
Episode sebelumya...
Pe-er Deni kali ini adalah berbicara dan membujuk orang tuanya sendiri agar mau melamar kan Livia untuknya.
###
Happy reading and Enjoy Guys.
"Apa menikah?." Teriak Mama Deni mendengar anaknya yang baru berusia 17 tahun itu meminta untuk dinikahkan.
"Iya Mama, Deni serius pengen nikah. "
"Hahaha, bercanda kamu ya? Mau ngorang Mama? Gak lucu ih, Mama udah sering nonton konten-konten prank, kamu keyakinan dimana kameranya Den?. " Ujar Tania, mama Deni yang tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya dari mulut Deni.
"Ma aku serius, lamarin pacar aku ini buat aku. " Ujar Deni serius menatap wajah mamanya, baru kali ini ia melakukan hal seperti itu.
"Kamu serius nak?. " Kini mama Deni juga mulai serius menatap balik wajah anaknya, berharap apa yang di dengarnya barusan hanya sebuah guyonan. Tapi Tania tidak melihat ekspresi atapun tanda-tanda bahwa anak laki-laki nya itu sedang bercanda.
"Aku serius ma. " Balas Deni.
"Kamu masih terlalu muda Deni, perjalanan hidup kamu masih panjang, cinta gak selamanya indah hanya karena kamu jatuh cinta belum berarti orang itu adalah jodoh kamu. " Nasehat mama Deni
"Tapi, ma aku harus nikahin gadis itu. "
Mendengar anaknya mengatakan kalimat "harus" Membuat ibi Deni merasa ada sesuatu yang terjadi kepada anaknya.
"Kenapa harus?maksudnya? Mama gak ngerti Deni, kamu gak ada angin gak ada ujan pulang sekolah bukannya makan terus tidur siang malah minta nikah. "
Deni mengumpulkan keberaniannya.
"A-aku h-hamilin anak orang mama. " Ujar Deni terbata-bata.
"Hah?. " Mama Deni sontak terkejut hampir saja ia serangan jantung mendengar ucapan anaknya barusan.
"Maafin Deni, Ma setidaknya Deni udah berani dan mau bertanggung jawab sama gadis itu. " Ucao Deni meyakinkan mamanya, meskipun ia harus sedikit berbohong namun tekadnya sudah bulat untuk bertanggung jawab kepada Livia, gadis yang sangat di cintainya.
"Gak mungkin, kamu gak mungkin nak ngelakuin hal kayak gitu? Kamu udah kroscek jangan-nangan gadis itu hami sama orang lain terus ngejebak kamu? Dimana rumahnya gadis itu biar mama yang urus, berani banget dia ngejebak kamu. " Tania merasa tidak percaya anaknya akan melakukan hal seperti itu, Tania selalu memastikan anaknya hidup lurus.
__ADS_1
"Ma, Deni mau bertanggung jawab, tugas mama cuma lamarin dia buat Deni, Deni gak pernah minta macam-macam sama mama, kali ini aja, Deni mau nikahin gadis itu. " Deni bersimpuh di kaki mamanya, takut jika mamanya benar-benar pergi melabrak Livia, Deni hanya ingin semunya berjalan dengan lancar tanpa ada drama.
"Deni, mama ngerasa gak ngedidik kamu dengan benar nak, mama ngerasa gak berguna sebagai orang tua, kenapa kamu bisa kebablasan begitu Deni, ya Tuhan.. "
"Maafin Deni, maafin Deni ma. " Deni menciumi kaki mamanya, merasa bersalah.
Tania akhirnya mengalah.
"Ya sudah dimana rumah gadis itu, biar mama ketemua sama orang tuanya. " Ucap Tania menahan air matanya, tidak ingin kelihatan lemah di depan anaknya.
"Beneran ma? Kalau gitu Deni bakalan temuin orang tua gadis itu duluan baru aku jemput mama lagi. " Ujar Deni merasa sangat senang, akhirnya pe-er pertamanya selesai.
Selanjutnya Deni akan meyakinkan orang tua Livia.
###
Deni saat ini sudah berada di rumah Livia kembali di hadapannya sudah ada orang tua Livia, menu gtu laki-laki itu mengatakan sesuatu.
"Nak Deni? Katanya kamu mau ngomong sesuatu sama kami?. " Tanya mama Livia.
"Iya nak Deni? Ada apa?. " papa Livia ikut bertanya.
