
Radit yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu pun langsung berdiri dan bergegas membawa piring kotor tersebut untuk di cuci. Sebuah rencana nakal kembali mengiasai pikirannya.
###
Seperti malam-malam sebelumnya, rencana Radit kembali gagal untuk menikmati tubuh Livia.
Tiba-tiba saja saat baru akan masuk ke dalam kamar ada panggilan telpon dari orang tua Livia, sehingga, bukannya mengganti seprai bersama, Radit justru harus gigit jari karena Livia mengobrol dengan orang tuanya selama berjam-jam.
Radit yang sudah sangat tidak tahan ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuhnya langsung bergegas keluar dari rumah, tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada Livia.
Livia yang sedang mengobrol via telepon di dalam karya orang tuanya bahkan tidak menyadari jika Radit pergi keluar rumah.
###
Laki-laki itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke suatu tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi.
Hasratnya yang tidak tersalurkan kepada istrinya membuat dirinya harus mencari alternatif lain.
Radit mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan menghubungi seseorang.
Sambungan telepon terhubung.
"Halo?. " Sapa suara seseorang dari bali telepon.
"Aku kesana sekarang, tunggu aku di rumahmu Sinta. " Ujar Radit melalui sambungan telepon.
"Oke sayang, aku sudah ready kok. " Ujar gadis bernama Sinta itu.
__ADS_1
Klik.
Sambungan terputus.
Beberapa waktu kemudian mobil Radit berbelok ke sebuah pagar rumah yang sepertinya sengaja tidak di tutup.
Radit masih hapal betul dengan rumah berbentuk minimalia tersebut, Sinta adalah mantan kekasihnya, mereka memutuskan putus karena Radit harus menikahi Livia.
Hubungan di antara mereka sebenarnya tidak lebih dari sekedar saling memuaskan hasrat saja.
Sinta tinggal sendirian di rumah tersebut, karena orang tuanya sama seperti orang tua Radit. Bercerai.
Hal itulah yang membuat kedekatan di antara mereka semakin tidak memiliki batasan karena tidak adanya pantauan langsung dari orang tua keduanya.
Radit dengan leluasa bisa keluar masuk ke dalam rumah tersebut. Bahkan Radit dan Sinta masih sempat bertemu satu minggu sebelum pernikahan Livia dan Radit.
Radit turun dari mobil dan dengan cepat berlari ke arah tubuh Sinta, mereka bdrpelukan. Melepaskan kerinduan yang sudah lama terpendam.
"Sinta, kamu seksi sekali malam ini. " Puji Radit mengusap lembut paha Sinta yang terbuka tanpa sehelai benang pun menutupinya.
"Ayo kita masuk ke dalam. " Ujar Sinta menarik lembut tangan Radit untuk mengikutinya masuk kedalam kamarnya.
Radit memperhatikan isi kamar Sinta yang tidak banyak berunah sejak terakhir kali mereka bertemu.
Poto-poto mereka masih tertemlrl di dinding kamar gadis itu.
"Kamu masih menyimpan poto-poto itu? Harusnya kamu buang ajaa. " Ujar Radit.
__ADS_1
"Ssstt, biarkan itu menjadi kenangan terindah untukku Radit, jangan oedukikan gambar itu, pedulikan aku saja!. " Balas Sinta, menarik tangan Radit untuk menyentuh dadanya.
Radit meremas nya dengan sedikit kasar.
"Aw." Lenguhan keluar dari mulut Sinta.
Cup
Bibir mereka kembali beradu, hasrat terpendam yang berminggu-minggu tidak tersalurkan, membuat keduanya hanyut dalam pergumulan yang dahsyat.
Sinta terkekeh pelan saat Radit dengan tidak sabar melepas seluruh pakaiannya dan memasukkan sesuatu yang keras ke dalam tubuh gadis itu.
Erangan dan rintihan dari keduanya memenuhi kamar Sinta.
Radit seperti orang kesetanan saat menggoyangkan tubuhnya secara tidak teratur, membuat tubuh Sinta hanya bisa pasrah karena tidak bisa mengimbangi goyangan tubuh Radit.
"Ah, Sinta kamu memang yang terbaik. " Pekik Radit saat sesuatu yang cari keluar dari dalam tubuhnya, mengisi tubuh Sinta.
Radit mengejan sebentar lalu terkulai lemas dibatas tubuh Sinta.
"Aku tau Radit, tubuh ini adalah milikmu. " Balas Sinta menyambut tubuh Radit, mereka kembali saling berpelukan.
Radit memejamkan matanya, menikmati setiap detik moment dalam hidupnya saat ini, sementara Sinta memperlihatkan senyuman sinis sambil melirik ke arah kaca yang memantulkan tubuhnya dan tubuh Radit yang telanjang bulat sambil berpelukan.
"Hahaha." Sinta kembali tertawa saat melihat cahaya berwarna merah yang berkedip di balik kaca itu.
Tanpa Radit sadari, Sinta telah memasang kamera tersembunyi di dalam kamarnya. Untuk apa kamera itu? entahlah hanya Tuhan dan Sinta yang tahu.
__ADS_1
Bersambung...