
Sedangkan Livia diam-diam mengulum senyumnya, ada perasaan aneh yang menghelitik di dalam dirinya saat mendengar Deni akan kembali berkunjung ke rumahnya.
###
"Aku ingin melamarmu Livia. " Ujar Deni bersungguh-sungguh.
Laki-laki itu benar-benar tidak pernah menyerah untuk mendapatkan Livia, bahakan setelah satu tahun berlalu.
Setelah acara kelulusan beberapa hari yang lalu, Deni menepati janjinya untuk mengunjungi Livia dan disinilah mereka sekarang. Halaman belakang rumah Livia yang kini banyak di tumbuh bunga-bunga yang sedang bermekaran.
"Livia...?. " Panggil Deni.
Livia mengalihkan pandangannya ke arah lain, gadis itu nampak gugup.
"Maaf Den, tapi aku nggak bisa. " Ujar Livia kemudian.
"Kenapa?. "
"Den, kamu tau aku udah sering nyakitin perasaannkamu selama ini, kamu pantes ketemu sama orang yang lebih baik di banding aku Den. " Ujar Livia, merasa tidak pantas untuk hidup berdampingan dengan Deni.
Deni menggeleng-gelengkan kepalanya, laki-laki itu memberanikan dirinya menggenggam tangan Livia untuk meyakinkan gadis itu.
__ADS_1
"Aku udah coba Livia, nggak ada yang lebih baik dari kamu, nggak ada yang bisa milikin hati aku sepenuhnya selain kamu, aku udah coba menjalin hubungan dengan beberapa gadis selain kamu tapi sayangnya pikiran aku cuman tertuju ke kamu Livia, bagi aku kamulah yang terbaik. " Tutur Radit, mencurahkan segala isi hatinya.
"Tapi Den... "
"Kamu masih belum punya perasaan sama aku?. "
Livia mengangguk pelan, iantakut kembali menyakiti perasaan Deni. Livia sebenarnya mulai menyadari jika dirinya sebenarnya juga punya perasaan pada Deni namun karena merasa dirinya kotor, Livia lebih memilih mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki perasaan apapun pada laki-laki itu.
Livia sadar betul, ekspektasi Deni padanya sangatlah besar dan Livia tidak yakin bisa memenuhi ekspektasi tersebut.
"Livia kasih aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku bisa membuat kamu jatuh cinta balik sama aku, aku pastiin kamu nggak bakalan kekurangan sesuatu apapun, plis sekali ini aja Liv, belajar buka hati kamu lagi ke aku, aku yakin seiring berjalannya waktu perasaan kamu akan mulai tumbuh. " Oceh Deni, tetap kekeh pada pendiriannya.
"Baiklah Den, kalau gitu aku bakal pikirin dulu dan minta saran sama orang tuaku juga. " Ujar Livia yang seketika membuat raut gelisah pada wajah Deni berubah menjadi berseri-seri.
"Nggak perlu lagi Liv, aku udah ngomong dan minta restu sama orang tua kamu lebih dulu. " Balas Deni, antusias.
Livia mengernyitkan kedua alisnya, nampak bingung.
"Aku udah ngomongin ini dulu sama orang tua kamu, awalnya merka juga ngerasa nggak enak tapi aku udah berhasil ngeyakinin mereka buat nge restuin kita, kamu nggak perlu lagi mikirin hal yang lain, yang terpenting saat ini kamu harus bahagia Liv. " Jelas Deni.
"Tunggu.. Tunggu, terus mama kamu gimana?. " Tanya Livia memastikan.
__ADS_1
"Tenang aja semuanya biar aku yang urus
" Balas Deni.
Akan tetapi Libia segera menggelengkan kepalanya.
"Nggak boleh gitu dong Deni, aku ada salah sama mama kamu, kata-kataku yang dulu suka kasar pasti pernah nyakitin hatinya... " Ujar Livia, nada suaranya terdengar sangat menyesal karena pernah bersitehang dengan orang tua satu-satunya Deni itu.
Deni kembali menggenggam tangan Livia untuk sekali lagi meyakinkan gadis itu.
"Gimana kalau kita sama-sama pergi kerumahku untuk minta restunya?. " Ujar Deni memberikan saran.
Livia kembali nampak tidak sepakat. Ia takut orang tua Deni akan menolaknya mentah-mentah dan mengusirnya. Apalagi kejadian tahun lalu pasti masih membekas di dalam ingatan mantan calon mertuanya itu.
"A-aku nggak berani Deni. " Balas Livia.
Deni tidak menyerah, seharian itu dirinya habiskan untuk membuat Livia mau untuk pergi meminta restu pada mamanya.
Sebenarnya Deni sendiri sudah meminta resti pada mamanya itu, akan tetapi Deni ingin Livia mulai belajar untuk bertanggung jawab pada kesalah yang di perbuat nya sendiri dengan datang langsung dan bertemu lalu meminta maaf.
Bersambung...
__ADS_1