Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 59 : Tidak Ada Maaf


__ADS_3

Perasaan Livia saat ini jauh lebih tenang di banding beberapa jam sebelumnya, apalagi Deni sudah berjanji akan selalu meluangkan waktu untuknya, bahkan hingga bayinya lahir.


###


Sesampainya di dalam rumah, ternyata Mama Livia sudah menunggu kepulangan gadis itu.


"Mama?. " Sapa Livia.


"Eh kamu sudah pulang nak? Deni nggak mampir?. " Tanya Bu Silvia menengok ke arah luar rumah.


"Nggak, dia udah pulang, mama nungguin aku?. " Tanya Livia.


"Iya, mama mau ngomong sesuatu tentang Radit. " Ujar Bu Silvia nada suaranya terdengar serius.


Bu Silvia kemudian mengajak anak gadisnya itu untuk ikut duduk di sampingnya.


"Kenapa lagi laki-laki mesum itu. " Ujar Livia, malas jika harus membahas Radit terus-terussan.


"Tadi orang tuanya nelpon mama, Radit katanya mau lakuin apa aja asal kalian bisa rujuk lagi, ini yang mama mau tanyain sama kamu nak, kamu gimana?. " Tanya Bu Silvia hati-hati.


"Udahlah ma, nggak usah di respon lain kali kalau mereka ada nelpon ke mama atau ke papa nggak usah di angkat, Radit juga udah sering ngomong kayak gitu ke Livia, bahkan Radit udah janji bakalan ngerubah sikapnya tapi apa? Dia malah berbuat mesum sama perempuan lain!. " Pekik Livia.


Bu Silvia nampak menghela nafasnya.


"Mama serahin semuanya ke kamu nak, kalau kamu ngerasa keputusan untuk bercerai sama Radit bisa buat kamu lebih tenang, ya udah mama dan papa akan selalu ada buat kamu. " Balas Bu Silvia memeluk anak semata wayangnya itu dengan penuh kasih.

__ADS_1


"Tekadku udah bulat ma, aku nggak bakalan nerima dia lagi!. " Tegas Livia.


"Ya udah kalau gitu mama nggak bakalan bahas-bahas dia lagi, biar nanti urusan perceraian kamu papa yang urus. " Ujar Bu Silvia.


"Makasih ma. " Balas Livia sambil membalas pelukan mamanya.


###


Malam harinya. Livia yang baru saja akan memejamkan matanya, Tiba-tiba saja di kagetkan oleh dering ponselnya yang sengaja ia taruh di bawa bantal.


Ting.. Tong..


Ting.. Tong..


Suara dering ponsel Livia.


"Halo... " Ujar Livia.


Hening.


"Halo..... " Ujar Livia lagi.


Hening lagi.


"Kalau nggak mau ngomong aku matiin nih." Ancam Livia.

__ADS_1


Suara laki-laki yang sangat Livia kenal kemudian berbicara.


"Halo, Livia aku Radit Liv! Maaf aku tadi bingung mau ngomong apa, aku senang akhirnya kamu mau angkat telepon aku. " Ujar suara laki-laki itu yang ternyata adalah Radit.


"Brengsek, ku pikir siapa!. " Umpat Livia, menyesal tidak melihat nama kontak pada panggilan ponselnya tadi.


"Liv, aku mau minta maaf tolong kasih aku kesempatan Liv! Aku takut orang tuaku bakalan lepas tangan dan nggak peduli sama aku lagi, mereka juga udah tau tentang video itu dan mereka minta kita buat baikan Liv, tolong kali ini aja kasih aku kesempatan. " Pinta Radit.


Livia memutar bola matanya, merasa malas mendengar ucapan maaf yang keluar dari mulut Radit. Bagi Livia setiap kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki itu hanyalah bulshit.


"Hoammmmm." Livia menguap, pertanda gadis itu tidak mau peduli dengan apapun yang Radit ucapkan.


"Liv tol.. "


Klik


Livia mematikan sambungan teleponnya tersebut, lalu menonaktifkan ponselnya agar Radit tidak bisa menghubunginya lagi.


"Dasar brengsek, dengan mudahnya dia bilang maaf setelah apa yang sudah dia lakukan? Dasar laki-laki mesum! Kau pantas mendapat kan hukuman itu!. " Pekik Livia.


Livia sadar betul, orang tua Radit saat ini pasti juga ikut kesal dengan kelakuan anaknya itu, orang tua Radit bahkan ikut membujuk Livia agar mau berbaikan dengan Radit.


Namun, keputusan Livia sudah bulat. Tidak ada kata maaf untuk laki-laki tidak bertanggung jawab.


Sebenarnya bisa saja Livia langsung memblokir kontak Radit, namun karena urusan mereka belum benar-benar selesai jadi Livia memutuskan untuk menunda pemblokiran tersebut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2