Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 22 : Flash Back


__ADS_3

Episode sebelumnya...


"Ini yang terakhir kalinya ya Deni, mama izinin kamu keluar rumah!. " Tegas Bu Tania.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


Deni mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar ia bisa segera sampai di rumah Livia, waktunya tidak banyak karena tadi laki-laki itu harus mengerjakan tugas kelompok bersama teman-teman kelasnya terlebih dahulu.


Untungnya tugas mereka cepat selesai jadi masih ada waktu satu jam untuk Deni bisa menemui Livia. Sudah berhari-hari bereka tidak bertemu pesan bahkan teleponnya pun tidak pernah di gubris.


Disisi lain Deni juga sudah berjanji kepada mamanya, bahwa hari ini adalah hari terakhir dirinya akan keluar rumah. Deni di berikan hukuman skorsing selama tiga minggu dan akan mengikuti pembelajaran dari rumah, artinya Deni akan melakukan homeschooling selama tiga minggu tersebut di rumahnya.


Tidak lama kemudian mobilnya sudah sampai tepat di depan pagar rumah Livia, Deni segera turun dari mobilnya dan berlari kecil ke depan pintu rumah Livia.


Tok... Tok... Tok..


Tok... Tok... Tok..


Deni mengetuk pintu rumah Livia dengan tidak sabar. Terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah mendekati pintu.


"Deni?. " Livia sedikit terkejut melihat laki-laki itu.


Livia keluar dari dalam rumahnya dan mengajak Deni berbicara di halaman depan.


"Ngapain kamu kesini?. " Cecar Livia, judes.


"Aku mau liat keadaan kamu Liv. " Jawab Deni.


"Nggak usah datang kesini lagi, Mama kamu udah datang kesini dan hubungan kita udah benar-benar berakhir!. " Tegas Livia.


"Kamu ngomong apa sama Mama aku?. " Tanya Deni.


"Mama kamu gak bilang aku ngomong apa sama dia?. " Balas Livia.


"Livia, jangan balik tanya jawab aku!. " Tegas Deni, tidak sabar.


"Aku bilang ke Mama kamu kalau anak yang ada di dalam perut aku ini bukan anak kamu, dan aku juga udah jelasin ke dia kalau aku udah nemuin calon suami yang tepat buat aku sama anakku ini. " Balas Livia.


"Mama udah ngomongin itu, aku kesini juga mau dengar itu dari mulut kamu sendiri. Aku cuman gak habis pikir, Kenapa kamu harus ngomongin itu ke Mama? Kamu pernah nggak sih ngehargain usaha aku buat ngeyakinin Mama aku sendiri buat bertanggung jawab ke kamu? Kamu tau nggak aku juga dalam keadaan yang nggak baik-baik aja Livia, bukan cuman kmau aja yang menderita, aku juga. " Oceh Deni, meluapkan isi hatinya.

__ADS_1


"Yan makanya kamu gak udah datang kesini lagi, lupain aku!. " Bentak Livia.


"Livi, aku datang kesini tuh baik-baik cuman mau ngeliat keadaan kamu kenapa kamu harus sekasar ini?. " Ujar Deni.


Livia mendorong tubuh Deni dengan sedikit kasar.


"PERGI DARI SINI!. " Teriak Livia.


Deni yang mendengar itu sontak terkejut, mata mereka berdua sempat bertatapan selama beberapa detik.


"Oke, aku gak bakalan datang kesini lagi!. " Ujar Deni, datar.


Benerapa saat kemudian Deni mebalikkan badannya dan berlari keluar dari halaman rumah Livia.


Livia masuk kembali ke dalam rumahnya, emosinya saat ini sungguh tidak terkontrol, apalagi setelah melihat Deni. Livia merasa sangat kesal kepada laki-laki yang terlalu mencintainya itu. Livia merasa tidak pantas menerima cintanya.


"Maaf Deni. " Lirih Livia, sebelum menutup pintu rumahnya dengan kasar.


###


Deni mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak lama kemudian laki-laki itu sudah sampai di rumahnya sendiri.


Deni kembali mengingat-ingat kenangan saat pertama kali dirinya mengenal Livia.


(Flasch back on)


Penerimaan Siswa Baru.


Hujan gerimis turun membasahi bumi, meskipun begitu tidak mengirungkan niat para murid baru di SMA 3 Dirgantara untuk mengikuti ospek yang di adakan oleh panitia pelaksanaan penerimaan murid baru.


Livia adalah gadis yang sangat mencolok di antara para murid lainnya, rambutnya yang blonde khas campuran Indo-Belanda membuatnya terlihat lebih bersinar di banding murid-murid yang lain.


