
"Radit udah bener-bener kritis kali ini dan..... " Ujar Livia tidak sanggup menyelesaikan ucapannya.
###
Livia dan Sinta akhirnya berhasil menurunkan ego merka masing-masin dan sepakat untuk ymtudak lagi membuat keributan.
Sinta yang merasa bersalah setelah mengetahui Radit sudah tidak memiliki waktu yang banyak untuk hidup seketika merasa menyesali perbuatannya.
Kedua gadis itupun perlahan mendekati tubuh Radit yang terbaring lemas dengan selang-sekang yang masuk ke dalam tubuhnya.
Kepalanya terlihat di perban, sementara mesin-mesin yang membantu Radit untuk tetap hidup itu terdengar menakutkan dan membuat rasa trauma tersendiri bagi kedua gadis yang sama-sama memiliki peran penting atas kejadian yang membuat Radit bisa menjadi seperti sekarang ini.
Livia tidak dapat menahan air matanya saat jari-jari tangannya berhasil menyentuh kulit Radit yang hangat.
"Tubuhnya masih hangat, semoga ada keajaiban dan Radit bisa kembali pulih. " Gumam Livia, berharap akan ada mukjizat yang terjadi untuk suaminya itu.
Pergerakan kecil dari tangan Radit membuat Livia sontak menggenggam tangan laki-laki itu seerat-eratnya.
"Livia... " Gumam Radit, suaranya terdengar sangat pelan saat memanggik nama Livia.
__ADS_1
Sinta yang juga masih berada di ruangan itu mengalihkan pandangannya ke arah lain, matanya sudah berkacs-kacs sedari tadi akan tetap gadis itu mencoba tetap terlihat tenang.
"Dalam keadaan seperti ini cuma Livia yang kamu ingat Dit. " Batin Sinta, ada rasa sakit di dalam dadanya.
"Radit, kamu sadar? Iya ini aku Livia.... " Pekik Livia, antara sedih dan senang bercampur menjadi satu.
Radit tersenyum kecil, mulutnya sekaan-akan ingin mengatakan sesuatu.
"Livia, ma...afin aku y...a."
Livia segera menggeleng-gelengkan kepalanya, air matanya semakin deras.
"Kamu nggak salah apa-apa kok Dit, aku yang salah karena nggak bisa jadi istri yang baik, nggak bisa jagain kamu disini dengan baik.... " Balas Livia.
"Nggak Dit, aku yang salah karea waktu itu aku nggak mau dengarin penjelasan kamu yang mau memperbaiki hubungan kita, aku yang harusnya minta maaf sama kamu. " Tutur Livia.
Radit menggeleng pelan dan ingin kembali mengatakan sesuatu namun Livia melarangnya.
"Udah nggak usah banyak bicara, aku tau kamu pasti kesakitan, kamu harus istirahat biar bisa cepat sembuh dan kita bisa cepat pulang kembali ke Indonesia, kita perbaiki hubungan kita lagi dari awal. " Oceh Livia, bayangannya tentang masa depan yang lebih baik membuatnya optimis ujian percaya jika Radit pasti akan sembuh dan kembali sehat.
__ADS_1
Namun, Laki-laki itu justru menggeleng lemah.
"Aa..ku ud..ah ngak kuathh.. kepalaku rasanya sa..kit bange..ethhh." Gumam Radit, mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali, seolah rasa sakit itu sudah tidak dapat lagi di tahannya.
Livia semakin menangis histeris, gadis itu merebahkan kepanya di samping Radit sembari menciumi wajah suaminya itu.
"Jangan ngomong kayak gitu Dit, kamu pasti bisa melalui semua ini, bertahan demi aku dan masa depan kita yah... " Gumam Livia.
"Liv, a..ku cin..ta sama ka..mu." Tutur Raidt pelan. Ungkapan cinta yang pertama kali Radit ucapkan pada Livia selama beberapa bukan pernikahan mereka seketika membuat perasaan Livia mencelos.
"Aku juga cinta sama kamu, makanya kamu harus bertahan demi aku. " Balas Livia, mengelus pelan wajah Radit yang pucat pasi.
Livia kemudian menegakkan tubuhnya kembali dan mengusap-usap tangan Radit memberinya kekuatan agar laki-laki itu tetap bertahan dan melewati masa kritisnya.
Namun, alangkah terkejutnya Livia saat Radit mulai kesulitan bernafas.
"Dit, kamu kenapa?. " Pekik Livia histeris.
Sementara Sinta yang sedari tadi hanya diam saja memperhatikan keduanya langsung berlari keluar untk mencari pertolongan.
__ADS_1
"Liv.. A..ku udah ng..ak kuathh lagihhh. " Di sela-sela nafasnya yang mulai terputus-putus itu Radit masih berusaha berbicara.
Bersambung...