
Episode Sebelumya.. .
"Tolong pikirin apa yang aku omongin, Livia, aku serius. " Ujar Deni lagi.
###
Happy Reading and Enjoy yah Guys.. .
Hari senin, Livia berangkat ke sekolah setelah dua minggu tidak pernah mengikuti pembelajaran dengan alasan sakit. Orang tuanya telah berbicara dengan kepala sekolah dan membawakan surat keterangan dari rumah sakit sebagai tanda bukti jika Livia memang benar-benar sedang beristirahat karena sakit selama dua minggu ke belakang.
Livia tetap harus pergi ke sekolah, ia tidak ingin terlihat terpuruk setelah kejadian buruk yang menimpanya, disisi lain ia harus bertemu dengan Radit untuk memberinya pelajaran.
Livia berjalan masuk ke kelasnya seperti biasa, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Livia mebgikuti pembelajaran dan pada saat jam istirahat gadis itu asik berbincang-bincang dengan teman-tenan sekelasnya.
###
Setelah lonceng pertanda pulang sekolah berbunyi Deni sudah berada di depan pintu kelasnya, menunggu Livia.
Livia yang melihat itu tidak terlalu ambil pusing, ia berjalan melewati Deni.
"Liviaaaa." Panggil Deni.
Livia tidak menghiraukan nya. Hal ini menjadi perhatian beberapa orang siswa lainnya.
"Livia." Panggil Deni lagi.
Namun gadis itu tetap tidak menghiraukan nya dan melongos pergi begitu saja.
Tidak hilang akal Deni langsung menarik gadis itu ke tempat yang lebih sepi, karena menyadari beberapa siswa yang memperhatikan mereka. Deni tidak ingin gosip tentang dirinya dan Livia sudah putus tersebar di sekolah.
"Apaan sih Deni, sakit tau ah. " Livia menghempaskan tangan Deni dengan kasar.
"Aku dari tadi manggilin kamu, tapi kamunya gak mau denger. " Balas Deni.
Mereka berdua saat ini sudah berada di tempat yang lumayan sepi.
"Aku kan udah bilang aku gak mau ketemu apalagi sama kamu. " Ketus Livia.
"Tapi kamu harus pertimbangan apa yang aku omongin kemarin, kalau nggak perut kamu bisa tambah besar, Livia. " Ujar Deni.
Plak
Satu tamparan mengenai wajah Deni.
"Aw sakit, Livia. " Deni memegangi pipinya.
"Gak sekalian kamu pake toa ngomongnya, biar sekalian satu sekolah dengar. " Omel Livia.
"Maaf... "
__ADS_1
"Aku mau pulang, kamu tuh tambah hari tambah nyebelin tau gak. "
Livia berjalan meninggalkan Deni yang masih memegangi pipinya yang memerah karena tamparan Livia yang cukup keras. Namun, baru beberapa langkah gadis itu berjalan langkahnya langsung berhenti melihat sosok Radit yang sedang asik bersenda gurau bersama teman-temannya.
Livia merasa darahnya memanas. Seketika Livia menghampiri laki-laki itu, sementara teman-temannya Radit yang menyadari Livia datang langsung menyingkir memberikan jalan.
Radit yang tidak menyadari kehadiran Livia langsung tersentak kaget setelah melihat gadis itu sudah berada tepat di hadapannya.
Plak
"Aw, Livia?. " Teriak Radit langsung memegang pipi kanannya.
Plak
"Apa-apaan....." Belum sempat Radit mengatakan sesuatu dua kali tamparan langsung mengenai kedua pipinya.
Plak Plak
Livia tidak memberikan kesempatan kepada Radit untuk menghindar dari serangan tamparan nya. Livia benar-benar terlihat luas setelah melakukan itu.
Teman-teman Radit yang berada di dekatnya mencoba untuk mendekat berniat menjauhkan Livia dari Radit, takut jika Radit tiba-tiba balas memukul Livia, namun laki-laki itu ternyata tidak bergeming, hanya menatap Livia dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata.
Hening.
"Livia.. " Panggil Deni, segera berlari ke arah Livia dan menarik gadis itu untuk menjauh.
Teman-teman Radit hanya bengong, mereka seperti terhipnotis dengan kejadian barusan. Hingga Livia dan Deni pergi menjauh, mereka baru tersadar.
"Tadi itu Livia kan?. " Timpal temannya yang lain karena baru kali ini ia melihat gadis populee di sekolah itu marah.
"Kok tadi aku kayak mimpi yah. " Ujar Firman lagi.
"Eh kamu gapapakan Radit?. " Tanya temannya yang lain seakan-akan baru menyadari jika Radit baru saja di tampar nerkaki-kali oleh Livia.