Hal itu pula yang membuatnya menjadi salah satu murid baru paling populer, perangainya yang ceria dan supel membuat siapa saja yang berkenalan dengan gadis itu akan langsung akrab dengannya.


"Hehhh, ngeliatin apaan kamu?. " Tegur Roni teman kelompok Deni selama masa ospek berlangsung.


Setelah berjam-jam berdiri di tengah lapangan, Ospek hari terakhir akhirnya telah selesai di laksanakan, tiga orang remaja itu sedang duduk di samping gerbang sekolah sambil menikmati semilir angin yang menerpa tubuh mereka, meskipun sedang gerimis hal itu tidak membuat tiga remaja itu ingin meninggalkan tempat duduknya saat ini.


"Ah hehe, enggak kok nggak ada. "jawab Deni gugup.


Roni yang mengetahui jika Deni berbohong kemudian mengalihkan pandangannya kepada seorang gadis yang sedang di kerumuni oleh murid yang lain. Roni sadar betul gadis itulah yang sedari tadi tidak berhenti di pandangi oleh Deni.

__ADS_1


" Oh, si Livia? Kamu naksir sama dia?. " Goda Roni.


"Ah apaan sih, enggak lah. " Jawab Deni.


"Ya elah, santai aja kali! Lagian si Livia anaknya emang cantik banget sih wajar aja kamu ngeliatin dia sampai gak berkedip kayak tadi, hahaha. " Goda Roni.


"Enak aja. " Balas Deni, cuek.


"Dengar-dengar dia udah di gebet loh sama kakak kelas kita. " Ujar Roni, memberikan informasi.


Mendengar itu Deni sama sekali tidak heran, mengingat Livia adalah gadis yang sangat cantik wajar saja akan ada banyak laki-laki di sekolahnya ini yang berlomba-lomba untuk mendapatkan hati gadis itu.


"Tau kok. " Jawab Deni.


"Eh dengar-dengar juga nih yah kalau mau deketin dia itu latar belakang keluarga kita mesti kaya tau!. " Timpal Budi yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapan Deni dan Roni.


"Masak sih?. " Tanya Roni, karena melihat Livia yang supel dan gampang akrab dengan orang lain membuat Roni berpikir jika gadis itu tidak akan terlalu pemilih.


" Ketinggalan informasi sih kalian, btw kakak kelas yang naksir dan jadi gebetannya si Livia itu anaknya yang punya toko elektronik terbesar di kota kita ini. " Ujar Budi.


"Wuahh yang bener?. " Tanya Roni.


"Beneran, kemarin katanya ada senior lain yang coba nyatain perasaannya ke Livia, tapi langsung di tolak mentah-mentah, soalnya katanya persyaratan untuk jadi gebetannya Livia, bapaknya si cowok itu mesti punya penghasilan yang banyak atau seenggaknya punya usaha yang ngasilin duit, kalau bapakmu cuman PNS biasa dengan gaji pas-pasan mending gak usah coba-coba deh, Livia gak bakalan ngelirik. " Oceh Budi panjang lebar.


"Lah emangnya kenapa mesti nanyain kerjaan bapaknya? Emangnya si Livia mau pacarin bapaknya tuh cowok juga?. " Ujar Roni.


"Ya nggak gitu juga kali, kan kalau bapaknya punya banyak duit otomatis anaknya juga kecipratan dong, liat aja penampilan Livia dari sepatu sampai rambutnya, barangnya mahal-mahal bro apalagi perawatannya, dia pasti nyari cowok yang bisa ngasih dia segalanya lah. " Ujar Budi.


"Maksud kamu, Livia matre?. " Tanya Roni.


"Nah itu, tepat sekali!. " Balas Budi.


"Tapi, emang wajar sih cewek kayak dia itu mesti matre, diakan cantik orang tuanya juga pasti bukan orang sembarangan, gak mungkinkan dia pacaran sama orang dari keluarga dengan latar belakang sembarangan juga. " Ujar Deni membela Livia, padahal ia sama sekali tidak mengenal gadis itu.


Menurut Deni, perempuan manapun di muka bumi ini wajar-wajar saja untuk memilah dan memilih laki-laki seperti apa yang mereka inginkan, begitu pula dengan laki-laki. Kalau tidak cocok yah tinggal di skip saja toh? Apa susahnya?.


"Akuu harap kamu tidak terlalu berharap bisa mendapatkan gadis itu Den, mengingat sainganmu adalah anak pengusaha elektronik itu, kalah telak kita. " Tutur Roni, yang menyangka Deni adalah murid dengan latar belakang ekonomi yang sama seperti dengannya karena bersekolah di SMA 3 Dirgantara ini melalui program beasiswa.


Deni hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Roni.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2