Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 82 : Meninggal


__ADS_3

Livia merasakan genangan darah yang keluar dari sela-sela selangkangannya, lalu kemudian dirinya tidak sadarkan diri.


###


Alisa segera di larikan ke rumah sakit, tubuhnya terkulai lemas di atas brankar yang akan membawanya ke ruang gawat darurat. Untungnya ambulance segera datang dan membawanya ke rumah sakit.


Samar-samar Livia melihat para perawat dan dokter sedang mendorong brankar tempatnya berbaring saat ini, perutnya yang terasa sangat keram sekaligus sakit membuat Livia memgerang sejadi-jadinya.


"Tolong selamatkan istri saya..... " Terdengar suara Radit sangat khawatir dan takut sesuatu terjadi pada Livia.


Pintu ruang gawat darurat terbuka, Livia segera di masukkan ke dalam sana. Beberapa waktu kemudian kesadarannya kembali hilang, setelah merasakan sesuatu yang menusuk kulitnya.


Dokter menyuntikkan obat oereda nyeri pada tubuh Livia.


###


Radit menunggu di depan pintu ruang operasi, wajahnya nampak sangat cemas.


"Ini semua salahku, ini salahku... " Gumamnya, terus-terussan menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpa Livia, istrinya.

__ADS_1


Sesaat setelah mendengar keributan tadi dengan sekuat tenaga Radit keluar dari dalam kamarnya dan mendapati Livia sudah dalam keadaan tidak sadar sementara Sinta langsung memarikan diri.


Beruntung, Radit masih bisa meminta pertolongan pada seseorang yang lewat di depan apartement nya, sehingga Livia bisa langsung di bawah ke rumah sakit ini.


Tidak lama kemudian seorang dokter keluar dari dalam ruang operasi tersebut, Radit dengan susah patah mendorong kursi rodanya sendiri, mendekati dokter tersebut.


"Bagaimana kondisi istri saya dokter?. " Tanya Radit.


"Maaf, nampaknya keadaan isteri dan bayi anda kurang sihat, kandungan mesti segera dibersihkan . " Jelas dokter tersebut, berbahasa Melayu.


"Apa dok? Kandungannya harus di bersihkan? Maksudnya bayi kami meninggal?. " TmRadit nampak shock sekaligus takut jika Livia juga tidak selamat.


Dokter itupun mengangguk.


"Isteri kamu baik-baik saja, tetapi maaf kami tidak dapat menyelamatkan bayi itu. Keadaannya sangat membimbangkan dan dia meninggal dalam kandungan ibunya." Jelas dokter itu lagi.


Andika menghela nafasnya, antara ingin bersedih sekaligus senang. Sedih karena bayinya tidak dapat di selamatkan dan senang karena setidaknya Livia selamat.


"Apa saya sudah bisa melihat keadaan istri saya dokter?. " Tanya Radit lagi, memastikan.

__ADS_1


Radit nampak sangat tidak sabar.


"Boleh, kalau begitu saya permisi dulu


" Ujar dokter tersebut sembari berlalu pergi meni ggalkan Radit seorang diri.


Beberapa waktu kemudian Livia yang terbaring diatas brankar itupun ei bawah keluar, menuju ruang perawatan.


Radit tidak bisa berkata banyak, selain mengucapkan syukur di dalam hatinya karena masih bisa melihat Livia meskipun bayi mereka sudah meninggal.


Sesampainya di dalam ruang perawatan, Livia di pindahkan ke bangsal yang lebih nyaman. Matanya masih tertutup sangat rapat.


"Livia maafin aku.... " Lirih Radit, menggenggam tangan Livia erat-erat, merasa bersalah karena tidak dapat mencegah terjadinya insiden yang membuat Livia cekaka.


"Ini semua gara-gara aku nggak becus jagain kamu, harusnya aku yang ngelindungin kamu Livia...... " Ujar Radit merasa sangat bersalah.


Sementara dari kaca ruang perawatan itu, nampak Sinta sedang memandangi keduanya dengan tatapan yang sulit di jelaskan.


"Rasain, hahaha siapa suruh kamu nggak mau lepasin Radit buat aku, taukan rasanya kehilangan! Bentar lagi pas kami bangun, aku bakalan abadikan moment itu di dalam pikiran aku selamanya, rasain kamu Livia." Seru Sinta, tidak merasa bersalah sama sekali dengan tindakannya yang hampir membuat nyawa Livia melayang jika tidak segera di bawa ke rumah sakit.

__ADS_1


Sinta sama sekali tidak merasa menyesal sudah membunuh bayi Livia dan Radit yang tidak berdoa itu.


Bersambung...


__ADS_2