
Episode sebelumnya...
Hatinya merasa hancur sekali lagi. Mata Livia berkaca-kaca, gadis itu tidak tau harus melakukan apa lagi.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
"Livia?. " Panggil Deni.
"Livia... " Panggilnya sekali lagi.
Sejak tadi gadis itu hanya diam saja, menatap kosong keluar kaca mobil. Mereka berdua saat ini sudah berada di atas mobil Deni.
"Livia?. " Panggil Deni lagi, nada suaranya sedikit tinggi.
"Hmm." Gumam Livia.
"Kamu kenapa kok diam aja dari tadi? Katanya mau makan seafood? Kamu mau makan yang di restoran mana?. " Tanya Deni penuh perhatian.
"Terserah." Jawab Livia.
"Ya udah kita makan di dekat Mall yang pertama kali kita kencan itu yah. " Ujar Deni antusias.
"Hmm." Livia sekali lagi hanya bergumam, tidak mengatakan apa-apa.
Sesampainya di depan restoran itu Deni segera memarkirkan mobilnya dan mengajak Livia untuk turun dari mobil. Livia masih ogah-ogahan di pegang oleh Deni, gadis itu berjalan masuk duluan ke dalam restoran seafood tersebut, sementara Deni mengikuti dari belakang.
Baru saja Livia melangkah masuk ke dalam Restoran itu bau makanan laut langsung tercium, mengisi rongga oernafasan Livia.
Gadis itu menelan air liurnya, moodnya yang tadi sedang berantakan langsung merasa sangat senang.
"Deni, aku mau kepiting yang paling besar. " Ujar Livia, setelah mereka memilih tempat duduk yang pas.
"Oke, mau apa lagi selain kepiting??. "
"Aku mau cumi, tapi yang gak ada tintanya yah pokoknya harus bersih. " Ujar Livia.
"Ya udah tunggu sini yah, aku nangkao kepiting nya dulu. " Balas Deni segera pergi ke kolam khusus tempat kepiting-kepiting yang di jual oleh restoran itu, konsepnya memang pembeli yang akan menangkap atau memilih kepiting yang ingin di masak.
Hampir setengah jam menunggu hidangan yang telah mereka pesan sudah siap, Livia sangat sumringah melihat makanan yang tersaji di hadapannya.
Entah mengapaivia sangat bernafsu untuk menyantap kepiting yang ada di depannya, dari baunya saja pasti rasanya akan sangat menggugau selera.
Livia makan dengan lahap, gadis itu makan seperti anak-anak karena mulutnya belepotan saus dari seafood yang di makannya. Deni yang sedari tadi hanya diam saja, mengulum senyum melihat Livia makan dengan sangat lahap.
"Kamu gak ngabisin itu Den?. " Tanya Livia melihat makanan Deni yang belum habis setengahnya.
"Kamu mau?. " Tanya Deni.
__ADS_1
Livia menganggukkan kepalanya.
"Ya udah ambil aja, Hati-hati makannya. " Deni memberikan makanannya kepada Livia.
Nafsu makan gadis itu jadi sangat besar.
Setelah menghabiskan dan membayar makanannya mereka berdua kemudian kembali ke mobil Deni.
"Kamu senang?. " Tanya Deni, melihat ekspresi Livia yang sedari tadi terus tersenyum. Deni jadi merasa sangat senang.
"Hmmm." Livia menganggukkan kepalanya .
"Kamu gak ada mau beli sesuatu lagi?. "
Livia menggeleng kan kepalanya.
"Oke deh, jadi aku antar kamu pulang yah, biar kamu bisa istirahat. " Ujar Deni menyalakan mobilnya dan mealju menuju ke rumah Livia.
###
Livia yang baru saja habis mandi saat ini duduk bersama kedua orang tuanya di depan televisi, Mama Livia membantu anak gadisnya itu untuk mengeringkan rambut menggunakan hairdryer.
Suasana rumah Livia terlihat sangat tenang, hingga sebuah ketukan pintu dari depan rumah mereka terdengar.
Tok.. Tok.. Tok..
Tok.. Tok.. Tok..
"Coba Papa cek ke depan. " Jawab Silvia.
Pak Zul kemudian berjalan ke pintu depan rumahnya dan sedikit terkejut saat melihat seorang anak laki-laki sedang berdiri di sana.
"Siapa Kamu?. " Tanya Pak Zul.
"Sa-saya Radit Om. " Ujar Radit sesikit gugup melihat perawakan Pala Livia.
