
Episode sebelumya...
Kontak Whatsapp yang Livia berikanpun tidak pernah Deni hubungi karena merasa Livia sangat sulit untuk tuk ia gapai.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
Hingga suatu hari, Deni yang terlambat pulang sekolah setelah kembali membantu penjaga perpustakaan untuk menyusun buku-buku yang berantakan, tanpa sengaja melihat Livia sedang berbicara dengan seorang laki-laki yang mengenakan pakaian serba hitam di dekat tempat mobilnya terparkir.
"Siapa orang itu?. " Lirih Deni, namun karena tidak mau terlalu mencampuri urusan Livia, Deni hanya memperhatikan kedua orang itu dari dalam mobilnya.
Hingga Livia terduduk ke tanah sambil menutupi wajahnya yang sedang menangis.
Laki-laki dengan pakaian serba hitam yang ternyata Andra itu terlihat sedang mengomeli Livia, hingga gadis itu menangis tersedu-sedu. Entah apa yang sedang terjadi di antara mereka berdua.
"Andra Sialan. " Deni merasa sangat emosi melihat perlakuan laki-laki-laki itu kepada Livia.
Tidak lama kemudian Andra terlihat akan pergi meninggalkan Livia nyang masih dalam kondisi terduduk sambil menutupi wajahnya, Deni segera turun dari mobilnya berniat untuk membantu gadis malang itu, namun ia melihat Livia segera berdiri dan menyeka air matanya.
"Aku butuh uangku kembali, mamaku bakalan marah besar kalau tau uangnya habis. " Teriak Livia menahan tangan Andra.
__ADS_1
"Uangnya udah gak ada, udah abis, udahlah Livia! Lupain aja semuanya, mulai hari ini kita putus!. " Bentak Andra menepis tangan Livia dengan kasar.
"Tapi Andra, aku masih cinta sama kamu, gapapa deh uangnya abis tapi plis jangan tinggalin aku gitu aja dong!. " Livia memelas.
"Aku udah punya pengganti kamu yang jauh lebih baik, aku juga udah pindah dari sekolah ini, pokoknya kamu mesti lupain aku dan hubungan kita berakhir sampai disini!. " Tegas Andra, berlaku pergi dan benar-benar meniggalkan gadis itu.
Livia kembali menutupi wajahnya, untungnya sekolah sudah sangat sepi sehingga tidak ada satu orang pun yang melihat Livia, kecuali Deni yang mengurungkan niatnya mendekati gadis itu. Deni merasa tidak enak hati jika tiba-tiba muncul bagaikan pahlawan kesiangan.
Livia bisa-bisa mengatainya sebagai tukang nguping, di tambah gadis itu pasti akan sangat malu jika ada orang lain yang melihatnya menangis, mengingat image yang di bangunnya selama ini sebagai gadis yang ceria dan idola para laki-laki-laki di sekolah.
Beberapa hari kemudian, setelah kabar tentang Andra yang menghilang tanpa jejak perlahan-lahan di lupakan dan di gantikan dengan berita heboh terbaru tentangivia yang sudah memiliki kekasih baru bernama Radit.
Deni yang mendengar kabar itu tidak terlalu heran mengingat Livia adalah gadis cantik yang populer di SMA 3 Dirgantara, tidak mungkin gadis itu akan terus-terussan terpuruk hanya karena patah hati.
"Dih gila, si Livia pacarin kakak kelas yang ganteng itu, bisa abis nih cowok-cowok keren di sekolah kita di pacarin sama si Livia. " Ujar Dina teman sekelas Deni.
"Oh, si Doi? Ya wajar aja sih, Livia kan cantik, bodynya ok, kaya lagi, mana ada cowok yang gak mau sama dia. " Timpal Lindi.
"Ah elah, paling juga cuman di jadiin piala bergilir, liat aja body sama rambutnya yang blonde itu, kayak cewek-cewek naka. " Sinis Dina.
Brak
__ADS_1
Deni menggebrak meja.
"Bisa diem gak!. " Tegur Deni. Telinganya terasa panas mendengar kedua teman sekelasnya itu asik bergosip tentang Livia.
"Ih santai dong. " Balas Dina.
"Udah gak usah di tanggepin, yuk kita ceritanya di kantin aja sambil makan. " Ajak Lindi.
Kedua gadis itupun berlalu pergi sambil terheran-heran melihat reaksi Deni.
"Hhuuuhhh." Deni menghembuskan nafasnya dengan kasar. Tidak mengerti dengan Livia yang selalu bergonta ganti pasangan, entah apa yang di cari oleh gadis itu.
"Apa dia mau balas dendam sama semua laki-laki hanya karena si Andra itu nggak balikin uangnya?. " Batin Deni menerka-nerka isi pikiran Livia.
Rasa penasaran itu menuntun Deni untuk mencoba menghubungi kontak Livia dan mereka mulai sering berkomunikasi.
Hingga mereka naik ke kelas 11, di suatu hari yang sangat cerah tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja Livia menghubunginya dan mengajaknya berkencan.
(Flashback off)
Deni tersenyum kecut mengingat kenangannya yang sangat singkat, meskipun hubungan mereka singkat namun perasaan Deni sangat dalam untuk Livia.
__ADS_1
Bersambung...