
Episode sebelumnya...
Andra berlalu pergi dengan mengendarai motornya, tidak lama kemudian mobil Radit juga tiba.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
Pip.. Pip..
Suara klakson mobil Radit.
Livia yang baru beberapa langkah beranjak dari pagar rumahnya, sontak menghentikan langkahnya dan melihat keluar pagar.
"Radit?. " Lirih Livia.
Radit membelokkan mobilnya masuk ke dalam halaman rumah Livia, sementara gadis itu melanjutkan langkahnya menuju ke teras tanpa menghiraukan Radit.
"Livia!. " Pekik Radit menurunkan kaca mobilnya memanggil Livia.
Livia berhenti dan menatap sinis ke arah Radit.
Radit segera turun dari mobilnya dan berlari-laru kecil ke arah Livia.
"Apa?. " Tanya Livia setelah mereka berdua sudah saling berhadapan.
"Kenapa telpon ku nggak kamu angkat? Aku nelpon HP kamu berkali-kali loh. " Ujar Radit, dengan nada suara sedikit kesal.
"Kenapa emangnya?. " Tanya Livia santai, lalu duduk di kursi teras.
Radit mengikutinya.
"Kita ada fitting gaun hari ini, Pura-pura lupa yah?. " Pekik gunawan, kesal.
__ADS_1
"Ups, aku lupa. " Jawab Rania, malas.
"Ah sialan!. " Umpat Radit.
"Santai dong. " Balas Livia.
"Aku udah nunggu satu jam lebih di sana dan ternyata kamu masih santai-santai disini, telpon aku nggak kamu angkat, chat aku nggak kamu balas, maunya kamu apaansih. " Ujar Radit, Laki-laki itu terlihat sangat kesal kali ini.
"Ya udah kamu tunggu aja disini, aku mau ganti baju dulu. " Balas Livia, melongos masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Radit yang menganga karena shock melihat perlakuan Livia yang terlalu santai setelah membuatnya menunggu selama satu jam di toko baju pengantin.
Mereka sudah berjanji akan bertemu disana, karena Livia menolak untuk di jemput. Namun karena sudah satu jam Livia tidakuncul-muncul juga akhirnya Radit berinisiatif menjemput gadis itu.
Disisi lain, Livia tersenyum puas, setelah membuat kesal Radit.
"Rasain . " Umpat Livia, pelan.
Setengah jam berlalu, Livia dan Radit sudah berada di toko baju pengantin untuk melakukan fitting tanpa di dampingi oleh orang tua mereka masing-masing.
Orang tua Livia sedang sibuk mengurus berkas-berkas nikah Livia yang masih belum cukup umur untuk menikah, berbeda dengan Radit yang usianya memang sudah menginjak 18 tahun. Sementara orang tua Radit sedang mengurus pekerjaan mereka masing-masing.
"Udah biarin aja, kamu nggak malu, kalau nanti ada keluarga aku yang datang terus ngeliat perut kamu yang udah buncit. " Ejek Radit.
"Sialan! Kamu pikir aku mau nikah sama kamu kalau bukan karena bayi ini, berani banget kamu ngomong kayak gitu. " Sinis Rania.
"Ya udah batalin aja pernikahannya, terus aku bakalan nyebarin poto kamu, sama perut kamu yang udah buncit itu. " Balas Radit, mengancam.
Livia yang mendengar itu hanya bisa berdecak kesal. Meskipun gosip tentang dirinya yang hamil memang sudah tersebar di sekolahnya namun tidak ada satupun orang-orang yang pernah melihat langsung kehamilan Livia. Kecuali Radit dan Deni.
Livia yang ingin namanya tetap bersih hanya bisa pasrah dan menunggu waktu hingga bayinya lahir, sehingga Livia bisa bebas kembali ke sekolahnya dan membungkam mulut-mulut para penggosip itu.
Meskipun merasa sesak di bagian perutnya, setelah mencoba gaun pengantin untuk yang terakhir kalinya, Livia tidak melakukan banyak komplain karena percuma saja, dirinya dan Radit akan kembali berdebat.
"Kamu tuh kurang ajar banget sih, nggak bisa apa yah omongan kamu itu di kontrol dikit, tadi itu yang punya toko baju masih ada disana, bisa-bisanya kamu ngancam aku kayak tadi. " Omel Livia setelah mereka berdua sudah berada di atas mobil Radit.
__ADS_1
"Kenapa emangnya kamu malu?. " Tanya Radit dengan nada mengejek.
Livia melirik sinis. Jika bukan karena bayinya, Livia benar-benar tidak sudi menikah dengan Radit.
"Iya, aku malu karena mereka tau calon suamiku itu kamu, aku malu banget tau nggak. " Balas Livia tidak mau kalah.
Radit terlihat menahan amarahnya mendengar ucapan Livia barusan.
Drtttt... Cit...
Suara ban mobil yang di rem mendadak.
"Apa-apaan sih, kamu mau mati? Kalau mau mati sendiri aja sana nggak usah ngajak-ngajak. " Pekik Livia, untung saja ia menggunakan seatbelt.
"Turun!. " Perintah Radit.
"Apa?. " Balas Livia.
"Aku bilang kamu turun dari mobil aku!. " Pekik Radit.
"Kamu mau turunin aku di tengah jalan?. " Tanya Livia lagi.
"Iya, cepetan turun, aku baru ingat mau ke rumah teman aku, kamu naik angkutan umum aja, berisik banget tau nggak. " Ujar Radit tanpa rasa iba melihat keadaan Livia yang sedang hamil dan harus pulang seorang diri.
"SIALAN!. " Umpat LiviaLivia segera turun dari mobil Radit.
Brak..
Suara pintu mobil yang di banting cukup keras. Radit segera melajukan mobilnya meninggalkan Livia di pinggir jalan.
"Kurang ajar! Sialan!. " Umpat Livia kesal karena di turunkan di pinggir jalan.
Beruntung Livia selalu membawa uang cash ke mana-mana jika tidak, gadis itu bisa mati jika harus berjalan kaki sepanjang lima kilo menuju ke rumahnya.
__ADS_1
Bersambung..