Livia kembali mengangguk.


###


Satu minggu kemudian, Radit sudah sadar namun dia tidak bisa mengingat semua orang. Laki-laki itu hanya mengingat Livia yang sudah menjadi istrinya.


Sudah seminggu pula Livia dengan setia menemani suaminya itu di rumah sakit, keinginannya untuk bercerai sudah sirna di gantikan oleh rasa bersalah yang teramat besar.

__ADS_1


Keputusan sudah di buat orang tua Radit, anaknya itu akan di bawah ke Singapura untuk berobat agar kondisinya segera pulih. Pengobatan di Singapura jauh lebih baik dari pada di Indonesia.


"Aku ikut ma, aku harus selalu berada disisi Radit. " Ujar Livia saat mendengar Bu Ariana dan Pak Max mengatakan niatnya untuk membawa Radit ke luar negeri.


"Ngapain kamu ikut? Yang ada Radit bisa tambah celaka kalau sama kamu. " Bu Ariana nampak masih sinis kepada Livia.


"Sudahlah, mereka masih berstatus suami istri jadi wajar saja kalau Livia juga ingin pergi, jangan keras kepala, ini semua demi kesembuhan anak kita. " Bela Pak Max.


Bu Ariana menghela nafasnya dengan kasar, nampak jelas dari raut wajahnya mertua Livia itu tidak setuju jika Livia ikut merawat Radit.


"Radit saat ini cuman ngenalin saya ma, pa jadi yang terbaik untuk saat ini, saya harus ikut kemanapun Radit pergi. " Tutur Livia meyakinkan mertuanya.


"Terserah." Ujar Bu Ariana kemudian.


"Saya akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Radit. " Tutur Livia.


"Tentu saja, tapi ingat yah jangan sekali-kali kamu bahas sesuatu yang bisa membuat kesehatannya drop, jangan pernah membahas soal perceraian itu lagi dan jangan pernah bahas soal perselingkuhan Radit. " Balas Bu Ariana.


Livia mengangguk dengan pasti.


###

__ADS_1


Keesokan harinya.


Orang tua Livia sebenarnya tidak mengizinkan anak gadisnya yang sedang hamil itu untuk pergi ke luar negeri dan jauh dari mereka, namun karena Livia kekeh dan terus memaksa.


Mau tiak mau orang tua Livia harus pasrah mengizinkan anak semata wayangnya itu untuk ikut.


"Papa sebenarnya nggak rela kamu pergi, apalagi kembali sama Radit tapi karena kamu memaksa, papa tidak bisa berbuat banyak. " Ujar Papa Livia saat gadis itu meminta izin untuk mengikuti Radit pergi berobat ke Singapura.


"Mama juga nggak rela Livia, tapi mama juga nggak tega ngeliat kamu terus-terussan di hantui rasa bersalah! Kalau ada apa-apa disana langsung telpn mama sama papa yah nak,kami akan langsung datang menemui kamu. " Pesan Bu Silvia.


"Iya ma, pa, terimakasih karena kalian selalu ada dan support Livia. " Balas Livia, sembari memeluk kedua orang tuanya.


"Kamu hati-hati nak, langsung telpon papa kalau sudah sampai. " Timpal Papa Livia.


"Iya ma, pa pasti Livia bakalan langsung ngabarin kalian terlebih dahulu. " Ujar Livia melepaskan pelukannya.


"Livia pergi yah, kalian jaga kesehatan. " Lanjutnya.


"Kamu juga sayang, ingat minum susunya rutin, makan yang rutin , jangan stres. " Pesan Bu Silvia untuk terakhir kalinya, sebelum Livia masuk ke dalam mobil yang menjemputnya menuju ke Bandara hari ini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2