"Gapapa." Ujar Radit meninggalkan teman-temannya, merasa malu sekaligus ada rasa bersalah yang memenuhi rongga dadanya setelah merasakan tamparan Livia tadi. Radit melihat mata Livia berkaca-kaca, menahan tangis.
Disisi lain, Livia yang saat ini sudah berada di dalam mobil Deni kembali menangis sesenggukan entah mengapa, akhi-akhir ini ia jadi sering menangis, padahal masalah apapun yang ia hadapi selama ini tidak ada yang berhasil membuatnya meneteskan air mata, baru kali ini.
"Kamu tunggu di sini, biar aku yang urus Radit sialan itu. " Umpat Deni, merasa sangat marah melihat Radit yang masih bisa tertawa setelah apa yang dilakukannya kepada Livia.
"Kurang ajar!. " Umpat Deni lagi.
Deni kemudian berbalik arah untuk menemui Radit lagi. Namun, Livia segera menahannya.
Livia menghapus air matanya dan turun dari mobil Deni.
"Kamu nggak usah ikut campur, ini urusan aku!. " Tegas Livia, memegang tangan Deni agar laki-laki itu mengurungkan niatnya menemui Radit.
"Tapi Livia, dia harus di hajar sekali-kali, kamu tunggu di dalam mobil yah biar aku kasih siap pelajaran. " Deni menepis pegangan tangan Livia dan berjalan menuju ke tempat Radit tadi berada.
__ADS_1
Livia sekali lagi menahannya.
"Deni, gak usah mendingan kita pulang aja, anterin aku pulang. " Ujar Livia.
"Tapi... "
"Nggak ada tapi-tapian, ayo antar aku pulang cepetan Deni! Orang--orang udah pada ngeliatin, aku malu tau, jangan bikin aku tambah malu. " Perintah Livia.
"Huuuuuhhh." Deni menghembuskan nafasnya dengan kasar karena tidak dapat melakukan banyak hal untuk menolak permintaan Livia.
"Ayo naik ke mobil, anterin aku pulang, Sekarang!. " Tegas Livia.
Deni kemudian mengikuti Livia u tuk kembali ke dalam mobil, Deni menyalakan mesin mobilnya dan melaju ke luar dari gerbang sekolah.
Lima belas menit berkendara, kini mereka sudah sampai di depan rumah Livia, namun gadis itu hanya terdiam melamun, menatap kosong ke arah luar jendela.
Radit hanya diam, tidak berani membuka suara menunggu dengan setia hingga Livia tersadar dari lamunannya.
Hening.
"Deni... " Panggil Livia setelah beberapa menit mereka saling diam.
"Apa Livia?. "
"Bisa gak, kamu gak usah ikut campur dalam masalahku ini, aku tau niat kamu baik sama aku, tapi aku sungguh gak bisa ngelanjutin hubungan kita lagi. " Ujar Livia serius.
Deni merasa jantungnya akan meledak karena beroacu terlalu cepat, ia tidak ingin berpisah dengan Livia.
"Livia, maaf aku nggak bisa jagain kamu dengan baik. " Deni merasa sangat bersalah.
"Itu bukan salah kamu, kamu harusnya berhenti dan pergi dari kehidupan aku, Deni!. " Lagi-laki Livia mengusir Deni untuk menjauh dari hidupnya.
"Aku gak bisa, aku bakalan tetap perjuangin kamu, aku janji bakalan jagain kamu lebih baik lagi, aku bisa nerima keadaan kamu dan bayi yang ada di dalam kandungan kamu, aku janji bakalan nganggap dia kayak anakku sendiri, Livia. " Deni masih tetap konsisten dengan ucapannya.
"Kenapa?. " Tanya Livia, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya Livia merasa tersentuh dengan perlakuan Deni kepadanya, namun ia tidak mencintai tau laki-laki itu di dalam hatinya tidak ada Deni. Ia tidak mengharapkan Deni untuk menjadi pendamping hidupnya.
"Karena aku mencintai kamu Livia, aku sudah mebgagumi kamu dari pertama kali kita ketemu. " Jawab Deni tulus.
Livia yang mendengar itu hanya diam, tidak mengeluarkan sepatah katapun lalu turun dari mobil Deni.
Deni ikut turun dari dalam mobilnya.
"Livia?. " Panggil Deni.
Gadis itu lagi-lagi tidak menghiraukannya, berjalan masuk ke dalam halaman rumahnya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Deni yang masih berdiri di depan pagar rumah Livia.
Deni memastikan gadis itu benar-benar sudah masuk ke dalam rumahnya, baru ia akan masuk ke dalam mobilnya dan pulang ke rumahnya sendiri.
Bersambung...
__ADS_1
Klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian.. Terima kasih..