"Oh jadi kamu yang namanya Radit, sini kamu saya sudah nyari-nyari kamu selama ini akhirnya kamu datang sendiri yah. " Pak Zul segera menarik kerah baju Radit dan membawanya masuk ke dalam rumah agar para tetangga tidak melihat apa yang akan terjadi selanjutnya kepada laki-laki itu.
Pak Zul melemparkan Radit ke tembok ruang tamunya dan memberikannya satu pukulan.
"Kurang ajar yah kamu, berani sekali datang ke tempat saya seorang diri!. "Bentak Pak Zul, sekali lagi memberikan bogem mentah ke perut Radit.
" Ampun om, ampun saya datang kesini mau minta maaf sekaligus mau bertanggung jawab sama Livia om, ampuni saya. " Ujar Radit menutupi kepalanya.
"Ada apa ini pa? Kok ribut-ribut?. " Terima Mama Livia yang keluar dari ruangan keluarga disiusul Livia yang berjalan di belakang mamanya.
"Ini anak kurang ajar ini, akhirnya datang juga. " Pak Zul mengangkat Radit dan memaksanya berdiri.
"Radit?. " Livia sontak terkejut melihat wajah Radit yang berdarah.
__ADS_1
"Oh jadi kamu yang namanya Radit itu? Yang sudah menghancurkan masa depan anak saya? Kurang ajar kamu yah. "
Plak
Satu tamparan dari mama Livia mengenai wajah Radit lagi.
"Mama, mama udah itu mukanya udah berdarah. " Livia segera menahan mamanya agar tidak memukuli Radit.
"Pergi kamu Livia, masuk ke kamar biar mama sama papa yang kurus anak ini. " Ujar Mama Livia, emosi.
"Udah ma, pa berhenti, kepala Livia sakit kalau kalian berisik kayak gini. " Ujar Livia, menutupi telinganya yang terasa sakit dan berdengung mendengar keributan di rumahnya.
Radit kemudian di dudukan di atas sofa, sementara orang tua Livia dan Livia, duduk di depannya.
"Jadi kamu datang kesini karena mau bertanggung jawab? Kemana aja kamu selama ini? Saya cari-cari kamu, ternyata kamu bisa nongol sendiri! Kenapa nggak dari kemarin-kemarin kamu datang kesini? Hah?. " Bentak Papa Livia.
"M-maaf om, saya nggak tau kalau Livia hami jadi saya gak berani datang kesini. " Jawab Radit.
"Jadi, maksud kamu kalau Livia gaak hamil kamu tetap gak mau tanggung jawab gitu? Kurang ajar kamu yah! Harusnya kita laporin aja anak kurang ajar ini ke kantor polisi Pa " Mama Livia kembali histeris.
"Mama... . " Livia memelas memegang tangan Mamanya, ia tidak ingin kasusnya sampai ke kantor polisi, harga dirinya akan semakin terluka jika semua orang tau kalau dirinya hamil gara-gara di perkosa, Livia tidak ingin orang lain mengasihaninya.
"Saya tetap akan datang om, tante tapi.. Saya takut. " Ujar Radit lagi.
"Jadi, dimana orang tua kamu?. " Tanya Pak Zul penuh penekanan.
"Orang tua saya ada di luar negeri om. " Jawab Radit
"Bawa orang tua kamu datang kesini, kalau tidak jasad kamu yang akan saya kirim kesana. " Tegas Pala Livia.
"Baik om. "
Papa Livia kemudian menelpon salah stau orang kepercayaannya untuk mengirim email ke orang tua Radit yang berada di luar negeri, sekaligus memberikan ancaman jika mereka tidak datang, Radit tidak akan berakhir baik-baik saja.
Radit juga segera pulang ke rumahnya dan mencoba menghubungi orang tuanya untuk segera pulang ke Indonesia.
Pertunangan antara Livia dan Deni langsung di batalkan secara sepihak oleh orang tua Livia. Meskipun berat namun, sepertinya ini adalah jalan terbaik.
Orang tua Livia tidak ingin merasa berhutang budi kepada Deni yang dengan besar hati ingin menerima dan bertanggung jawab kepada Livia.
Papa dan Mama Livia berpikir akan lebih baik jika Radit saja yang menikah dan bertanggung jawab kepada Livia, karena bayi yang ada di dalam kandungan Livia, memanglah anak Radit, terlepas dari kesalahannya yang memaksa Livia untuk berbuat hal yang tidak senonoh itu, Radit lah yang lebih pantas untuk bertanggung jawab, bukan Deni.
Disisi lain, Livia yang mengingat ancaman Radit tadi siang tidak dapat melakukan banyak hal.
Livia berpikir mungkin memang akan lebih baik jika dirinya menikah dengan Radit dari pada Deni.
Bersambung..
Klok like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian yah.
__ADS_1