Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 64 : Geger Otak


__ADS_3

"Selingkuh? Bukan saya yang selingkuh tapi anak mama, kecelakaan itu terjadi karena Radit yang memaksa Livia untuk bertemu ma, tapi Livia tidak mau. " Jelas gadis itu, suaranya menahan tangis.


###


Mendengar penjelasan tersebut, Bu Ariana nampak terdiam sebentar mencerna kata-katanya Livia barusan.


"Ah saya tadi terbawa emosi. " Ujar Bu Ariana kemudian melangkah dengan gontai ke arah bangku tempat Livia dan Deni tadi duduk.


Wajah Bu Ariana kini nampak sedih.


"Anak itu, ah mama tidak tau lagi harus melakukan apa padanya, seharusnya sebagai istri kamu bisa lebih perhatian kepadanya sehingga kejadian perselingkuhan itu tidak perlu terjadi, Livia. " Tutur Bu Ariana, suaranya pelan namun mampu menusuk hingga menembus jantung Livia.


Seakan-akan persingkuhan tersebut karena ulahnya.


"Nggak bisa gitu dong tante, Livia hamil juga karena Radit, yang harusnya lebih perhatian itu tuh Radit, bukan Livia. " Balas Deni membela Livia.


"Hah, sudahlah anak saya sudah celaka begini, harusnya dari awal saya tidak usah menikahkan Radit sama kamu. " Ujar Bu Ariana dengan suara bergetsr menahan tangis, tatapannya nampak sinis menatap Livia yang kini kembali terisak.


Bu Ariana kemudian pergi menemui dokter yang akan mengoperasi Radit. Sementara Livia dan Deni kembali duduk di bangkunya.


"Emang aku yang salah Den, aku yang nggak becus jadi istri! Aku... Hikss. " Livia tidak bisa melanjutkan kata-katanya, suara tangis gadis itu memenuhi ruangan tunggu di rumah sakit tersebut.


Deni hanya bisa memeluk Livia, mencoba menenagkannya sekali lagi.

__ADS_1


"Den, apa aku ikut mati aja? Biar aku nggak mesti merasa bersalah kayak gini?. " Tanya Livia di sela-sela tangisnya.


"Heh kamu ngomong apaan, kamu nggak kasian sama bayi kamu? Kalau kamu mati dia sama siapa? Kamu harus kuat Liv, Radit bakalan baik-baik aja. " Ujar Deni.


"Aku nggak bisa hidup tanpa kamu Livia, kamu harus tetap hidup. " Batin Deni, dirinya tidak berani mengungkapkan hal tersebut langsung kepada Livia. Melihat kondisi mental Livia saat ini sedang tidak baik-baik saja.


"Tapi, aku capek Den, penderitaanku kayaknya nggak abis-abis... Hiks. " Balas Livia.


"Aku tau, makanya aku akan selalu ada di sisi kamu. " Ujar Deni, tulus.


Livia kembali menyandarkan kepalanya ke dada Deni, menyembunyikan wajahnya yang kusut dan air matanya yang terus mengalir.


"Kamu tidur aja, kalau capek. " Ujar Radit.


###


Di isis lain, Bu Ariana yang kini sedang berada di ruangan dokter yang akan menangani Radit.


"Bagaimana kondisi anak saya dokter? Bukannya anak saya harus segera di operasi?. " Cecar Bu Ariana.


"Tenang-tenang duduk dulu bu, anak ibu sekarang sudah berada dalam penanganan, sebentar lagi kami akan melakukan operasi . " Balas Dokter Alvaro.


Bu Ariana kemudian duduk, raut wajahnya nampak sangat cemas.

__ADS_1


"Lalu untuk apa kita masih berdiam diri disini? Bukannya dokter yang akan menangani operasi anak saya?. " Ujar Bu Ariana lagi, tidak sabar.


"Iya Bu saya yang akan menangani operasinya, namun sebelum itu ibu harus saya beritahu dulu, kondisi anak ibu saat ini sepertinya mengalami gegar otak berat. " Jelas dokter Alvaro to the point.


Bu Ariana nampak shock.


"Apa? Gegar otak? Ya Tuhan anakku... " Histeris Bu Ariana.


Dokter Alvaro mengangguk.


"Sebagian ingatannya nanti mungkin akan hilang, anak ibu mungkin tidak akan mengingat semua orang tapi tenang saja! Hal itu tidak akan bertahan lama asalkan anak ibu dalam penanganan yang baik. " Jelas Dokter Alvaro.


"Maksud dokter anak saya akan lupa ingatan?. " Tanya Bu Ariana.


Dokter Alvaro kembali mengangguk.


"Iya, lebih jelasnya anak ibu akan mengalami Amnesia ringan dan bisa sembuh tapi membutuhkan waktu. " Turun Dokter Alvaro.


"Berapa lama?. "


"Ah saya tidak bisa menentukan berapa lama waktu yang di butuhkan agar ingatannya bisa kembali, yang paling penting saat ini anak ibu masih bisa hidup meskipun tidak akan senormal biasanya. " Jelas dikter Alvaro lebih lanjut.


"Apa yang harus saya lakukan agar anak saya bisa kembali pulih seperti sedia kala dokter? Apapun akan saya lakukan agar anak saya kembali ke kehidupan normalnya, tolong. " Ujar Bu Ariana, memelas.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2