Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 71 : Tidak Ingin Menyusahkan


__ADS_3

Kali ini giliran dirinya yang harus makan, bayinya yang ada di dalam perut juga butuh nutrisi.


###


Suhu ruangan di ruang tamu terasa amat pengap dan panas, Livia yang tidak terbiasa dengan suasana seperti itu sudah menghubungi pihak Apartement untuk memperbaiki ACnya.


Namun, sampai saat ini tidak ada satu orang pun yang datang untuk sekedar mengeceknya.


"Apa aku hubungin lagi aja kali yah?. " Gumam Livia.


Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya, namun pergerakan dari dalam perutnya membuatnya terduduk kembali.


"Ah aduh, kamu mulai nakal yah, mau usilin mama yah nak. " Ujar Livia, sembari mengelus-elus perutnya.


Bayi dalam kandungan Livia sudah lebih aktif menendang-nendang.


"Mama kaget tau, kalau kamu nendang tiba-tiba kayak gitu, kamu mau minum, susu lagi sayang?. " Livia berbicara dengan bayinya yang masih berada di dalam perut. Seolah bayinya itu sedang mendengarkan ucapannya.


Ada rasa hari sekaligus bahagia merasakan perkembangan bayinya di dalam perut, meskipun pada awalnya Livia todak menerima kehadiran bayi tersebut di dalam tubuhnya namun seiring berjalannya waktu Livia menyadari bayi itu adalah bagian dari dirinya yang sangat berharga.


Livia selalu berjanji kepada dirinya sendiri, akan menjaga dan membesarkan anaknya itu dengan jauh lebih baik ketika sudah lahir nanti.


"Livia.... "


"Liv, aku udah bangun. "


Suara Radit mengalihkan perhatian Livia, Laki-laki itu tiba-tiba saja keluar dari dalam kamar seorang diri.

__ADS_1


"Radit, kenapa nggak panggil aku aja buat bantuin kamu bangun, kamu butuh apa?. " Cecar Livia, beranjak mendekati Radit yang sedang melangkah dengan terpogoh-pogoh ke arah dapur.


"Nggak apa-apa Liv, aku nggak enak mesti nyusahin kamu terus, aku mau minum, kamu udah makan?. " Tanya Radit.


Livia dengan sigap memegangi tangan Radit, membantunya berjalan ke arah dapur.


"Aku udah makan kok, aku mau bikinin susu buat dedek bayi di dalam perut, kamu duduk aja biar aku yang ambilin air putih nya" Balas Livia.


Radit menggeleng.


"Aku bisa sendiri kok Liv, lagian udah dekat juga kamu istirahat aja, aku bantuin buatin susunya yah?. " Tawar Radit.


"Eh, tapi... "


"Livia, aku bisa kok, kamu jangan ngeraguin aku gitu dong kata kamu aku udah sembuh, plis yah biarin aku bikin susunya. " Pinta Radit.


Dokter menyarankan Livia untuk tidak menyinggung perasaannya, karena Radit akan rentan stress.


"Ya udah kalau gitu aku temanin kamu disini yah. " Ujar Livia.


"Nggak, mending kamu duduk aja di kursi sana, biar nanti aku anterin susunya yah. " Balas Radit. Tidak ingin menyusahkan Livia.


"Ta-tapi Dit... "


"Nggak ada tapi-tapian, aku bisa kok Livia percaya deh sama aku yah. " Ujar Radit, memotong ucapan Livia.


Livia kali ini hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Radit, ia takut ego laki-laki itu terluka dan membuat kesehatannya menurun. Dengan terpaksa Livia kembali berjalan ke tempat duduknya.

__ADS_1


PRANG


BRUK


"Ah aduh. "


Baru beberapa langkah berjalan, bunyi benda jatuh terdengar di susul suara mengurangi Radit.


Livia sontak berbalik dan benar saja, Radit duduk ke lantai dengan posisi memegangi kepalanya.


"Radit! Ya ampun, kamu nggak apa-apa kan?. " Livia histeris melihat suaminya yang kesakitan.


"Liv, to..long... "


Livia segera meraih tubuh Radit dengan susah payah mengangkatnya agar menjauh dari pecahan gelas kaca.


"Maaf Liv, aku nggak sengaja aku... "


Radit nampak merasa bersalah hingga tidak sanggup menyelesaikan kata-katanya.


"Udah nggak apa-apa kok, ayo aku bantu kamu masuk ke kamar lagi. "


Livia membopong Radit masuk kembali ke dalam kamar, tubuh Radit yang lumayan berat di tambah perut Livia yang sudah membessr membuatnya sedikit kesulitan, namun Livia tetap berusaha keras membantu Radit.


Padahal bisa saja gadis itu memanggil orang tua Radit untuk membantunya, akan tetapi ada perasaan segan dan tidak enak di dalam benak Livia untuk menyusahkan mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2