
"Livia, kenapa orang ini ada disini?. " Tanya laki-laki itu.
###
Livia menarik gadis itu lalu membawanya ke ruang tamu, menjauhkannya dari pandangan Radit.
"Kamu ngapain kesini? Kamu nggak liat kondisi suami aku lagi nggak baik-baik aja? Apa yang kamu cari sampai harus datang sejauh ini?. " Cecar Livia.
Gadis selingkuhan Radit itu tersenyum sinis.
"Kenapa memangnya kalau aku datang kesini? Aku datang untuk Radit bukan untuk kamu. " Balas gadis itu.
"Cih!dasae tidak tau malu, kamu tidak di butuhkan disini, kehadiranmu hanya sebagai pengganggu tau!. " Balas Livia tidak mau kalah.
"Livia, Sinta, kenapa kalian berantem?. " Pekik Radit yang kini sudah berdiri di depan pintu kamar.
Wajahnya nampak kebingungan, melihat dua gadis itu berdebat. Wajar saja, Radit pasti tidak mengingat perselingkuhan yang dilakukannya dengan gadis bernama Sinta itu.
Kedua gadis itupun sontak menatap ke arah Radit.
"Radit sayang, aduh aku juga nggak tau kenapa istri kamu itu marah-marah niat kedatangan aku kesini, padahalkan aku cuman mau tau keadaan kamu sekarang, tapi dianya malah marah-marah ke diriku. " Oceh Sinta, mencoba mengambil simpati Radit.
__ADS_1
"Kamu ingat nama orang ini?. " Tanya Livia kepada Radit sembari menunjuk ke arah Sinta.
Livia tidak menyangka, Radit masih mengingat nama gadis selingkuhannya itu. Padahal jelas-jelas Radit tidak bisa mengingat orang tuanya sendiri, tapi gadis itu?.
"Sialan." Batin Livia. Ada perasaan kesal bercampur kecewa di dalam dadanya, mengetahui suaminya juga mengenali Sinta, perusak rumah tangganya.
"Ah nggak, bukan seperti itu Livia aku cuman nggak ngerti, aku juga nggak tau kenapa dia bisa ada disini makanya aku tanya sama kamu, terus kenapa kalian bertengkar?. " Radit nampak menghiraukan ucapan Sinta tadi dan lebih fokus berbicara kepada Livia.
Livia kemudian menggelengkan kepalanya.
"Nggak ada apa-apa, aku juga cuman heran kenapa orang ini ada disini, katanya dia mau jengukin kamu tapi bawa koper berukuran besar kayak orang mau pindahan rumah. " sinis Livia, melirik malas pada Sinta yang asyik tebar pesona.
Radit menatap ke arah Sinta, gadis itu tersenyum genit.
"Oh gitu, dia teman sekolah aku Livia kamu pasti pernah liat dia juga kan, tapi aku nggak nyangka dia bisa datang sejauh ini, kamu jangan marah yah Livia. " Radit lagi-lagi tidak menghiraukan ucapan Sinta dan lebih fokus kepada Livia.
"Udah nggak apa-apa. " Balas Livia, cuek tidak ingin terlihat kesal.
Beberapa saat kemudian mereka bertiga duduk di ruang tamu.
"Jadi kamu mau sampai kapan disini?. " Uja Radit. Laki-laki itu sepertinya benar-benar lupa dengan apa yang sudah di lakukannya dengan Sinta.
__ADS_1
"Aku mau disini nemenin kamu Dit, sampai kamu sembuh. " Balas Sinta, centil. Suaranya terdengar sengaja di buat manja.
"Heh, nggak bolehlah, kamu pikir kamu siapa?. " Sentak Livia.
"Livia, sabar dong. " Tegur Radit, Livia langsung diam menyadari suaminya itu tidak boleh di buat terkejut.
"Aku bolehkan tinggal disini. " Ujar Sinta, melunjak.
"Tidak boleh, kamu tidak boleh tinggal di tempat kami, kamu juga tidak boleh lama-lama berada disini, lagi pula istriku sudah ada disini dia yang akan mengurus ku. " Jelas Radit.
Sinta nampak kesal.
"Kalau begitu aku tidak akan tinggal disini, tapi aku akan berada di negara ini sampai kamu sembuh, bagaimana?. " Tawar Sinta.
"Heh terserah yah, kamu mau di negara ini kek, mau di nagara mana kek, mau selamanya juga boleh tapi nggak usah gangguin kami. " Pekik Livia, kesal.
"Livia... " Tegur Radit lagi, kali ini nada suara Radit sedikit membentak.
"Apa? atau kamu sebenarnya mau kalau dia tinggal sama kita? Sekalian aja kamu tidur sama dia. " Balas Livia, emosinya sudah tidak bisa di bendung lagi.
"Ide bagus tuh. " Timpal Sinta, yang membuat Livia dan Radit sontak menatap gadis itu dengan tatapan tajam yang menusuk.
__ADS_1
Bersambung...