Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 44 : Cemburu Lagi


__ADS_3

Nasi sudah menjadi bubur, tidak ada yang dapat mereka berdua lakukan, selain memendam perasaan yang sudah lama tumbuh di hati keduanya.


###


"Wuah, udah jam 10 Ndra, aku mesti pulang, orang tuaku lagi di luar kota dan mereka pasti udah nelpon, mana aku nggak bawa HP lagi. " Ujar Livia setelah melihat jam dinding yang ada di warung itu.


Mereka berdua terlalu lama berbincang hingga lupa waktu.


"Ya udah aku antar kamu pulang yah. " Ujar Andra.


"Ya udah yuk. " Balas Livia.


###


Disisi lain, Deni yang baru saja keluar dari super market tanpa sengaja melihat Livia yang baru saja keluar dari warung bubur ayam di seberang jalan super market tempatnya berbelanja.


"Ngapain mereka pergi berduaan?. " Ujar Deni merasa cemburu.


Drrrtt.. Drrrtt..


Ponsel Deni nergetar menandakan ada panggilan masuk ke ponselnya.


"Halo ma. " Ujar Deni setelah mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari mamanya.

__ADS_1


"Kamu ngapain belanja di super market dekat rumah Livia?. " Cecar mama Deni.


"Hah?. " Deni sontak terkejut mendengar pertanyaan mamanya, ia kemudian memperhatikan sekelilingnya.


"Nggak usah kayak orang kebingungan kayak gitu, mama udah nyuruh orang buat ngikutin aktivitaskamu akhir-akhir ini, kamu udah janji ya Den sama mama, kamu nggak bakalan nyari tau lagi tentang gadis itu, ngapain lagi kamu pake acara belanja di area rumahnya!. " Omel Bu Widia.


Deni yang tadinya kebingungan akhirnya mengerti kenapa mamanya bisa mengetahui posisi dan aktivitasnya saat ini.


"Tapi ma... "


Hu Widia segera memotong ucapan Deni.


"Deni, ini udah kesekian kalinya yah kamu bolos, mama nggak mau dengar kepala sekolah kamu nelponin mama terus nyariin kamu, cepat pulang sekarang!. " Perintah Bu Widia.


"Bentar aja, ma, kasih Deni waktu sebentar buat mastiin keadaan Livia. " Pina Deni.


Deni yang mendengar ancaman tersebut nyalinyapun langsung ciut, mau tidak mau dirinya harus segera pulang.


Deni memang sengaja pergi ke super market tersebut untuk membelikan Livia buah-buahan, Deni tahu gadis itu saat ini sedang tinggal sendirian, karena Radit sedang berada di sekolah.


Deni memanfaatkan hal itu untuk bertemu Livia, namun segera ketahuan oleh mamanya sendiri.


"Deni, cepat pulang!. " Ujar Bu Widia lagi dari balik sambungan telepon.

__ADS_1


"Iya ma, ini Deni udah mau naik ke mobil kok. " Balas Deni.


Rencananya menemuu Livia hari ini gagal, ia harus segera pulang, jika tidak selamanya ia tidak akan bisa menemui Livia lagi.


Bu Widia pasti akan benar-benar mengirimnya keluar negeri. Jika dirinya terus membantah ucapan mamanya itu.


Deni mengendarai mobilnya dengan lambat sambil memikirkan Livia, ada perasaan cemburu ketika melihat gadis itu bersama dengan Andra, perasaan cemburu yang berlebihan di banding saat Livia bersama dengan Radit.


"Apa yang sedang mereka lakukan berduaan?. " Pikiran Deni mulai memikirkan hal yang tidak-tidak, apalagi saat ini Radit sedang berada di sekolah.


Otomatis Livia dan Andra akan berduaan di rumah gadis itu.


Deni segera memutar balik mobilnya, tidak menghiraukan puluhan klakson dan caci maki yang di terimanya dari pengendara lain saat dirinya memutar mobilnya sembarangan.


"Persetan dengan kalian. " Gerutu Deni, melakukan mobilnya menuju ke arah rumah Livia.


Tidak sampai tiga menit, Deni sudah berada di depan pagar rumah gadis itu. Namun, tidak ada tanda-tanda kendaraan Andra berada di dalam halaman rumah Livia.


Artinya Andra sudah pergi dan sepertinya laki-laki itu hanya mengantarkan Livia pulang.


"Ah dasar bodoh, kenapa aku harus khawatir terlalu berlebihan seperti ini. " Gerutu Deni kepada dirinya sendiri.


Pikiran buruknya tadi segera sirna. Deni merasa lega karena setidaknya Livia saat ini sudah berada di dalam rumahnya.

__ADS_1


Deni turun sebentar dari mobilnya dan menggantungkan buah-buahan segar yang di belinya tadi di pagar besi rumah Livia, lalu dirinya segera beranjak kembali mengendarai mobilnya.


Bersambung....


__ADS_2