Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 65 : Menghukum Diri Sendiri


__ADS_3

"Apa yang harus saya lakukan agar anak saya bisa kembali pulih seperti sedia kala dokter? Apapun akan saya lakukan agar anak saya kembali ke kehidupan normalnya, tolong. " Ujar Bu Ariana, memelas.


###


"Untuk saat ini yang bisa kita lakukan adalah mengoperasi anak ibu, setelahnya kami akan merawatnya dengan semaksimal mungkin, agar ingatannya bisa segera pulih. " Tutur Doker Alvaro.


Bu Ariana menghela nafasnya yang berat.


"Kalau begitu, operasi anak saya sekarang juga dok. " Ujar Bu Ariana.


"Baik, tanda tangani berkas-berkas ini terlebih dahulu. "


Dokter Alvaro memberikan map yang berisi lembaran kertas persyaratan operasi Radit.


Tanpa pikir panjang Bu Ariana menandatangani berkas tersebut, lalu menyerahkannya kembali ke dokter Alvaro.


Dokter itupun segera bergerak ke ruang operasi untuk melakukan tugasnya.


"Saya permisi, ibu bisa menunggu di depan ruang operasi nantinya. " Tutur Dokter Alvaro, sebelum meninggalkan ruangan kerjanya.


Bu Ariana hanya mengangguk lesu, yang terpenting saat ini adalah anaknya harus di selamatkan.


"Aku akan membawa anakku berobat ke tempat yang lebih baik, setelah operasi. " Lirih Bu Ariana sembari mengambil ponselnya dari dalam tas lalu menghubungi mantan suaminya, Papa Radit.

__ADS_1


###


Sudah dua jam berlalu. Pintu ruang operasi itu belum terbuka. Para dokter dan perawat sedang melakukan operasi pada Radit.


Livia dan Deni saat ini sudah berada di ruang tunggu depan ruangan operasi tersebut. Sementara Bu Ariana berdiri di depan pintu, berjalan mondar mandir sejak tadi.


"Kalau ada apa-apa sama anak saya, kamu akan saya tuntut. " Pekik Bu Ariana, menatap kesalahan ke arah Livia yang sedari tadi hanya bisa duduk sembari menundukkan kepalanya.


Livia tidak berani menatap mertuanya itu. Posisinya saat ini memang sangat salah.


Deni hanya bisa menggenggam tangan Livia erat-erat, seolah memberikan transfer energi untuk gadis yang di cintainya itu.


"Livia? Kamu ok? Kita makan dulu yuk, nanti abis makan kita kesini lagi. " Ujar Deni.


"Nggak, aku nggak lapar, kalau kamu mau makan pergi aja! Aku tetap bakalan disini nungguin Radit keluar dari ruangan operasi itu. " Balas Livia, tegas.


Deni kembali hanya bisa pasrah, sudah berkali-kali dirinya mengajak Livia untuk sekedar mengisi perutnya dengan setetes air. Namun gadis itu seakan-akan menghukum dirinya sendiri karena rasa bersalah yang teramat besar telah mencelakai Radit.


"Kalau kamu lapar langsung bilang yah sama aku. " Ujar Deni lagi.


Livia kembali hanya mengangguk lemah, Deni tidak bisa melakukan banyak hal untuk memaksa gadis itu, selain terus berada di sisiNya.


Hampir satu jam berlalu pintu ruang operasi terbuka.

__ADS_1


Bu Ariana, Livia dan Deni sontak berdiri mendekati pintu operasi, menunggu dengan cemas dokter ataupun perawat yang akan keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana kondisi anak saya dokter?. " Cecar Bu Ariana, saat melihat dokter Alvaro keluar.


"Bagaiamana keadaan suami saya dok? Apa dia selamat?. " Timpal Livia.


"Apa pedulimu anak saya selamat atau tidak?. " Sentak Bu Ariana.


Livia terdiam, memundurkan tubuhnya selangkah. Bu Ariana bergerak maju menghadang dokter.


"Dokter bagaimana keadaan anak saya? Dia masih hidupkan?dia selamatkan? . " Cecar Bu Ariana sekali lagi.


"Syukurlah, operasinya berjalan dengan lancar meskipun harus memakan waktu yang cukup lama, operasi anak ibu berhasil. " Jelas dokter Alvaro.


"Apa saya bisa melihat anak saya dok?. " Tanya Bu Ariana lagi.


Dokter Alvaro mengangguk.


"Bisa, tapi nanti yah Bu, kalau anak ibu sudah di masukkan ke ruang perawatan, anak ibu harus banyak beristirahat untuk saat ini. " Jelas dokter Alvaro lagi.


"Ah terimakasih bayak dokter telah menyelamatkan anak saya. " Ujar Bu Ariana.


"Iya sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu. " Ujar dokter Alvaro berlalu pergi meninggalkan Bu Ariana melewati Livia dan Deni yang ikut merasa lega setelah mendengar Radit masih hidup.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2