Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 85 : Kembali Kritis


__ADS_3

Sinta berharap Radit masih memiliki sedikit saja perasaan cinta yang tersisa untuk dirinya.


###


"Aku nggak bohong! Kamu udah benar-benar gila Sinta. " Pekik Radit, mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Sementara Sinta terus-terussan memaksa laki-laki itu untuk menatap matanya.


"Tatap mata aku Dit, aku tau kamu masih cintakan sama aku? Kamu nggak cinta sama Livia, kita masih bisa kok perbaiki hunbungan kita dan mulai dari awal lagi. " Cecar Sinta, tetap kekeh menginginkan Radit kembali kepadanya.


Radit menggeleng keras.


"Kamu udah bunuh anakku, nyakitin istriku dan sekarang tanpa rasa malu kamu mau aku balik sama kamu? Nggak bakalan, aku udah nemuin cinta sejatiku Sinta dan itu bukan kamu. " Tegas Radit, berharap Sinta akan sadar dan segera meninggalkannya.


Namun, bukan Sinta namanya jika teladnyantidak bulat. Dengan tatapan tajam Sinta berjalan perlahan mendekati tubuh Radit.


"Kalau aku nggak bisa dapatin kamu, artinya Libia juga nggak boleh!. " pekik Sinta mendorong tubuh Radit ke tembok dengan cukup keras.


Brak


Kepala Radit membentur tembok dengan cukup keras. Seketika laki-laki itu terduduk lemas.


"Aaahhhh." Radit mengerang kesakitan, bekas jahitan di kepalanya mengeluarkan darah akibat benturan tadi.

__ADS_1


"RADITTTT..... " Sinta histeris menyadari perlakuannya tadi sangat berlebihan, padahal ia hanya berniat ingin menakut-nakuti laki-laki itu.


Sinta dengan cepat memanggil perawat yang berada tidak jauh dari ruang perawatan tersebut, hingga tidak lama kemudian Radit di larikan ke ruang unit gawat darurat.


Sinta yang panik segera membuat alasan jika Radit tadi tidak sengaja terjatuh dan dirinya yang ingin mengunjungiivia tidak sengaja menemukan kondisi Radit dalam kondisi kepalanya sudah berlumuran darah.


Livia yang baru saja kembali dari pemakaman dan saat ini berada di Koridor rumah sakit menuju ruang perawatannya melihat Sinta yang nampak sibuk dengan beberapa perawat.


"Ada apa itu?. " Lirih Livia, sesaat kemudian brankar yang di atasnya ada seorang laki-laki yang sedang terkapar lemas sedang terbaring.


"RADIT? . " Pekik Livia, menyadari laki-laki itu adalah suaminya.


Livia segera berlari menyusul Sinta dan para perawat tadi, meskipun kondisinya juga lemah namun melihat Radit yang sepertinya dalam keadaan tidak baik-baik saja membuat Livia melupakan rasa sakitnya sendiri.


Tidak lama kemudian Radit di masukkan ke dalam unit gawat darurat.


"Ada apa sama Radit? kamu apain dia?. "


Sinta sketika menghentikan langkahnya dan mulain menunjuk-nunjuk wajah Livia.


"Ini semua gara-gara kamu, harusnya kamu ceraiin dia, biar Radit bisa bahagia sama aku!. " Pekik Sinta, menyalahkan Livia yang sama sekali tidak tau aoa-aoa dengan kejadian yang baru saja menimp Radit.


"Maksud kamu apa?. " Tanya Livia tidak mengerti.

__ADS_1


"Iya seandainya kamu tinggalin Radit dan nggak usah pake drama mau ngerawat dia semuanya nggak bakalan kayak gini Liv, harusnya waktu aku kirimin video itu kamu langsung ceraiin dia, bukannya malah bertahan, lihatkan akibatnya bayi kamu meninggal dan Radit kritis. " Cecar Sinta, menyalahkan semua kejadian pada Livia.


Tubuh Livia seketika lemas mendengsr Rasit kini juga sedang dalam kondisi kritis. Jahitan lukanya setelah di kuret kemarin belum kering, kini rasanya sangat perih.


Livia merasa sangat kesakitan.


"Apa? Radit kritis?. " Ujarnya lemah.


"Udah deh nggak usah drama, pake acara akting sakit-sakitan kayak di sinetron aja. " Cibir Sinta melihat Livia yang saat ini sedang memegangi perutnya.


"Areghj sakit, tolong oanggilin perawat atau dokter Sinta... " Livia mengersng kesakitan.


Sedangkan Si ta nampak tidak peduli.


"Mati aja sana, nggak ada gunanya juga kamu hidup. " Ujar Sinta, gadis itu benar-benar bermulut jahat.


Bukan hanya mulutnya, tapi karakternya juga.


"Ada apa ini?." Tegur seorang dokter yang tiba-tiba saja melewati tempat tersebut.


"Dokter Amir, tolong dok perut saya sakit." Balas Livia, ternyata dokter tersebut adalah dokter kandungan yang merawat Livia.


Dokter itulin segera memanggik oerawat u tuk membawakan kursi roda dan membawa Livia ke ruang perawatannya, untuk segera di periksa.

__ADS_1


Beruntung dokter kandungan yang kemarin mengoperasi Livia melewati UGD tersebut sehingga Livia bisa segera mendapatkan pertolongan pertama.


Bersambung...


__ADS_2