Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 42 : Bertemu Andra Lagi


__ADS_3

"Cih! Katanya nggak bikin kenyang tapi di bawa juga. " Omel Livia.


###


Setelah Radit berangkat ke sekolah, Livia berinisiatif untuk pergi berbelanja ke supermarket terdekat dari rumahnya.


Melihat isi kulkasnya yang hanya berisi sayur-sayuran, tomat dan wortel. Livia tidak terlalu mengerti bagaimana mengolah bahan-bahan tersebut.


"Apa aku pesan makanan dari luar saja?. " Lirih Livia.


"Ah tidak boleh, aku harus hemat untuk persalinan bayiku nanti, lebih baik aku pergi berbelanja saja dan memasaknya sendiri. " Ujar Livia kemudian.


Livia jadi merasa sedikit bersalah karena sudah menghambur-hamburkan uang dari mertuanya kemarin untuk membeli banyak baju.


Di banding membeli baku-baju tersebut harusnya Livia membeli makanan sehat yang sesuai dengan kebutuhan bayinya.


Beberapa waktu kemudian, kini Livia sudah berada di super market yang berada tidak jauh dari rumahnya.


Meskipun tidak terlalujauh, tetap saja Livia lebih memilih memesan taxi online dari pada harusberjalan kaki, mengingat dirinya saat ini sedang hamil.


Kurang lebih 30 menit, Livia selesai berbelanja. Karena sering menemani mamanya ke super market tersebut, sedikit banyak Livia sudah tahu apa yang harus dirinya beli untuk kebutuhan dapur.


"Aduh rame banget lagi. " Keluh Livia saat melihat antrian panjang di depan salah satu kasir .


Livia menengok ke sisi kasir yang lain, dan disana sepertinya tidak sepanjang antrian di tempatnya saat ini, Livia berinisiatif mendorong trolinya ke antrian kasir tersebut.

__ADS_1


"Eh, maaf Permisi." Ujar Liviasaat tidak sengaja trolinya mengenai seorang ibu-inu bertubuh gempal.


"Liat-liat dong, kalau jalan pake mata. " Balas ibu-ibu itu, ketus.


"Kan saya udah minta maaf Bu. " Balas Livia sambil terus mendoring trolinya ke sisi kasir yang lain tidak menghiraukan ibu-ibu tadi yang terus mengomel.


"Dasar ibu-ibu rempong. " Ujar Livia saat menengok ke arah ibu-ibu tadi yang sekarang masih menatap sinis ke arahnya.


"Eh Awas. " Tegur suara seseorang yang berada tepat di belakang Livia saat tubuh Livia tidak sengaja terdorong ke belakang karena ada orang lain yang menyerobot antrian di depannya.


Beruntung orang yang berada di belakang Livia tadi langsung menahan tubuhnya, jika tidak Livia bisa jatuh tersungkur.


"Ya ampun jangan asal nyerobot antrian orang dong. " Omel Livia. Kesabarannya yang setipis tisu hampir saja meledak.


Livia kemudian menengok ke belakang untuk melihat siapa orang yang menahan tubuhnya tadi.


"Livia... " Andra terlihat sama terkejutnya.


"Aduh makasih yah Ndra, kalau nggak ada kamu tadi pasti aku udah jatoh. " Ujar Livia.


"Iya sama-sama, kamu nggak apa-apa kan?. " Tanya Andra.


"Nggak kok. " Ujar Livia.


"Maju tuh, antrian di depan kamu udah maju. " Tutur Andra saat melihat antrian orang-orang di depan Livia sudah maju.

__ADS_1


"Ah iya yah, sory. " Balas Livia baru tersadar dari keterkejutannya tadi.


"Kenapa kamu belanjanya sendirian aja? Suami kamu mana?. " Tanya Andra.


"Ah dia lagi sibuk, ini aku inisiatif sendiri. " Jelas Livia.


"Oh gitu, mau aku bantuin ?. " Tanya Andra menawarkan bantuannya.


"Boleh." Jawab Livia.


"Ya udah kamu berdiri di samping aku aja, biar aku yang ditinggalkan troli kamu, pasti berat belanja sendirian. " Ujar Andra, Livia mengikuti arahan laki-laki itu dan berdiri di sampingnya.


Beberapa waktu kemudian, setelah pembayaran selesai di lakukan, Andra membantu Livia membawakan kantong plastik berisi belanjaa gadis itu.


"Makasih ya Andra, kalau nggak ada kamu, aku pasti bakalan kesusahan mesti ngangkat belanjaan sebanyak itu. " Ujar Livia.


"Nggak masalah kok, eh btw kamu udah makan?kita makan dulu yuk, nanti aku boncengin kamu pulang. " Tawar Andra.


"Boleh, mau makan dimana?. " Tanya Livia.


"Di seberang jalan aja. " Tunjuk Andra pada warung makan bubur ayam di seberang jalan.


Livia yang memang sedang merasa lapar, tanpa ba bi bu langsung menyetujui ucapan Andra.


"Ya udah ayo. " Ujar Livia.

__ADS_1


Andra dan Livia kemudian berboncengan menuju ke warung bubur ayam di seberang jalan itu.


Bersambung...


__ADS_2