Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 28 : Sebuah Keputusan.


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Deni tersenyum kecut mengingat kenangannya yang sangat singkat, meskipun hubungan mereka juga singkat namun perasaan Deni sangat dalam untuk Livia.


###


Happy Reading and Enjoy Guys


Keesokan harinya pertunangan antara Radit dan Livia segera di laksanakan, berbeda dari tunangan sebelumnya yang masih di hadiri oleh beberapa orang. Kali ini acara pertunangan Livia hanya di hadiri oleh keluarga inti saja.


Di ruang tamu rumah Pak Zul. Hanya ada enam orang disana. Acara pemasangan cincin telah selesai di lakukan. Orang tua Livia dan orang tua Radit kembali berbincang-bi cang untuk membahas masalah pernikahan.


"Ada baiknya jika pernikahan kedua anak kita ini segera di lakukan. " Ujar Pak Zul.


"Kami juga inginnya seperti itu Pak Zul, maka dari itu kami sudah mempersiapkan beberapa hal, seperti gedung, katering dan sebagainya untuk acara pernikahan. " Ujar Mama Radit.


"Ah sepertinya hal seperti itu tidak usah di lakukan, lebih baik mereka berdua di nikahkan di rumah ini saja dengan hanya di hadiri oleh keluarga inti dan saksi. " Pak Zul mengeluarkan pendapatnya.


Pak Max dan Bu Ariana saling bertatapan.


"Kalau begitu kapan pernikahan anak kita akan dilaksanakan. " Kali iniPak Max yang bertanya.


"Bagaimana kalau lima hari lagi, kami juga butuh waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. " Ujar Pak Zul.

__ADS_1


Kedua orang tua Radit mengangguk, setuju.


"Baiklah kalau begitu, apa saja yang perlu kami persiapkan untuk kami bawa sebagai seserahan nantinya. " Tanya Pak Max lagi.


Livia dan Papanya saling bertatapan, seolah-olah mereka berdua memiliki kontak batin.


"Kami harus menyewa katering dan dekorasi untuk rumah dan membayar para saksi yang akan hadir dalam pernikahan kedua anak kita ini, maka dari itu saya sebagai orang tua dari pihak perempuan meminta uang sebanyak dua ratus juta, u untuk seserahannya Livia sendiri sudah punya catatan, apa-apa saja keperluan yang harus kalian bawa. " Jelas Pak Zul.


Orang tua Radit sedikit terkejut. Namun Pak Max segera memberikan kode kepada Bu Ariana, sepertinya mereka tidak terlalu menghiraukan uang belanja sebanyak itu.


Livia kemudian memberikan kertas berisi apa-apa saja seserahan yang ia minta, sambil tersenyum sinis ke arah Radit.


"Ah, apakah ini tidak terlalu banyak?. " Ujar Bu Ariana setelah melihat list permintaan Livia.


"Enggak kok tante, saya sama Radit udah diakusiin ini kok malah Radit yang ngasih saran ke saya buat minta seserahan itu. " Ujar Livia, memperlihatkan senyum termanis nya.


"Kena kau!. " Batin Livia sambil melirik ke arahbRadit yang langsung panik ingin membantah ucapan Livia. Namun, tatapan Pak Zul juga tidak pernah lepas dari Radit, seolah-olah mengancam laki-laki itu.


Ariana menatap anaknya, meminta penjelasan.


"AH iya ma, itu semua Radit yang saranin ke Livia. " Ujar Radit.


Mama Radit terlihat menghela nafas, sementara Pak Max nampak sangat tenang.

__ADS_1


"Baiklah, kalau hanya ini saya bisa mengurusnya. " Ujar Pak Max membuat Bu Ariana ndan Radit sedikit tertegun


Livia dan orang tuanya tersenyum senang mendengar orang tua Radit menyetujui permintaan mereka.


Radit terlihat sangat kesal karena merasa diperalat oleh Livia.


"Semua biaya Livia selama kehamilannya ini akan saya tanggung, begitupun dengan tempat tinggal dan kebutuhannya yang lain. " Ujar pak Max.


"Oh ya, baguslah kalau seperti itu. " Ujar Pak Zul.


"Karena Radit belum bekerja dan Livia belum cukup umur, kami sebagai orang tuanya akan melakukan yang terbaik dan semaksimal mungkin untuk membuat Livia nyaman. " Ujar Bu Ariana.


"Kalau begitu saya dan Mamanya Livia yang akan mengurus berkas-berkas yang di perlukan untuk pernikahan anak-anak kita, mengingat umur mereka yang belum cukup untuk menikah, saya harus mengurus beberapa surat izin terlebih dahulu. " Balas Pak Zul.


Keputusan sudah di buat oleh dua keluarga itu, Livia dan Radit akan dinikahkan tiga hari lagi.


Setelah acara tunangan itu selesai Livia mengajak Radit untuk berbicara di halaman belakang rumahnya.


"Apa-apaan sih kamu mau porotin aku yah?. " Pekik Radit setelah mereka sudah berada di halaman belakang.


"Porotin? Bukannya itu emang kewajiban kamu?. " Ujar Livia.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2