Deni menaring nafasnya dan mengembuskannya secara perlahan, ia sedikit gugup.
"Saya mau bertanggung jawab kepada Livia, saya mau nikahin dia. " Ujar Deni tanpa terbata-bata ia sudah latihan mengatakan ini sejak tadi di dalam mobil pada saat menuju ke rumah Livia.
"Hah? Tante sama om gak salah dengar Deni?. " Mama Livia merasa heran sekaligus ada perasaan senang dan harus di dalam hatinya.
"Kamu serius Deni? Kamu tau sendirikan keadaan Livia sekarang kayak gimana" Cecar Papa Livia.
"Saya serius om, tolong izinkan saya menikahi Livia. " Ujar Deni mantap.
"Lalu bagaimana sama orang tua kami?. " Tanya Mama Livia lagi.
"Saya juga sudah berbicara dengan orang tua saya, hanya saja saya tidak mengatakan kejadian yang sebenarnya jadi, tolong om dan tante jika orang tua saya datang kesini tidak usah membahas kejadian buruk yang menimpa Livia. "
"Syukurlah kalau begitu, tapi om merasa orang tua kamu tetap harus tau keadaan Livia yang sebenarnya nak Deni. "
__ADS_1
"Saya sudah mengakui kalau saya yang membuat Livia hamil dan akan bertanggung jawab, jadi biarlah itu menjadi urusan saya om, tolong untuk masalah Livia dan kejadian malam itu om dan tante tidak usah memberitahu orang tua saya, biarlah itu menjadi aib yang akan kita tutup rapat-rapat bersama. " Deni terlihat sangat dewasa mengatakan hal seperti itu, Papa Livia merasa takuub mendengarnya.
Mama Livia sontak memeluk suaminya terharu mendengar Deni ingin bertanggung jawab atas kehamilan Livia. Padahal Deni tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian tersebut.
"Deni, om merasa sangat berterima kasih sama kamu karena kamu mau menerima keadaan Livia, namun om dan tante belum bisa memberikan keputusan final karena kita juga harus tau bagaimana pendapat Livia tentang hal ini. " Ujar papa Livia.
"Ah iya nak Deni, bagaimana kalau kamu juga membicarakan hal ini sama Livia juga. " Timpal mama Livia.
"Ah iya om, tante saya disini cuman mau mastiin apakah om dan tante mau menerima saya, sementara untuk Livia sebenarnya saya juga sudah membicarakan hal ini sama dia, mungkin jika om dan tante berkenan saya ingin bertemu dengan Livia lagi. " Ucap Deni.
"Om dan tante tidak ada masalah jika itu sudah adalah keputusanmu, om dan tante justru merasa sangat bersyukur dan berterima kasih karena kamu sudah mau menerima Livia. " Balas papa Livia.
"Kalau begitu kamu tunggu disini, tante sama om akan panggil Livia biar kalian bisa bicara. "
Mama dan papa Livia kemudian beranjak menuju ka kamar anak gadisnya tersebut, sementara di ruang tamu Deni sendirian menunggu Livia, gadis itu pasti akan mengomelinya lagi.
Tidak lama kemudian Livia muncul dengan ekspresi yang suda Deni tebak sebelumnya, gadis itu terlihat sangat kesal.
"Sudah gila kamu yah. " Bentak Livia.
Deni hanya diam tidak, membalas ucapan Livia, ia sudah tau bahwa gadis itu pasti akan menolaknya. Mengingat watak Livia yang keras.
" Aku udah bilang sama kamu gak usah ngelakuin hal sejauh itu Deni. "
"Aku siap buat jadi ayah dari anak yang kamu kandung itu, Livia kenapa kamu gak bisa ngeliat ketulusan aku? Aku benar-benar mau bertanggung jawab sama kamu. " Balas Deni.
"Tapi Deni.... "
"Gak ada tapi-tapian lagi keputusan aku udah bulat, aku udah ngomong sama orang tua aku dan udah minta izin sama orang tua kamu, kita bakalan nikah, aku tetap bakalan bertanggung jawab sama kamu, sama baui kamu. " Tegas Deni.
"Aku bakalan balik lagi minggu depan, bawa orang tua aku. " Lanjut Deni.
Livia hanya diam, tidak tahu harus berbuat apa untuk menahan Deni.
"Tolong pikirin apa yang aku omongin, Livia, aku serius. " Ujar Deni lagi.
Bersambung.. .
__ADS_1
Klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian.